Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 131


__ADS_3

Lucky yang kini menjadi sosok seorang wanita bernama Lilia, mendengar penjelasan dari mulut Aira, kedua mata menatap ke arah Carlos dan juga Welly.


" Berarti yang sudah salah, kalian berdua. Jadi hari ini juga kalian harus mentraktir kami makanan, " ucap Lucky wanita setengah jadi-jadian itu, membuat kedua sahabat Edric, terpaksa bertanggung jawab.


"Ya sudah, kami bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah kami lakukan," balas Carlos memperlihatkan rasa tanggung jawabnya di hadapan sang dokter. Agar wanita yang ia incar terpana dan suka kepada dirinya.


Welly tetap tidak mau kalah dengan sahabatnya itu, " Sudahlah Carlos kamu tak usah repot-repot bertanggung jawab dengan membagi dua bayaran untuk memesan makanan. Biar aku saja membayar semua makanan yang kalian mau dan kalian pesan."


Edric sangatlah setuju, dengan kedua sahabatnya mau membayarkan makanan yang baru saja ia pesan, " Nah cucok itu. "


Tawa begitu renyah, Edric perlihatkan pada Aira dan juga sang dokter. Dimana Aira malah memukul mulut suaminya," jangan banyak tertawa nanti mereka curiga."


Bisikan Aira mampu membuat mulut Edric bungkam, dia menganggukkan kepala setelah ucapan yang terlontar dari istrinya.


Lucky sosok yang kini menjadi Lilia, berusaha menghentikan perdebatan antara keduanya," biar adil kalian saja bayar patungan, kalau satu orang yang bayar kayaknya nggak sanggup deh. Soalnya kami pesan banyak makanan. "


Welly semakin memperlihatkan kesombongannya," sudah masalah bayaran biar aku tanggung semuanya, terpenting kita bisa maka."


Carlos kalah dengan ucapan Welly yang memang ia mempunyai kekayaan sangat amat banyak, kedua orang tuanya pembisnis, jadi Welly, bisa membayar apapun yang ia inginkan, apa lagi sebuah makanan yang tak ternilai harganya."


Lucky wanita jadi jadian itu, kini setuju akan perkataan Welly, Edric sudah memesan semua makanan, mereka tinggal duduk manis. Menikmati makanan mewah yang sudah dibayar oleh Welly.


Kesempatan dan peluang Welly, sangatlah besar. Ia sudah menduga jika dirinya akan menang dari Carlos.


Tidak butuh menunggu lama untuk memesan makanan, suara bel langsung berbunyi begitu saja. Aira berjalan dengan merasakan rasa kesal, karena ia tak bisa menyajikan makanannya kepada orang-orang yang bertamu.


Semua makanan yang dipesan sudah datang juga, Welly melihat apa saja yang dipesan oleh semua orang di rumah, tentulah membuat dirinya penasaran.


Lucky, begitu bersemangat dan berselera, ketika melihat hidangan mewah sudah diantar dan ditata rapi oleh Aira.


Hanya saja saat melihat hidangan itu, tangan dan kaki Welly bergetar, apalagi kedua mata membulat. Mulut terbuka lebar dan berkata." makanan ya biar saya bayar."


Menelan ludah, nominal makanan yang dipesan adalah jatah uang saku bulanan Welly. Carlos penasaran dengan via pembayaran yang diperlihatkan oleh si pengantar makanan.

__ADS_1


Carlos hanya bisa tersenyum, melihat kesombongan yang ditampilkan Welly, malah menjadi malapetaka untuk dirinya.


"Syukurin. Emang enak. "


Gumam hati Carlos.


Mau tidak mau, Welly harus membayar semuanya, karena janji yang harus ia tepati.


Welly mengambil kartu ATM, untuk segera membayar semua pesanan.


Carlos yang memang tak mau kalah dengan sahabatnya itu, ini mengungkapkan sebuah perkataan," Makanya jadi orang jangan belagu, jadikan kena apesnya."


Mengepalkan kedua tangan dengan begitu erat, Welly berusaha tetap tenang, karena bisikan Carlos.


Lucky dan yang lainnya tetap bersikap tenang, tak memperdulikan kegundahan dan juga kegelisahan Welly, karena sudah membayar makanan dengan nominal cukup lumayan besar.


"Ayo makan."


"Ayo Welly. Kok kamu diam saja, ada masalah?"


Welly berusaha mengatur tubuhnya yang masih merasakan syok, karena sudah membayar makanan mewah.


Sedangkan Carlos begitu bahagia, memakan makanan mewah yang sudah dibayar oleh sahabatnya.


Semua orang yang berada di meja makan begitu lahap memakan makanan yang sudah dipesan oleh Edric.


Mereka amat bahagia, tapi tidak dengan Welly, lelaki bertubuh kurus itu tetap saja memikirkan biaya sehari-harinya, yang sudah ia keluarkan untuk membayar makanan.


Apalagi uang itu sengaja dikirimkan kedua orang tua Welly setiap bulannya agar sang.anak bisa mengirit.


Lucky, tampak senang sesekali ia melirik ke arah Welly, terlihat begitu menyedihkan karena sudah membayar makanan mahal yang sengaja dipesan oleh Edric.


Setiap suapan demi suapan benar-benar membuat Aira merasakan masakan yang begitu berbeda. Edric melihat istrinya begitu bersemangat ketika mengambil makanan, terlihat sekali Aira seperti orang yang kelaparan.

__ADS_1


Welly berusaha melupakan uangnya sudah melayang untuk membayar makanan, kini ia berusaha fokus kembali kepada tujuannya.


Dimana mereka sepakat untuk memperebutkan sang dokter, jika salah satu di antara mereka berhasil merebut sang dokter, pastinya taruhan akan jatuh pada orang yang sudah berhasil menjadikan sang dokter pacarnya.


Welly dan Carlos membuat sebuah taruhan, untuk mendekati sang dokter.


Siapapun yang menang akan mendapatkan hadiah Sebuah mobil mewah.


Setelah selesai makan, mereka kini melanjutkan aktivitas. Sedangkan Lucky sudah jauh dari jam kerjanya, mulai berpamitan pada sang pemilik rumah.


Carlos dan Welly ikut serta pergi dari rumah Edric dan Aira. Mereka kini menahan satu dokter, memberikan sebuah tumpangan mobil kepada sang dokter itu.


Namun demi meluruskan aksinya, sang dokter berpura-pura menolak.


"Bu dokter ayo naik ke mobil Carlos, biar saya antarkan Ibu langsung ke rumah."


Lilia yang ternyata adalah Lucky, berusaha menolak sebisa mungkin. Karena ia takut jika nanti keduanya saling berdebat dan menyalahkan satu sama lain.


"Maaf ya, saya bawa mobil sendiri Jadi kalian tak usah repot-repot mengantarkan saya ke rumah, " ucap Lucky wanita jadi-jadian itu melewati Kedua lelaki yang terus saja mengejar dirinya.


Welly dan Carlos berusaha sebisa mungkin, membujuk sang dokter agar mau menaiki mobil mereka berdua.


Dengan cara apapun.


Sudah berapa kali Lucky menolak ajakan kedua lelaki yang menjadi sahabat Edric. Tapi tetap saja mereka begitu keras kepala, memaksa dan saling memperebutkan Lucky yang mereka tidak tahu bahwa wanita jadi-jadian itu adalah sahabat mereka sendiri.


Edric melihat pemandangan kedua sahabatnya yang saling memperebutkan sosok seorang laki-laki setengah wanita. Mereka tak tahu bahwa sosok sang dokter itu adalah sahabat Mereka sendiri, sosik aki-laki.


"Edric, kasihan lho mereka berdua. kalian kerjain terus menerus mereka." Ucap Aira begitu mengkhawatirkan kedua sahabatnya yang memperebutkan Dokter Lilia.


"Ya aku tahu, Tapi semua ini adalah pelajaran yang sangat bagus untuk seorang penjahat seperti mereka berdua." Balas Edric tiba-tiba saja berubah menjadi Sok bijak dan memberi nasehat kepada istrinya sendiri.


"Ya sudah, kalau begitu." Aira berusaha tak ikut campur akan kejahilan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2