
Aira dengan sengaja mengeluarkan katak dari kotak hadiah yang diberikan Carlos, katak itu melompat dari tangan Aira menuju paha Edric.
Edric berteriak sekeras mungkin, jantungnya berderak lebih cepat dari sebelumnya, kedua tangan mencoba menyingkirkan katak itu dari hadapannya.
Sang pemilik bola mata biru itu tak menyukai hewan bernama katak, apalagi katak itu terlihat sekali bau dan kotor, seperti sengaja mengambilnya dari sawah.
"Sayang kamu ini kenapa, ini kan hanya seekor katak."
"Singkirkan Aira dari hadapanku katak itu, aku jijik dan tak suka."
Printah Edric, membuat Aira menurut, gadis ber bola mata hitam itu langsung mengejar katak yang terus meloncat menjauh darinya. Aira yang sudah biasa hidup di desa, pernah Merasakan jijik ataupun takut terhadap makhluk yang bernama katak itu.
"Berhasil."
Setelah berhasil menangkap katak itu, Aira bergegas membuang hewan itu dari hadapan suaminya, ia tak tega melihat Edric ketakutan. Mencuci tangan mendekat ke arah suaminya.
"Kamu jangan takut, Edric itu hanya seekor katak."
"Walau pun hanya seekor katak. Tetap saja menakutkan."
Aira hanya bisa menatapi wajah suaminya dengan senyuman, baru kali ini Aira melihat seorang lelaki takut terhadap katak yang menurut begitu lucu.
Edric terlihat begitu trauma, ia mendekat dengan menggunakan kursi roda, membawa satu kotak hadiah dari Welly.
"Hey, sayang. Kamu mau kemanakan kotak itu?" tanya Aira, berharap jika Edric tidak membuang kotak hadiah dari sahabatnya yang jail. Karena Aira begitu penasaran, dengan isi dari kotak itu.
"Aku mau buang kotak ini, pastinya kotak ini ada hewan yang aneh dan menganggu!" Gerutu Edric, berusaha membawa pergi kotak besar itu.
Namun Aira menahan sang suami, agar tidak membuang kotak hadiah dari sahabatnya." Tunggu kamu janggan buang, kotak itu biar aku lihat apa isinya."
Aira menghentikan kursi roda suaminya, ia sengaja karena ingin melihat isi dari kotak yang diberikan Welly.
"Ayolah Edric, aku benar-benar penasaran ingin melihat isi kotak itu, cepat berikan kepadaku. Aku berjanji tidak akan memperlihatkan isinya kepadamu dan juga menakuti seperti tadi."
Aira sosok wanita yang selalu penasaran pada setiap hadiah yang diberikan oleh sahabat suaminya.
"Nggak, kalau nggak ya nggak, kamu ini bawel."
Aira dengan terpaksa merebut kotak besar itu, di saat suaminya tengah lengah.
Dan berhasil. Aira berlari seperti anak kecil untuk menjauhi suaminya, ya sudah tak sabar ingin melihat isi dalam kotak itu.
Mengusap Kedua telapak tangannya, perlahan membuka pita yang membungkus kotak itu.
__ADS_1
"Aira."
Mendengar suara suaminya memanggil, Aira dengan terburu-buru membuka isi dalam kotak itu.
Jreng .... Jerng.
Saat Aira lihat, betapa mengejutkan. Isi dari kotak besar itu, Welly memberikan sebuah tisu.
Entah apa tujuan, Welly memberikan tisu kepada Edric dan juga Aira begitu banyak.
Hingga rasa penasaran menyelimuti hati Aira, wanita desa itu membuka tisu yang berada dalam kotak itu.
Hingga satu helai kertas terjatuh dari bawah tisu yang baru saja diangkat oleh Aira.
"Surat apa ini."
Aira langsung membaca isi surat itu dengan perkataan yang sedikit kocak. " jangan lupa dilap, biar nggak basah. Stok buat pengantin baru."
Tulisan aneh bagi Aira, dan dipahami walau sedikit nyelene.
Aira keluar dari tempat persembunyian, dimana wanita desa itu dikagetkan oleh sang suami yang tiba-tiba saja berada di belakang punggungnya.
"Hayooo, ternyata kamu sembunyi di sini?"
"Aira, kalau kenapa kamu malah memberikan aku tisu sebanyak ini?" tanya Edric, Aira melipatkan kedua tangannya memperlihatkan isi kertas yang diberikan oleh sahabatnya itu.
"Coba kamu baca ini. "
Edric langsung membaca isi dalam kertas selembar itu.
Welly, benar-benar keterlaluan. Mereka bisa-bisanya bercanda di saat kedua pengantin dengan merasakan kebahagiaan.
"Sudahlah jangan ditanggapin, Emang dia orangnya seperti itu tak beda jauh dengan Carlos."
Edric menarik tangan istrinya, untuk duduk di pangkuan sang suami. Jelas Aira langsung terduduk, dimana Edric membawa istrinya masuk ke dalam kamar tidur.
"Edric, kamu."
Edric malah memainkan kedua alis, membuat Aira menatap sini ke arah suaminya.
******
Lucky, sudah sampai di kantor ayahnya. Ia segera mungkin menghadapi sang ayah, mendengar apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. Walau mungkin terasa membosankan.
__ADS_1
Apalagi Lucky tak suka jika sang ayah selalu menekan Lucky untuk kepentingan dirinya sendiri, tanpa melihat ke arah anaknya sendiri.
Lucky sebenarnya terpaksa merubah diri, Ia ingin melihat ketulusan sang ayah dan rasa kasih sayang ayahnya terhadap Lucky anak pertamanya.
Apalagi Setelah meninggalnya sang ibu, Lucky sangat berharap sekali kepada sang ayah.
Namun harapannya kosong, Lucky seakan tak di hargai sebagai seorang anak.
Rendy hanya mempedulikan kedua anak anaknya, sedangkan Lucky hanya di perintahkan untuk bisa menjadi dewasa dan mengalah pada kedua adik adiknya.
Setiap kali apapun yang adiknya mau, Lucky harus menjadi sosok kakak yang selalu mengalah, mana mungkin ada keadilan untuknya.
Sifat kelakia lakiannya menjadi berubah derastis, apalagi sang ayah yang seakan tak mempedulikan perasaan Lucky.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu dilayangkan oleh Lucky, dimana suara sang ayah terdengar.
"Masuk."
Perlahan membuka pintu, Lucky seperti melihat seorang musuh berbalik badan kearahnya, musuh bebuyutan bagi dirinya.
Wajah Rendy tetap sama ketika melihat Lucky, tidak berubah sama sekali, tidak ada keramahaan sedikit pun, Lucky terkadang enek melihat raut wajah sang ayah.
"Kenapa ayah memanggil saya?" tanya Lucky masih. Memperlihatkan kesopananya.
Rendy melihat Lucky yang berubah menjadi sosok seorang wanita, membuat dirinya mengingat sama istrinya yang sudah meninggal dunia.
Wajah Lucky sama seperti sang ibunda, saat Lucky berubah, semakin percis raut wajah ibunya nampak di diri Lucky.
Anak pertama Rendy, Lelaki tua dengan rambutnya yang kini sudah memutih, berdiri menatap tajam ke arah anak pertamanya.
Ia mendekat sembari memegang kedua bahu Lucky dan berkata," sampai kapan kamu akan merubah dirimu seperti lelaki biasa. Apa kamu tidak kasihan terhadap ibumu yang sudah mengurusnya dari kecil. "
Lucky tanpa murka Ketika sang ayah membahas tentang ibunya, seharusnya Rendy itu menjadi sosok Ayah yang penyayang, di saat kematian sang Ibunda.
Bukan malah menjadi sosok pilih kasih, mementingkan kedua adik daripada anak pertamanya.
"Jangan pernah ayah mengatur aku menjadi apa yang ayah inginkan. Ayah tahu sendiri kan, semua ini karena ayah sendiri, yang merubah kepercayaanku dan menganggap ayah sebagai pelindungku."
"Lucky, kamu ini salah paham Ayah tidak ada membuat hati kamu terluka, sama seperti Afdal dan Andi."
Brakkk .... Lucky terlihat muak ketika sang ayah menyebut nama kedua adiknya. Ia memukul meja hingga mengeluarkan suara yang begitu keras.
__ADS_1
"Cukup, jangan pernah bahas nama Kedua lelaki yang ayah agung-agungkan dan sayang."