
Hasan memberi kode pada Laudia, agar tidak membantah ibunya. Sampai Laudia mengerti dan menenangkan diri.
Hasan pergi dengan mengucapkan kata pamit kepada Laudia dan juga Aini, terlihat sekali rasa rindu masih membekas pada hati Hasan.
Sebenarnya lelaki tua itu ingin sekali berlama-lama bersamaan Aini dan juga anaknya, tapi karena Aini yang belum bisa menerima hasil sepenuhnya. Mengusir secara terang-terangan.
Hasan hanya bisa pasrah menerima, semua yang dikatakan Aini, walau sebenarnya hatinya masih merasa tak terima akan fitnahan yang dibuat buat Rendra untuk dirinya.
Lelaki tua itu, kini masuk kedalam mobil. Sembari melirik sekilas pada raut wajah Aini, dimana wanita tua itu menarik paksa tangan anaknya.
Harus bagaimana lagi, semua harus di telan mentah mentah oleh Hasan.
Tinggal ia berjuang, bagaimana meluluhkan hati Aini.
********
Sedangkan Edric yang baru saja pulang ke rumah, kini menghampiri sang istri. Terlihat Aira, menyambut kedatangannya seperti biasa. Wanita berambut panjang dengan ikal ujungnya, tesenyum.
"Kamu pasti, lelah. Aku sudah siapakan air panas untuk kamu mandi."
Senyum yang tadinya manis berubah derastis, ada apa dengan Aira.
Melipatkan kedua tangan, Aira sudah mempersiapkan pisau yang tengah ia pegang. Berniat menusuk sang suami, agar bisa melancarkan balas dendamnya.
Bagaimana pun, Aira tidak boleh tergoda akan kebaikan Edric dan juga Ellad. Bisa saja ia dimanfaatkan oleh kedua CEO untuk dijadikan mainan. Padahal baru kemarin, Aira mengatakan jika ia merasa kasihan dan tak tega terhadap Edric.
Namun, semua itu malah berubah dalam pikiranya, saat Aira bermimpi akan teragedi kematian sang ibu yang mengenaskan. Tentulah membuat niat jahat terngiang ngiang pada pikiran wanita desa yang dinikahi Edric.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang?" Edric menatap kearah bola mata berwarna hitam pada istrinya dengan begitu serius.
Perlahan Edric menyadari ada satu pisau yang tengah dipegang istrinya," Apa Aira akan membunuhku, karena ia menuduh kematian ibunya karena salahku dan juga papah." Gumam hati Edric.
Aira mulai mendorong kursi roda menuju kamar mandi, ia sudah tak sabar melayangkan aksinya. Walau sebenarnya ada rasa tak tega, tapi harus bagaimana lagi demi sang ibu yang tenang di alam sana.
Kedua tangan perlahan membuka kancing baju sang suami, Edric sudah tahu letak pisau yang dipegang oleh istrinya ada disebelah mana.
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Edric mencoba menatap ke arah wajah Aira tanpa berkedip.
__ADS_1
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Aira, menundukkan kedua mata agar tidak luluh dengan tatapan Edric.
Sang CEO muda malah tertawa, tangan kakaknya mulai menyentuh dagu, mencoba mengangkat wajah agar bisa berhadapan dengannya.
Namun, tetap saja pandangan Aira masih melihat ke arah kancing baju yang ia buka secara perlahan," kenapa tatapan mata kamu itu berpaling seperti itu?"
Edric terus bertanya, berusaha mengecoh aksi dan niat jahat Aira." Kenapa, apa aku salah bila tidak memandang wajah kamu hanya hari ini."
"Mm, tidak salah juga sih. Hanya saja, kamu seperti tak ikhlas jika aku pergi dari dunia ini."
Deg ....
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Edric, membuat Aira tak menyangka jika lelaki yang menjadi suaminya itu, bisa mengetahui rencana jahat yang akan ia lakukan untuk suaminya.
"Kenapa diam?"
Edric, melepaskan dagu Aira. Mencium kening sang istri dengan penuh cinta, tak ada kebohongan yang disimpan dalam hati Edric untuk Aira.
Sang CEO muda begitu tulus mencintai gadis desa yang menemaninya dalam waktu sebulan ini, Edric sudah merasakan kenyamanan dari diri Aira. Dengan kemanjaan dan juga keceriannya.
Namun, semua itu sepertinya akan berakhir, akan ada tangan yang balas dendam. Dan berani membunuh.
Pertanyaan Edric membuat kedua bola mata Aira membulat, betapa kagetnya Aira. Edric begitu pintar dalam mengetahui rencana balas dendam istrinya.
"Apa kamu tidak mencintaiku, Aira?" tanya Edric dengan membuat drama, merendahkan hati supanya Aira bersimpati.
Aira menundukkan wajah, ia seakan salah tingkah, tak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya. Kenapa dirinya ingin melakukan hal yang tak baik pada sang suami.
Edric memegang kedua tangan istrinya, terus menatap wajah penuh kebingungan pada istrinya itu. " Jawab Aira, apa kamu mencintaiku?"
Sang CEO muda, hanya ingin mendengar kejujuran dari mulut istrinya selama menikah dengan dirinya. Apakah ada rasa cinta ataupun sayang terhadap Edric untuk selama ini?
Jika pun itu tak ada, berarti semua hanyalah harapan kosong Edric, jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
Aira malah menangis di hadapan sang suami, membuat Edric kini berteriak sedikit membentak sang istri." Ayo jawab, apa kamu mencintaiku. Aira."
Terlihat wajah Edric begitu basah dengan air mata, Iya menunggu jawaban yang terlontar dari mulut istrinya," Sebenarnya .... "
__ADS_1
Belum perkataan Aira terlontar semuanya, Edric kini memegang pisau yang sengaja dibawa oleh Aira.
"Pisau ini, apa kamu sudah merencanakan semuanya. Untuk membunuhku?"
Aira tak menyangka, jika Edric mengetahui letak pisau yang ia sengaja simpan untuk berencana membunuh suaminya itu.
"Edric kamu ...."
Aira mencoba mengambil pisau dari tangan suaminya," jangan."
Namun Edric berusaha keras mengambil pisau, mereka saling memperbutkan pisau tajam, hingga tangan Edric terluka karena sayapan pisau tajam yang dimiliki Aira.
"Ahk."
Pisau kini terlempar, darah mengalir keluar dari lengan Edric, Aira yang melihat pemandangan yang menegangkan itu, merasa menyesal. Ia terlalu menuruti napsu.
"Edric, maafkan aku."
Wajah Edric begitu terlihat pucat, mungkin karena kehabisan darah. Dengan sigap Aira berteriak, memanggil para pelayan untuk membantu membawa Edric ke rumah sakit.
"Aira, sudah jangan berteriak. Ini kan yang kamu inginkan."
Aira menangis, ia sungguh menyesali perbuatannya sendiri, menangis berlari untuk segera memanggil para pelayan dan juga sopir.
"Ada apa Nona Aira."
"Tolong, panggilkan sopir."
"Baik."
Kenpanikan mulai dirasakan Aira, tanganya bergetar ketakutan, melihat darah mengalir keluar dari lengan sang suami.
"Bodoh, Aira. Apa yang kamu lakukan itu adalah tindakan yang terlalu gegabah." Gerutu Aira dalam hati.
Aira mulai masuk ke dalam mobil, duduk di dekat sang suami, mengusap pelan kepala Edric. Berusaha meminta maaf atas kesalahannya, Aira mulai mengucapkan kata janji, Jika ia tidak akan melukai Edric.
Sang CEO muda itu, ternyata tersenyum dibalik tangis sang istri, ia sengaja dan berpura pura. Jika luka sayapan itu begitu parah sampai membuat Edric pingsan dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Aira, aku sudah tahu, kamu pasti mencintaiku. Tapi kamu juga benci padaku, karena ayahku membeli kamu." Gumam hati Edric berpura pura menutup mata, ingin memastikan kepanikan dalam diri Aira.
Setelah kepanikan Aira ia perlihatkan, saat itulah Edric percaya jika wanita yang menjadi istrinya seorang wanita yang harus dipertahankan.