
Dwinda tak menyangka jika ia bekerja di rumah sakit bersama wanita bernama Maya. Istri dari CEO Ellad, Maya selalu terlihat muda walau umurnya sudah tua.
Ini kesempatan Dwinda untuk mendekati Maya, karena dengan cara mendekati istri Ellad, mudah bagi Dwinda masuk dalam keluarga sang CEO.
Wanita berbola mata coklat berusaha memperlihatkan keterampilannya di depan Maya, agar wanita tua berumur empat puluh tahun, bersimpati pada Dwinda yang begitu hebat dan cekatan.
Maya wanita keturunan Amerika, dengan postur tubuhnya tinggi dan berkulit putih, rambut berwarna coklat pirang, membuat siapapun yang melihatnya pasti terpesona.
Tidak pada Dwinda, terlihat ia begitu membeci Maya karena suaminya yang sudah membuat kehidupan Dwinda hancur.
Maka dari itu, ia ingin melihat Maya tersisihkan dan mati sia sia.
Itulah rencana pertama Dwinda.
"Hai, kerja kamu bagus. Saya suka dengan cara pelayanan kamu terhadap pasien. Siapa nama kamu?" Pertama kalinya Dwinda di sapa oleh Maya.
Ia menundukkan kepala, menampilkan rasa hormat pada Maya, karena ia tahu jika Maya adalah wanita pemilik rumah sakit yang baru saja ia beli.
"Nama saya Dwinda." Nama yang kini melekat dalam dirinya, menganti dengan sebuatan Dwinda membuat ia merasa nyaman.
"Kamu anak baik dan sopan, saya sangat suka." Puji Maya, melihat tingkah laku dan adab yang diperlihatkan oleh Dwinda, tentu saja membuat Maya kagum dan yakin jika menaiki pangkat di rumah sakit pada Dwinda.
"Terima kasih atas pujian ya, Dokter Maya," ucap Dwinda, setelah mendapat pujian dari Maya ia tersenyum sinin, merendahkan hati agar dipandang baik oleh Maya.
Obrolan Dwinda dan Maya seketika terhenti, saat Ellad datang menyapa sang istri.
"Sayang." Pelukan mesra dilayangkan tanpa rasa malu sedikitpun, Dwinda melihat pemandangan itu merasa jijik, ia baru pertama kali melihat lelaki tua yang begitu masalah terhadap istrinya.
Padahal papa dan Mamanya tak pernah melakukan hal seperti itu, makanya saat ia melihat pemandangan hal yang tak biasa dilihat, membuat dirinya merasa ingin mual mengeluarkan isi dalam perutnya.
"Sepertinya, lelaki bernama Ellad itu adalah dia." Gumam hati Dwinda.
Maya merasa malu, akan orang orang sekitar saling menatap kemesraannya dan sang suami.
Perlahan melepaksan pelukan dan pergi dari hadapan para dokter dan perawat.
. .
__ADS_1
Dwinda melihat kepergian mereka berdua merasa senang, ia bisa memikirkan cara mendekati Ellad.
Saat jam istirahat telah tiba, waktunya Dwinda keluar dari rumah sakit untuk segera mencari makanan.
Ia hanya menyendiri dibangku kantin, tak ada yang mau menemaninya, karena setatus Dwinda seorang anak baru.
Dwinda melahap makanannya dengan begitu santai, tak mempedulikan orang orang di sekitar. Terdengar membicarakannya.
"Dwinda, boleh saya duduk di sini, " sapa wanita bernama Maya mendekat pada meja Dwinda.
Terlihat satu kesempatan datang, membuat rasa senang dalam diri Dwinda.
"Oh tentu saja, Dokter Maya."
Dwinda tak menyangka jika Maya tiba-tiba datang dan meminta izin untuk duduk bersamanya.
Sang pemilik bola mata coklat itu tak perlu susah payah mendekati Maya, Karena Wanita itu datang sendiri dan mengakrabkan diri.
"Kok, kamu sendirian di sini?" tanya Maya. Melihat para pegawainya tengah menikmati makanan bersama teman-temannya, sedangkan Dwinda malam menyendiri, menjauhi para sahabatnya.
" Ibu tahu sendiri kan aku hanya anak baru jadi mereka menjauhiku!" jawab Dwinda, berharap
Wajah Dwinda terlihat begitu menyedihkan, membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa kasihan, apalagi Maya terlihat mengagumi pekerjaanya.
Maya wanita yang terkesan baik, kini mengucapkan suatu kata pada Dwinda." apa kamu mau berteman denganku."
Jawaban mengejutkan dan tentunya sangat dinanti oleh Dwinda, begitu mudahnya sosok seorang Maya didekati, sampai mereka kini menjadi dekat dan akrab.
"Bu Dokter bercanda, saya hanya anak baru yang berkerja di sini, masa berteman dengan Ibu pemilik rumah sakit ini."
Demi melayangkan rencananya agar lebih dekat dengan Maya, Dwinda tak segan segan. Membuat Maya semakin kagum akan keahlianya.
Semakin hari mereka semakin dekat, hingga suatu hari Maya mengajak Dwinda ke rumahnya.
Wanita pemilik bola mata coklat merasa senang, dan tentunya bahagia melihat rumah bak istana megah, mewah. Seperti ingin memilikinya, " rumah ibu begitu mewah."
Maya mengerutkan dahi dengan perkataan Dwinda, ia berucap pelan." Jangan panggil aku ibu. Kita kan teman walau usia kita jauh berbeda."
__ADS_1
"Rasanya tak sopan deh."
"Nggak papa, jarang jarang aku mempunyai teman seusia anakku."
"Anak, ibu?"
"Ya, aku mempunyai anak laki laki bernama Edric, biar nanti saya kenalkan dengan kamu, siapa tahu berjodoh."
Mendengar hal yang diungkapkan Maya, tidak membuat Dwinda tertarik, karena ia mengincar sang CEO Ellad.
Maya mulai mengajak Dwinda masuk ke dalam rumah, memperlihatkan betapa megahnya rumah Maya.
Rasa ingin memiliki semakin kuat terasa oleh Dwinda, Ia sudah tak sabar menantikan dirinya untuk menjadi seorang ratu.
"Sepertinya aku harus lebih cepat lagi menyingkirkan wanita bernama Maya itu, agar aku bisa menghancurkan Ellad membuat ia menderita." Gumam hati Dwinda.
"Dwinda, ayo aku mau tunjukan Edric kepada kamu. Pasti dia senang," ucap Maya menarik tangan Dwinda.
Terlihat Edric tengah menikmati makanannya, ia tersenyum melihat kedatangan sang ibu, Edric menyelesaikan makanannya berdiri dan menghampiri sang Ibu memeluk wanita tua itu dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
"Edric, sayang. Kenalkan ini teman mama, Dwinda. Dia dokter yang bekerja di rumah sakit mama."
Edric terlihat cuek saat Maya mengenalkan sahabatnya, tak ada ketertarikan sedikit pun. Sedangkan Dwinda merasa terpesona melihat Edric yang begitu sempurna.
Namun, Dwinda tak bisa mengubah rencananya, ia harus menikah dengan Ellad, menyingkirkan Maya terlebih dahulu. Kalau tidak Dwinda tak bisa membuat Ellad menderita terlebih dahulu.
Menyodorkan tangan, Edric tetap saja cuek. Dwinda yang melihat tingkah anak Maya, tentu sangat kesal, bagaimana bisa Edric menuruni sifat jelek papahnya yang cuek, sombong dan angkuh.
"Awas saja, akan kubuat kamu duduk di kursi roda." Gumam hati Dwinda.
Wanita dengan nama asli Dania itu, sudah tak sabar ingin membalaskan dendam yang semakin membara mengerumuti otaknya untuk cepat beraksi.
"Edric pergi ke kampus dulu," ucap Edric
berpamitan kepada Maya, melewati Dwinda begitu saja, terlihat sekali ada rasa tak suka pada Edric saat melihat sahabat ibunya.
"Dwinda, maafin anak ibu ya. Dia itu memang seperti itu, kayak Papanya. Cuek kalau ada tamu ataupun teman ibu yang selalu ibu bawa ke rumah."
__ADS_1
Wajah Maya yang terlihat awet muda, tak memperlihatkan bahwa dirinya sudah mempunyai seorang anak remaja berusia dua puluh lima tahun, Maya selalu terlihat seperti anak muda pada umumnya, karna postur tubuh dan perawatan kecantikan yang selalu ia rutin jalani.