
Ellad hanya diam, tanpa membela sang istri sedikit pun dihadapan Dwinda. Ia lebih banyak mengalah dari pada harus berdebat seperti dulu, rasanya takut jika nanti hubungan baik akan terpecahkan karena membela satu belah pihak.
Kedua anak anaknya sudah pergi menjauh dari meja makan, tak ada senyuman ditampilkan Edric pada saat ia datang dan pergi. Seperti dunia terasa tak berarti.
Mengendong cucunya pun seakan penuh dengan keraguan, karena sifat Edric yang terlihat murka ketika melihat Dwinda.
"Kamu lihatkan, anakku dari dulu tidak bisa menerima kamu dikeluarga ini. Kamu tahu karena apa? Karena kejahatan kamu benar benar di luar batas."
Ellad, memukul meja makan, berdiri dan pergi dari hadapan istrinya.
"Papih."
Panggilan Dwinda diabaikan begitu saja oleh sang suami, seperti tak ada artinya. Kedua mata berkaca kaca, di meja makan besar dipenuhi makanan beraneka macam, membuat Dwinda tak berselera.
Perjuangan Dwinda hanya untuk meminta maaf sangatlah berat, ia memang menyadari kesalahanya, setelah lahirnya sosok seorang anak perempuan bernama Putri.
Air mata seketika tumpah, saat kata kata Edric terbayang kembali dalam pikiran Dwinda." Begitu hinanya aku di mata keluarga ini, tapi aku tak boleh menyerah demi permintaan maafku."
Tangisan redup, saat sosok bayi mungil menangis. " Putri, sayang. Cup, cup."
Dwinda mengendong anak pertamanya, ia mencium dan berkata." Jangan nangis ya. Mommy tahu kamu merasakan apa yang mommy rasakan."
Memeluk dan Dwinda kembali, memakan masakanya yang tak tersentuh sedikit pun. Dengan menahan tangis, suapan demi suapan ia layangkan pada mulutnya agar mempunyai tenanga dan cukup banyak asi ketika menyusui Putri.
"Aku tak boleh cengeng, aku harus terima semuanya. Bagaimana pun, semua adalah kesalahanku, aku harus berjuang untuk mendapatkan kata maaf dari Edric." Gumam hati Dwinda dalam isak tangis.
Putri tertidur dipangkuan Dwinda, ia meletakanya dan berkata." Yang nyenyak ya sayang."
Perut Dwinda kini merasa kenyang, tinggal dimana ia menidurkan Putri di rajang tempat tidur.
Terlihat wajah Putri begitu mengemaskan, seperti raut wajah Ellad.
Ellad merasa bersalah dengan perkataanya, ia mulai menghampiri Dwinda di kamar Putri melihat istrinya tengah menidurkan sang buah hati.
Ellad mencoba mengintip dibalik pintu kamar Putri, melihat Dwinda tersenyum bahagia menidurkan anaknya sendiri.
"Dwinda, apa kamu benar benar berbuah, atau hanya berpura pura."
__ADS_1
Banyak sekali keraguan pada diri Ellad akan perubahan Dwinda, terkadang ada rasa takut juga ketika Dwinda hanya berpura pura. Tapi selama sembilan bulan tinggal di rumah Dwinda memang berbeda sekali, tidak seperti dulu.
Penampilanya pun sangatlah berbeda, tubuhnya yang tadinya langsing kini menjadi gendut tak terawat, wajah mulusnya banyak bintik merah dan noda hitam. Apalagi dibawah matanya, hitam seperti mata panda.
Ellad pernah menawarkan Dwinda untuk mencarikan Baby sister, namun ia menolak karena bisa mengurus anaknya dengan baik.
Menyadari Ellad ada dibalik pintu kamar Putri, Dwinda kini memanggil lelaki berambut putih yang menjadi suaminya itu.
"Papih, kenapa hanya mengintip saja."
Mendengar perkataan dan panggilan Dwinda, tentulah membuat Ellad merasa malu, pada akhirnya ia membuka pintu kamar anaknya.
Menghampiri Dwinda yang masih menidurkan Putri.
"Kenapa?" pertanyaan Dwinda membuat Ellad masih tetap bersikap dingin.
"Tidak ada!" jawaban Ellad selalu seperti itu, benar benar acuh. Lelaki berambut putih kini pergi kembali.
Dwinda hanya bisa memaklumi semuanya, ia tak bisa menyalahkan siapapun, jelas semua salah dirinya sendiri.
Dimana ia berusaha menyusun kaca yang ia pecahkan kembali ketempat asalnya agar terlihat rapi. Walau mungkin tak bisa seperti dulu, ia tetap berusaha.
Ellad langsung masuk ke dalam kamarnya, untuk menenangkab diri, berusaha tetap kuat dan tidak terpacing akan kebaikan Dwinda. Ia ingin tahu apa Dwinda benar benar berubah atau hanya berpura pura.
"Aku harus tetap tenang, tak boleh terpicut."
*******
Di dalam perjalanan menuju restoran Edric menggerutu kesal di dalam mobil, sedangkan Aira yang tengah menyusui anaknya, hanya bisa diam tak berkutik apa apa.
"Kenapa Daddy masih saja mempedulikan wanita itu, sial. Apa Daddy tidak merasakan sakit hati, karena ulahnya Mommy mati dan aku lumpuh, dasar sialan. Lelaki tua itu."
Edric begitu murka sekali pada Ellad yang sudah mendatangkan Dwinda ke rumah lagi, ia tak mengerti dengan pola pikir ayahnya sendiri.
"Hah, bisa saja. Si Dwinda itu hamil anak orang, mana mungkin anak Daddy."
Edric asal berucap begitu saja, membuat Aira hanya bisa menggelangkan kepala melihat kefrustasian suaminya sendiri.
__ADS_1
"Sayang kamu dengar enggak aku ngomong, dari tadi kamu diam saja?" tanya Edric mengomel di depan istrinya, Aira hanya mengerutkan dahi dan berkata." Mana bisa aku jawab sayang, dari tadi kamu ngomong nyerocos mulu, tanpa titik koma."
Edric kini diam dan menghentikan mobilnya tiba tiba. " Loh kok berhenti?" tanya Aira heran, melihat mobil terparkir disembarang jalanan.
Edric menatap ke arah sang istri dengan tatapan tajamnya. " kamu kenapa sayang?" tanya Aira tanpak gelisa. Ia takut jika suaminya itu kesurupan.
Memegang kening tak ada tanda tanda panas atau kesabat setan.
"Sayang, sadar lah. Jangan bikin aku takut." Aira memeluk anaknya, berharap jika Edric berbicara kembali.
"Heh, kamu kenapa sih?" tanya Aira kembali, mendorongkan wajah Edric dengan telapak tangannya agar tidak menatapnya terus menerus.
Pada akhirnya Edric tertawa kembali menyetirkan mobilnya. Saat mesin mobil menyala Edric malah menyuruh sang istri mencium kedua pipinya.
"Cium dong." Dengan menunjuk pipi.
"Mm, nggak."
Aira menolak keinginan sang suami, sampai di mana itu menarik lengan Aira, mencium bibir istrinya itu dengan brutal.
"Mm, mmm."
Mesin mobil sengaja dinyalakan, agar suara Aira tidak terdengar oleh orang orang yang melintas. Lima menit, sudah berlalu, Aira seakan kehilangan napas. Dadanya naik turun, " Kamu gila apa? Kaya nggak ada tempat lain aja."
Edric kini mengangkat kedua alisnya dan berkata," Kamu tahu tidak ketika laki-laki marah itu, yang ia butuhkan hanyalah ciuman dari seorang istri, kemanjaan dan juga kelembutan dari istrinya. Setelah mendapatkan hal seperti itu, amarahnya akan memudar."
Aira memonyongkan kedua bibirnya, di hadapan Edric," teori macam apa kamu ini, kamus bahasa Indonesia juga tidak ada kata seperti itu."
"Ya pastinya tak adalah. Kamu mau tahu teori itu dapat dari mana." Edric melayangkan sebuah perkataan yang malah membuat Aira penasaran.
"Dimana?"
Edric malah menunjuk kepala bawahnya, membuat Aira tak mengerti." maksud."
"Hanya dengan ini, semua akan teratasi, pusing, setres dan marah. Sekali masukan uuhh, hilang semua, yang muncul nikmatnya saja."
Aira memukul mulut suaminya yang asal berucap," heh. Mana ada kepala kecil itu mikir, itumah hanya akal akalan kamu saja."
__ADS_1