
Dwinda berusaha bangkit, wajahnya memerah. Ia seakan malu saat semua orang memperhatikan dirinya. Ellad menghampiri Dwinda, istrinya mengira jika sang suami akan membantunya untuk berdiri.
Namun nyatanya Ellad malah berkata," jangan berani menyentuhku, ingat itu."
Deg ....
Ucapan Ellad membuat kedua mata Dwinda membulat, ia baru pertama kali melihat suaminya berkata seperti itu.
Sejutek juteknya, dan sedingin dinginnya Ellad. Tak pernah sampai mengatakan hal yang membuat Dwinda syok berat.
Telunjuk tangan sudah mengarah pada wajah Dwinda, dimana Maria tersenyum senang." Sudah aku duga. Orang jahat itu tak akan lama bahagia." Gumam hati Maria.
Edric dan Aira saling menatap satu sama lain, mereka heran kenapa bisa sang ayah memperlakukan istrinya seperti itu. Bukanya Ellad begitu tergila-gila dengan istri keduanya.
Namun, sekarang berbanding balik. Ellad seperti menganggap sang istri adalah musuh terbesar dalam hidupku.
Dwinda berusaha bangkit dan berdiri di hadapan suaminya, ia memegang telunjuk jari tangan Ellad.
Agar bisa berdiri dan sejajar dengan Ellad, " kamu kenapa, Ellad?"
Lelaki berambut putih itu berusaha melepaskan tangan istrinya, mendorong kembali tubuh Dwinda.
Namun Dwinda berusaha keras untuk tidak terjatuh, ia memegang jas kerja suaminya. Membuat mereka saling beradu bertatapan begitu dekat.
Tatapan Ellad begitu terlihat menyeramkan, membuat Dwinda merasa heran dan sedikit ketakutan.
Ellad bangkit, melepaskan tangan sang istri yang masih memegang jasnya.
"Lepaskan tanganmu itu dari jasku, cepat."
Tangan Dwinda tiba-tiba saja bergetar, mendapatkan bentakan dari suami. Dwinda merasa sakit hati akan perlakuan suaminya.
Kedua mata berkaca kaca, baru pertama kali ia menangis lagi ketikan menjalani pernikahan yang mengijak empat tahun.
Dwinda tak segan segan, menarik kerah baju Ellad, menangis dihadapan suaminya. " kamu ini kenapa? Memperlakukan aku seperti orang lain?"
Ellad dengan kasarnya, melepaskan tangan Dwinda dari kerah bajunya," jangan pernah katakan kenapa aku begini, jelas semua karena ulahmu sendiri."
Ellad, berusaha pergi dari hadapan sang istri, menghampiri Edric dan Aira. Dwinda melihat pemandangan itu, merasa tak terima. Ia murka.
Edric melihat pemandangan akan kedua orang tuanya yang bertengkar, membuat ia merasa heran. Karena biasanya Ellad dan Dwinda selalu memperlihatkan kemesraan mereka, tapi sekarang berbanding balik mereka bertengkar.
"Kenapa dengan Daddy." Gumam hati Edric.
__ADS_1
Ellad menghampiri kedua anaknya, " Daddy. "
Lelaki berambut putih itu menampilkan senyuman di hadapan sang anak," Ada yang ingin Dedyy bicarakan, sebaiknya kita masuk ke dalam rumah."
Mendengar hal itu, Edric kini menurut. Mereka mulai masuk ke dalam rumah. Dimana Dwinda berusaha berjalan gontai. Tubuhnya terasa lemas karena perlakuan yang tidak menyenangkan dari Ellad.
"Kenapa dengan Ellad."
Para pelayan sudah mengantarkan Aira dan juga Edric masuk ke dalam rumah, sedangkan Maria malah berjalan menghampiri Dwinda.
Ia tak puas jika tidak mengerjai Dwinda.
"Maria, kamu datang. Tolong aku," ucap Dwinda terlihat tak berdaya.
Maria memperlihatkan keramahannya, berusaha membantu Dwinda berjalan dengan merangkul tangannya.
Namun, setelah berhasil merangkul Maria.
Dengan sengajanya, Maria melepaskan tangan Dwinda yang sudah berada pada pundaknya.
Wanita pemilik bola mata coklat itu terjatuh kembali, Maria tertawa dengan melipatkan kedua tangannya. Ia seperti seorang bos di rumah itu, memarahi Dwinda seenaknya.
"Bagaimana rasanya, menjadi seorang sampah yang tersingkirkan?"
Maria berusaha tak mengerti, ia hanya menasehati Dwinda agar berubah menjadi wanita baik.
"Saya tidak tahu masalah anda dengan tuan, hanya saja saya ingin mengingatkan anda, kalau perlakuan tuan itu adalah teguran atas perilaku Anda terhadap para pelayan dan juga satpam di rumah ini."
"Kamu jangan sok bijak, Maria." bentak Dwinda. Bukanya sadar malah mengatai Maria seperti itu.
Dwinda begitu egois.
"Saya nasehatin anda, malah marah. Ya sudah, saya pergi dulu. Oh ya selamat akan hukum karma yang mulai berjalan. Saya hanya ingin mengatakan satu kata lagi, SELAMAT MENIKMATI. "
Maria berjalan pergi, meninggalkan Dwinda dengan posisi duduk di atas tanah.
"Sialan kamu Maria." Teriak Dwinda.
Maria sudah pergi menjauh dari hadapan Dwinda. Ia berlari menghampiri sahabatnya yang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
Dwinda menangis sejadi-jadinya, memukul-mukul tanah. Merasakan perihnya hidup, balas dendam yang gagal.
"Sungguh menyedihkan hidupku saat ini."
__ADS_1
Dwinda tidak mampu membuat Ellad hancur, ia hanya terpuruk akan kekesalanya. Menjadi seorang pecundang dengan memberikan kabar pada sang ibu bahwa dirinya kalah.
Suara ponsel berbunyi, Dwinda melihat panggilan telepon dari Lisa sahabatnya.
"Halo, Lisa ada apa?"
"Dwinda, rumah sakit di kepung polisi!"
Ini pertama kalinya, rumah sakit di datangi polisi.
"Kenapa?"
"Entahlah, sebaiknya kamu pergi dari rumah Ellad, semua dokter di sini di introgasi, mereka di beri pertanyaan oleh para polisi. Aku takut kejahatan kita terkuak sekarang?"
Dwinda menelan ludah, ia bingung. Kenapa bisa semua kebetulan sekali. Apa yang ia curigai benar, jika Ellad sudah mengetahui kebusukannya saat ini.
"Sepertinya kebusukan kita akan terbongkar sekarang, polisi mempertanyakan kematian Maya, padahal kasus ini sudah lama. Tapi sekarang dicari tahu kembali."
"Sekarang kamu ada di mana, Lisa aku ikut denganmu."
"Dwinda sekarang aku sedang berada di bandara. Maafkan aku, tidak bisa menjemputmu."
"Lisa, kamu jangan begitu. Lisa."
Panggilan telepon penting dimatikan sebelah pihak, Dwinda berusaha menelepon Lisa sahabatnya kembali.
Namun, wanita yang menjadi dokter dan menolongnya di saat kematian Maya.
"Sial, si Lisa ini. Kenapa bisa dia tidak mengangkat panggilan teleponku lagi."
(Maafkan aku Dwinda, kamu jaga dirimu baik-baik, aku tidak bisa menolongmu saat ini.)
Pesan dari Lisa datang, Dwinda ingin sekali melempar ponselnya, karena sang sahabat yang tidak berguna. Lari dari kejaran polisi.
"Bagaimana ini, sepertinya aku harus keluar dari rumah ini, sebelum polisi menyelidiki ku. Bisa gawat kalau aku masuk ke dalam penjara. " Dwinda merasa frustasi dengan dirinya sendiri, ia harus menerima frekuensi di saat kejahatannya sudah diketahui orang lain.
Mengacak rambut yang sudah tersusun rapi, Dwinda berusaha bangkit dari atas tanah. Saat bangkit kakinya terasa terkilir, Dwinda berusaha berjalan berjingkat, ia harus pergi dari rumah Ellad.
"Aku harus pergi dari sini, bisa gawat kalau aku terus terusan berdiam diri di sini. "
Menarik napas terasa sesak, Dwinda memaksakan diri untuk berjalan berjingkat menuju ke dalam rumah. Walau tanpa ia sadari darah bercucuran mengenai atas tanah.
"Bodoh, kamu Dwinda. Kalau kamu masuk ke dalam rumah Ellad bisa saja menahanmu saat ini."
__ADS_1
Dwinda mulai membuka pintu mobil, Iya tak peduli dengan ban mobil yang kempes. Terpenting bisa lari.