
Siska, memeluk kedua lututnya terdengar suara kedua orang tuanya, masih tak percaya dengan pengakuan Edric jika dia mempunyai seorang istri.
Dunia terasa tak adil bagi dirinya, pernikahan Edric baru satu bulan. Sedangkan Siksa sudah memendam cinta selama satu tahun, ia kalah cepat. Bodohnya kenapa tidak mengungkapkannya dari dulu.
"Hah, Edric. Kenapa pernikahanmu di privasi segala, kalau aku tahu kamu sudah menikah dari awal, jadi aku akan berusaha berhenti berharap."
Kedua orang tuanya masih berteriak, ia berusaha menutupi semua kesedihannya dengan mengacak rambut, menutupi Vas bunga yang berserakan di atas lantai.
Berpura pura mengantuk seperti orang bangun tidur.
"Siska, kamu kenapa nak?"
Teriakan kedua orang tuanya terdengar keras, Siksa langsung membuka dan melihat kepanikan kedua orang tuanya.
"Siska, kamu tidak kenapa kenapa kan?" tanya sang Ibunda, memegang bahu anaknya. Sedikit mengoyang goyangkan, agar Siska menjawab dengan jujur.
Siska beberapa kali menguap, berpura pura jika tidak terjadi apa apa, menutupi air mata kesedihannya. Mengusap-ngusap kedua mata, melihat ke arah sang ibunda.
"Kalian ini kenapa? Tidak terjadi apa apa kok dengan Siska, perasaan kalian saja mungkin," ucap Siska, menutup mulut karena menguap. Merasakan rasa kantuk.
Sang ibunda memegang kedua pipi anaknya, berharap jika Siska berkata jujur tidak ada yang ia tutup, tutupi.
"Jujurlah Siska, jangan tutup tutupi kesedihanmu itu. Lihat saja kedua matamu bekas menangis."
Tidak satu pun seorang ibu yang tak peduli, mereka begitu peduli pada anak anak mereka, apalagi pirasat mereka begitu kuat, ketika sang anak merasakan kesedihan.
Siska mencoba menyingkirkan kedua tangan ibunya, yang memang dalam kenyataannya Siska tak bisa menutupi bahwa dirinya habis menangis.
"Mama, ini ngomong apa? Siska ini nggak habis menangis kok, perasaan mama aja."
Naluri seorang ibu tak bisa dibohongi, ia memeluk anak semata wayangnya. Berusaha tetap menjadi ibu yang peduli di saat kesedihan melanda sang anak.
"Mulut kamu bisa berbohong dan menutupi kesedihan kamu sendiri, tapi hati kamu ini. Mama sudah tahu."
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, memang pelukan seorang ibu yang ia butuhkan saat ini.
Menopang rasa sesak, menahan kesedihan di dada. Hati Siksa sedikit tenang jika ada pelukan kehangatan dan kasih sayang dari ibunya sendiri.
Mengusap pelan rambut kepala sang anak dan berucap kembali," tenangkan dulu hati kamu, setelah tenang baru kamu bisa datang pada mama dan ceritakan semuanya."
Dalam pelukan Siska ingin sekali menangis, tapi ia malu. Berusaha menahan dan berkata." Iya, mam."
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang cepat tidur. Ini sudah jam tiga, kamu besok harus mengajar."
Pelukan itu terlepas dan Sisak menganggukkan kepala, seperti anak kecil yang merasa butuh di temani sang ibunda.
"Kenapa? Mau mama temanin."
Wanita tua itu menawarkan untuk tidur bersamanya.
Sedangkan sang ayah terdiam." Lah kalau kalian tidur bersamaan, papah tidur di mana?"
"Mm, papa ini kaya anak kecil saja. Kan bisa tidur di ruang tamu, atau kamar tamu sehari dulu!"
balas sang istri, membuat bibir lelaki tua itu mengerut.
Sesekali ia menguap, merasakan kantuk yang lumayan pada dirinya.
"Ya sudah, papa mau tidur dulu. By."
Siska ikut serta sang ibunda ke kamar, ia merasa paling beruntung di saat dirinya merasakan rasa kecewa ada dukungan dari sang ibunda yang selalu sabar denganya.
Masuk ke dalam kamar tidur, mereka mulai merebahkan tubuh. Wanita tua itu, menyuruh anak semata wayangnya untuk segera tidur. Sampai dimana Siksa bercerita.
Wanita yang menjadi dosen itu menangis, sembari menatap sang ibunda. Padahal dari tadi ia berusaha menahan luka hatinya, untuk tidak bercerita, karena ia tahu dirinya bukan berada di fase anak muda. Melainkan wanita dewasa yang pastinya bisa memecahkan masalah sendiri.
Tangan sang ibunda merangkul punggung anaknya, memeluk erat. Di saat hati sedang sakit, sendirian. Merasa kecewa, cukup kata dukungan dan semangat yang dibutuhkan.
Bukan sebuah nasehat, dan sebuah ucapan. Melainkan kehagatan dan kata kata semangat.
"Kamu luapkan saja kesedihanmu itu, Siksa. Mama tahu jika hatimu kini merasakan rasa sakit, tak perlu bercerita, mama tahu kamu sedang tidak baik baik saja."
Tangis terus diluapkan Siska, wanita bergelar sebagai dokter itu, hanya bisa memendam bulat bulat rasa sesalnya.
"Sudah nangisnya."
Siksa kini melepaskan kembali pelukan sang ibunda, ia sedikit tenang dan tidak terlalu memikirkan Edric.
Sang ibunda menyuruh Siska untuk segera tidur, dan melupakan hal yang menyakitkan hatinya, agap semua itu hanya mimpi buruk.
Walau memang semua itu tak mudah dijalani, tapi dengan kata berusaha, semua masalah pasti bisa teratasi, hanya perlu ikhlas dan sabar.
Semua butuh peroses untuk menjadi lebih baik lagi, " bagaimana apa tidak ada rasa sesak di hatimu sekarang, Siska."
__ADS_1
Siska menggelengkan kepala, didepan sang ibunda. Ia mengusap pelan air mata yang terus terurai jatuh menuju dasar pipi," ya sudah kuatkan hati, jangan semua jadikan kamu beban ya sayang."
"Iya, ma." Siksa mulai menutup perlahan kedua matanya, pada akhirnya Siska tertidur pulas, sedangkan sang ibunda hanya bisa mengusap pelan kepala anaknya dengan lembut.
**********
Wanita tua itu perlahan bangkit dari tidurnya, ia ingin tahu sebenarnya kenapa dengan anaknya itu. Sampai histeris dan mengamuk.
Perlahan Ibunda Siska berjalan keluar kamar, setelah melihat anak semata wayangnya tertidur pulas di dalam kamarnya.
Saat hendak membuka pintu kamar, lelaki paruh baya mengagetkannya, " papah ini apa apaan sih, ngapain coba malah berdiri di depan pintu."
"Mama, papa nggak betah tidur di ruang tamu banyak nyamuk."
"Ya elah pah, masa iya sih. Kan pake AC gimana sih papah ini."
"AC ya mati."
"Oh, ya mama lupa benerin AC tadi siang karena sibuk ngurus uang arisan ibu ibu."
"Haduh, ya gimana papa bisa tidur kalau begini urusannya, papakan. Pagi harus berangkat ke kantor ada jadwal metting."
"Iya iya, mama tahu. Ya sudah tidur di kamar tamu saja, nanti mama siapkan semuanya. Biar papa nyaman tidur di sana."
Wanita tua itu bergegas pergi ke kamar tamu, untuk memasang seprai yang belum di pasang, menyalakan AC yang begitu terasa amat sejuk.
Lelaki tua yang menjadi suaminya datang, merasa nyaman melihat kamar sudah tersedia rapi. Dimana ia menarik tangan istrinya untuk tidur di dekapnya.
"Papah, ini lepaskan mama. Ih."
"Ya elah mama, Siska kan sudah tidur jadi aman aman aja kan, yuk. Kita main dulu sebentar. "
"Nggak bisa pah, nanti Siska bangun nyari mama ayo gimana, mainnya nggak beres."
"Mm, iya iya."
"Nah gitu dong, mengalah demi anak. "
Terdengar suara Siska memanggil membuat, wanita tua itu mendorong tubuh suaminya.
"Ya elah mah, Siska udah gede juga."
__ADS_1