
Semua menyetujui apa yang dikatakan Dwinda. Rencana perlahan di susun dengan sangat rapi, tak ada jeda sedikit pun.
"Akhirnya mereka menurut juga, tak sia sia membuat fitnahan untuk Maya."
Rencana sudah dimulai, Dokter yang begitu sakit hati akan fitnahan Dwinda, mengadu domba Maya. Dengan beraniya menaruh racun, di saat jam makan siang.
Dwinda yang duduk di hadapan Maya, hanya tersenyum sinis, ia ingin melihat reaksi obat yang sudah diberikan dokter dalam makanan Maya.
"Ayo Dwinda makan, pasti ini enak deh."
Maya terlihat senang saat melihat makanan sudah tersedia di atas meja, ia dengan lahapnya memakan makanan yang sudah berisi racun.
Dwinda sudah menantikan apa yang akan ia lihat di depan matanya sendiri, seorang sahabat yang begitu mempercayainya, membuat Maya mati sia-sia.
Beberapa menit setelah makan, Maya kini menyelesaikan tugasnya kembali, ia segera mengecek pasien yang sedang ia tangani.
Memegang kepala, Maya kini terjatuh ke atas lantai, semua orang berpura pura panik melihat Maya tergeletak di atas lantai.
Dwinda dengan sengaja membiarkan Maya tanpa bantuan oksigen atau infusan, ia membiarkan Dwinda hanya tertidur di ranjang rumah sakit.
"Dwinda, tolong aku. Kepalaku rasanya sakit sekali, apa kamu bisa membantuku," ucap Maya meminta tolong pada sang sahabat.
Reaksi rancut dalam tubuh Maya, bekerja agak lambat," Maya, ini adalah waktu kematianmu."
Maya yang merasakan rasa sakit, mengerutkan dahi, masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Dwinda.
"Dwinda, kamu."
Dwinda mulai membisikan sesuatu kepada Maya sahabatnya," aku sudah membuat semua dokter di sini benci kepadamu dengan begitu mudah, mereka berkerja sama denganku kamu tahu itu."
Maya menelan ludah, perut dan kepala terasa begitu menyakitkan ia rasakan." Kamu tega Dwinda, selama ini aku begitu mempercayai kamu. Tapi kamu begitu kejam, Dwinda."
Wanita pemilik bola mata coklat itu kini menempelkan jari tangan pada Maya, agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun, "sudah cukup ya sayang. Jangan bicara lagi, aku sudah bilang sama kamu, ini hanya sementara kamu rasakan saja dulu. Perlahan kamu tidak akan merasakan rasa sakit lagi, dan pergi begitu saja selamanya."
Maya terlihat begitu lemas, ia tak mampu melawan. Sampai di mana ajalnya datang menjemput, Dwinda berpura pura menaruh infusan dan oksigen, mengobati Dwinda.
Di saat Ellad datang, ia berlari menghampiri sang istri. Terlihat Maya sudah tak bernapas lagi, hancur remuk jantung lelaki tua berambut putih itu, ia menangis sejadi jadinya, " Maya, bangun. Maya."
__ADS_1
Membangunkan sang istri, tapi Maya tetap saja tak bangun, " Maya, bangun sayang."
Memegang kepala sang istri, memeluknya dengan begitu erat," Maya, sayang."
Ini kesempatan Dwinda untuk dekat dengan Ellad.
Dwinda memegang bahu Ellad," pak."
Ellad sepontan membalikkan badan ke arah Dwinda dan bertanya?" kenapa istriku jadi seperti ini, apa yang kalian lakukan, tadi di rumah dia tidak kenapa kenapa?"
Dwinda berusaha tenang dengan kemarahan Ellad, ia tetap menampilkan wajah sedihnya agar tidak dicurigai oleh Ellad.
"Kami sudah berusaha menyelamatkan istri anda, tapi saat kami bertindak istri anda sudah tidak bernyawa lagi, kami juga tidak tahu penyebab kenapa istri anda tiba-tiba seperti ini, " jelas Dwinda, berharap jika Ellad mengerti dan tak banyak mencari tahu penyebab meninggalnya Maya.
"Maya, kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku," ucap Ellad menangis memeluk mayat sang istri.
Dokter berusaha menampilkan wajah sedih mereka, padahal dalam hati mereka sangat puas melihat kematian wanita bernama Maya itu.
Akibat termakan omongan Dwinda, mereka seperti tidak punya hati, tega membuat satu orang meninggal dunia.
Para perawat mulai membawa jenazah Maya untuk dimandikan, tapi sang Suami masih tetap ingin bersama istrinya.
Edric baru mendengar berita kematian ibunya, dia datang terlambat. Untuk melihat mayat sang Ibunda, langkah kaki terasa rapuh. Tubuh melemas, Edric seakan syok berat melihat mayat Maya masih dalam pelukan Ellad.
"Mommy, bangun. Mom," ucap Edric, menangis histeris. Tubuhnya terasa lemas, sampai Edric jatuh pingsan.
"Edric."
Ellad tak menyangka jika anaknya akan lebih syok berat dari dirinya.
Dengan sigap Dwinda, menyuruh para perawat membawa Edric untuk segera di periksa.
Dwinda semakin senang rencananya berjalan lebih mulus.
Waktunya ia menyuntikkan obat pada kaki Edric anak Maya, agar lelaki tampan itu merasakan penderitaan sebagai anak Ellad.
"Sepertinya semakin mengasikan." gumam hati Dwinda.
__ADS_1
sang pemilik bola mata coklat itu mengikuti perawat yang membawa Edric ke ruangan.
setelah sampai di ruangan, Dwinda menyuruh para perawat untuk keluar, ia akan menangani
Edric.
Dwinda mengambil jarum suntik, mengisikan obat yang sangat berbahaya.
Dwinda seakan tak punya hati nurani sedikitpun, Iya begitu kejam dan tega menghancurkan keluarga Ellad.
Tanpa mencari tahu terlebih dahulu, kenapa Ellad bisa membatalkan kerjasama antara kedua orang tua Dwinda.
wanita ber bola mata coklat itu terlalu terburu-buru, ia tak memperdulikan risiko yang terjadi pada dirinya.
Yang terpenting orang yang sudah membuat ayahnya bangkrut, akan mendapat sebuah penderitaan yang dibuat oleh Dwinda sendiri.
"Siap siap, dapat suntikan dari dokter Dwinda."
Edric masih tertidur, hingga degan gampangnya Dwinda menyuntikkan obat yang sangat berbahaya pada kedua kaki Edric.
"Sepertinya ayahmu, akan menanggung semua rasa malu, karna anaknya lumpuh. Owh kasihan sekali nasib kamu Edric."
Setelah melayangkan aksinya, Dwinda pergi meninggalkan ruangan Edric, Dia segera mendekati suami sahabatnya, agar bisa mengambil hati Ellad yang sekarang tengah terluka.
Dwinda harus bisa menjadi istri Ellad, agar dengan gampangnya, Dwinda menghancurkan Ellad secara perlahan, begitupun dengan keluarga Ellad satu satunya, ialah Edric.
Dwinda masih melihat Ellad menangisi istrinya, padahal para perawat sudah menunggu begitu lama untuk memandikan jenazah Maya. Wanita berbola mata coklat kini mendekat pada Ellad, memberi pengertian pada lelaki berambut putih itu.
"Tuan Ellad, maaf sebelumnya. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa waktunya jenazah di mandikan." ucap Dwinda. Berusaha memberi pengertian pada Ellad.
Lelaki berambut putih itu, seperti tak mempedulikan ucapan Dwinda. Ia tetap saja memeluk mayat sang istri dengan menangisi penuh kesedihan. Tak ingin kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
"Apa kamu tidak bisa mengerti, kalau aku ini ingin bersama istriku lebih lama."
Dwinda menarik napas secara perlahan, padahal tadi sudah mulai di mandikan, tapi Ellad seperti orang tak waras, menghampiri lagi sang istri dan memeluk tubuhnya.
"Tapi pak, saya takut jika mayat istri bapak nanti."
__ADS_1
Ellad seakan kesal dengan jawaban Dwinda, ia menatap tajam ke arah wanita yang mejadi sahabat Maya.
"Aku sudah bilang sama kamu, biarkan aku bersama istriku dulu sebentar."