
Dengan lancangnya mereka mengintip Dwinda, terlihat pintu kamar sedikit terbuka, raut wajah Dwinda memperlihatkan kekecewaaan. Para pelayan dengan senangnya mengintip dan membicarakan Dwinda.
"Lihat dia, menyedihkan sekali," ucap Maria, Lina yang melihat hanya menggaruk belakang kepalanya. Masih tak percaya akan letak ucapan Maria, ia terlalu lambat berpikir.
"Jelaskan mereka lagi bersedih, kalian ini bagaimana sih," balas Lina. Membuat para pelayan menatap ke arah sahabat yang terkesan menyebalkan, bagaimana tahan akan sifat beloonnya Lina yang semakin menjadi jadi.
"Lina." Semua orang berada di sana menatap ke arah Lina. Terlihat kesal dan murka.
"Kenapa?" tanya Lina, dengan raut wajah tanpa dosa. Ia begitu polos menatap sahabat sahabatnya yang sudah di landa kemarahan.
Mereka terlihat ingin mencincang sahabatnya itu, mentah-mentah. Tapi apa daya, tak kuasa karena merasa kasihan, Lina selalu membuat mereka sedikit frustasi. Karena tak pernah nyambung dalam mengobrol.
"Kalian ini kenapa sih, ngeliatin aku terus, memangnya aku kenapa. Terlalu cantik ya," ucap Lina membuat Ratna, menarik tangan sahabatnya.
Memasukkan Lina ke dalam kamar. Dengan emosi yang meluap luap, tak sabar ingin mendorong tubuh Lina hingga tersungkur jatuh.
"Ratna, kok. Kamu tarik aku sih," serga Lina. Membuat Ratna tak mempedulikan perkataannya. Ia menutup pintu kamar Lina dan bergumam dalam hati." kali-kali dia harus di giniin. Biar nggak bikin kesal orang."
"Ratna, kamu ini kenapa? Kok pintunya malah di kunci sih." Lina terus mengetuk pintu kamarnya, beberapa kali. Ia tak mengerti kenapa Ratna malah menguncinya. Padahal tak ada kesalahan yang ia perbuat sama sekali.
"Lina, kamu di dalam kamar saja, kalau nanti acara ngitipnya selesai, aku baru bebaskan kamu." Teriak Ratna pada Lina. Berharap jika sahabatnya mengerti, dan berusaha diam di dalam kamar tidur.
Kedua tangan Lina terus ia ketukan pada pintu, tak mau jika harus di kunci di dalam kamar, rasanya tak menyenangkan jika tidak ikut serta mengintip.
"Mereka itu kenapa sih, malah mengurungku." Gumam hati Lina. Kesal dengan kedua tangan yang masih mengetuk pintu kamarnya.
Ratna mulai menghampiri sahabatnya yang masih mengintip Dwinda dibalik pintu luar. Ia berjalan sembari berkata.
Maria melihat Ratna kembali lagi," bagaimana, sudah di amankan si Lina?"
Ratna memperlihatkan jempol tangan di hadapan Maria, mereka kini kembali mengintip sang nyonya.
Perasaan senang diliputi dari diri mereka semua, melihat sang Nyonya tengah frustasi berteriak-teriak dan juga menangis,
Semakin Dwinda terpuruk, semakin para pelayan senang, terlihat mereka begitu menikmati penderitaan sang nyonya.
Hingga dimana Dwinda berdiri dari tempat duduknya, dia berencana untuk mengambil air minum.
Sampai para pelayan berlarian, mereka ketakutan jika sang Nyonya mengetahui para pelayan tengah mengintip dirinya.
__ADS_1
Maria dan yang lainnya berlarian menuju ke dapur,
"Lari."
Dwinda merasa ada hal yang aneh di depan pintu kamarnya, perlahan ia mulai melihat keanehan di balik pintu kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, tak ada satu orang pun jadi balik pintu kamar Dwinda.
"Ada apa ya, tadi kok berisik."
Dwinda mulai berjalan menuju ke dapur, dimana ia melihat Ellad keluar kamar, kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Ellad."
Dengan terburu buru, Dwinda berlari, mengejar sang suami, hingga tangan Ellad teraih oleh Dwinda.
"Ellad, kamu ini kenapa, seperti sengaja menjauhiku, apa yang sekarang kamu pikirkan. Bicara sekarang kalau aku memang mempunyai salah kepadamu? Ayo katakan?"
Lelaki berambut putih itu berencana untuk keluar rumah sebentar, ia ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya.
Ellad tetap saja diam, saat Dwinda terus bertanya? Membuat lelaki tua itu dengan lancarnya membentang istrinya sendiri." Bisa tidak kamu ini jangan banyak pertanyaan? Aku muak."
Sang pemilik bola mata coklat, menutup mulutnya. Karena terkejut melihat sang suami berubah drastis, ia belum menyadari sepenuhnya. Jika Ellad sudah mengetahui kebusukannya.
"Aku pergi dulu. "
Ellad menampilkan wajah juteknya di depan Dwinda, meresa akan dirinya kini sudah tak di perdulikan oleh sang suami.
Kehadirannya seakan tak berarti, Dwinda berteriak." Kamu ini kenapa sih, Ellad.".
Dengan lancangnya Dwinda berteriak menyebut nama suaminya.
Sampai Ellad berbalik arah, menatap ke arah Dwinda. Berjalan begitu cepat, hingga Plakkk ....
Ellad tak segan segan, menampar Dwinda. Sampai pipi kiri Dwinda memerah.
Tangisan pecah dikala itu, dimana baru pertama kali Dwinda dapatkan tamparan dari sang suami.
"Kenapa kamu lakukan semua ini?"
__ADS_1
"Karena kamu tidak menghargaiku!"
Jawaban Ellad membuat Dwinda tercengang kaget, ia memegang pipi kiri yang masih terasa sakit bekas tamparan sang suami.
Ellad, kini pergi dari hadapan sang istri. Ia tak peduli jika wanita yang dulu ia cintai tersiksa akan sikapnya yang berubah drastis.
Bagi Ellad penghianatan tetaplah penghianatan, maka ia tak segan-segan menyakiti istrinya sendiri, karena terlampau kesal dan membuat amarahnya semakin meninggi.
Para pelayan yang melihat adegan tamparan, membuat mereka tersenyum senang," sepertinya Nyonya kita sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal akibat ulahnya sendiri."
"Dwinda, seharusnya menyadari kesalahannya, bukan malah bersikap angkuh di depan Tuan Ellad."
"Benar juga apa kata kamu, seharusnya ia merendahkan hati, mengakui kesalahannya. Agar Tuan kita itu tidak terus bersikap kasar terhadap istrimu."
"Bagaimana Dwinda menyadari kesalahannya sendiri, toh. Dia malah menyalahkan orang lain dan semakin jahat."
"Iya, dia tipe pendendam."
Ellad kini pergi menaiki mobil, Iya malas berada di dalam rumah apalagi selalu berpapasan dengan istrinya sendiri.
Menunggu Edric kemungkinan besar akan lama, apalagi anaknya baru saja pulang dari kampung halaman Aira, kemungkinan jarak menuju pulang sangatlah lama.
Maka dari itu Ellad, berusaha menenangkan pikiran, mencari sebuah hiburan agar dirinya tenang tak memikirkan penyesalan yang sudah terjadi.
Dwinda mencoba menyusul sang suami, ya terlihat panik dan juga gelisah. Karena Ellad tidak mengatakan. Apa alasan dirinya mendiamkan Dwinda berhari-hari.
"Aku harus situa bangka itu sekarang juga, ada yang heran dengan sikapnya, dia menjadi pemarah dan juga cuek terhadapku."
Saat menaiki mobil yang selalu ia bawa, Dwinda terkejut melihat ban mobil kempes.
"Loh, Kenapa bisa sampai kempes begini sih, makanya tadi baik-baik saja."
Dwinda berkaca pinggang sembari berteriak memanggil sopir sopir yang berada di rumah suaminya, ia tak mengerti sama sekali dengan pekerjaan sopir yang Hanya berdiam diri.
"Sopir."
Mereka datang dengan raut wajah tak biasa.
"Kalian ini kerjanya apa saja sih, sampai mobilku ini kempes begini?" tanya Dwinda, dalam raut wajah kesal.
__ADS_1
"Kami di perintahkan tuan!" jawab sang sopir, membuat ia terkejut.