
Dwinda semakin murka karena printahnya tak di dengar, ia menggerutu kesal. Memukul atas lantai membuat tanganya memerah.
Berusaha berdiri, rasa sakit seakan dibertubi tubi. Di cuekin oleh Ellad dan diabaikan para pelayan, lengkap sudah penderitaan Dwinda.
Wanita berbody seksi itu kini berjalan pergi, ia melangkahkan kakinya ke kamar tamu, karena pastinya Ellad tidak akan mengizinkannya masuk. Sungguh miris hidup Dwinda.
Hingga akhirnya ia mengigat tentang pertemanannya di masa lalu bersama Maya, pertemanan antara senior dan junior di rumah sakit.
Flas black. Masa lalu Dwinda dan Maya.
Persahabatan adalah sebuah ikatan antara sesama jenis, mereka terkadang bisa dibilang orang yang begitu dekat dan selalu mengerti tentang keadaan dan kesedihan yang dirasakan salah satunya. Tidak memandang umur, ataupun memandang setatus.
Tidak ada kata iri, semua saling memahami satu sama lain, begitulah persahabatan antara Dwinda dan juga Maya, mereka hanya bertemu saat di rumah sakit, saat sosok Dwinda mencari rumah sakit untuk menampungnya. Dan ia hanya bisa mendapatkan tempat dimana Maya bekerja dan terkenal sebagai senior di rumah sakit itu.
Lambat laun karir Maya dan juga Ellad semakin melonjak tinggi, Maya bisa membeli rumah sakit tempat ia bekerja.
Hingga menjadi pemimpin sekaligus bos besar di rumah sakit yang membuat hidupnya semakin berjaya, sosok Dwinda yang menjadi seorang sarjana kelulusan luar negri berjuang mati matian untuk mewujudkan cita citanya.
Namun, cita cita itu terputus saat ia ingin melanjutkan tahap terakhir semester kuliahnya di amerika. Karena perusahaan sang papah bangkrut dengan terpaksa Dwinda pulang ke indonesia untuk mencari pekerjaan.
Benci dan kesal ia curahkan pada kedua orang tuanya, yang selalu ia anggap tak berguna.
"Dania ini malas kerja, Dania ingin meneruskan kuliah." Itulah yang selalu dikatakan Dwinda nama asli dari Dania.
"Papah juga tahu apa yang kamu rasakan Dania, tapi bagaimana lagi, kamu tahu sendirikan perusahaan kita mengalami kebangkrutan, dan papah tak sanggup membiayai kuliah kamu di amerika," jelas sang ayah. Merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
"Papah tidak becus, mengurus perusahaan." Hardik Dania. Membuat tangan tua yang sudah berkerut melayang pada pipi kiri Dania.
Plakk ....
"Kenapa papah, tampar Dania. Hah."
Telunjuk tangan menunjuk pada wajah Dania wanita yang sudah menganti namanya dengan Dwinda
__ADS_1
"Karena kamu tidak mengerti penderitaan papah. Papah juga tak ingin kebangkrutan ini terjadi, kalau saja CEO Ellad membantu saham papah. Mungkin kita tak akan bangkrut."
Memegang dada, perseteruan antara ayah dan anak terus berlanjut.
"CEO Ellad."
"Ya, dia penyebab semuanya. Jika kamu ingin marah, marahlah dengan dia, papah sudah berusaha semampu papah. Tapi dia mengabaikan kerja sama papah denganya."
Perasaan lelaki tua itu tak menentu, rasa sakit kini dirasakan pada dadanya," ahk, sakit."
Sang papah akhirnya tersungkur jatuh, hingga dilarikan ke rumah sakit.
"Lihat Dania, apa yang sudah kamu lakukan terhadap papah kamu sendiri. "
Dania kini menundukkan pandangan, merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa ayahnya.
"Kenapa mamah salahkan Dania."
Wanita tua itu, mendorong kepala anaknya dan berkata." jelas kamu yang memancing keributan. Sudah tahu papah kamu punya riwayat jantung."
"Keadilan apa, saat ekonomi kita sulit harusnya kamu mengerti, bukanya tadi kamu mendengar apa yang dijelaskan papa kamu, Dania. Teman kerja samanya itu tidak merespon sama sekali."
Dania menggenggam erat kedua tanganya, kedua orang tua Dania terus menyalahkan seorang CEO, hingga akhirnya ia ingin mencari tahu sosok lelaki bernama Ellad itu.
Kenapa bisa dia mengagalkan kerja sama dengan sang papah yang mati matian, menegakkan kembali perusaannya yang sudah bangkrut.
Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan ayah Dania, membuat sang ibu terlihat panik." Bagaimana keadaan suami saya, dok."
Dokter dihadapan Dania memperlihatkan wajah tak menyenangkan, dimana ada sesuatu yang terjadi pada sang papah.
"Kami sudah menolong suami ibu, tapi tuhan berkehendak lain, suami ibu terkena serangan jantung hingga membuat ia tak tertolong."
Wanita tua itu kini menangis histeris, seakan tak percaya dengan apa yang di katakan dokter.
__ADS_1
Dania melangkah bertanya dengan raut wajah masih tak percaya." Dok, jangan bercanda. Tadi papah saya tidak kenapa kenapa."
"Kita hanya seorang dokter sudah berusaha sebisa mungkin, ini sudah kehendak tuhan. Pasien terkena serangan jantung akut, saat kami mengecek secara detail, pasien sudah lama mengidap penyakit ini."
Dania tak tahu jika perdebatan itu, berujung pada perpisahan dirinya yang terakhir kali bersama sang papah, ada rasa sesal yang menyelimuti hati dan pikiran wanita bernama Dania itu.
"Papah, ini tidak mungkin." Dania merasa bersalah telah memarahi papanya sendiri, hanya karena dirinya yang tak bisa meneruskan kuliah di luar negeri.
Jika saja Dania tidak memarahi sang papa, lelaki tua itu masih ada bersama dirinya. Tapi sekarang sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur dan bisa kembali lagi.
Wanita tua yang menjadi ibunda Dania, kini berdiri berjajar dengan anaknya, kedua tangan memegang Dania. Wanita tua itu menatap tajam ke arah anak semata wayang." Semua gara gara kamu, lihat papah kamu sudah pergi, dan sekarang."
Dania menangis, air matanya berjatuhan mengenai kedua pipi, sedangkan Ibu hanya tertawa Seraya menangis di depan anaknya sendiri.
"Bu, maafkan Dania. Dania tidak tahu semuanya akan menjadi seperti ini, Papa pergi karena perdebatan yang diawali Dania. Kalau saja Dania tahu bahwa ayah mempunyai riwayat penyakit jantung, mungkin Dania tidak akan memarahi papah hanya karena Dania sekarang bekerja."
Sang ibu terus saja menangis sembari tertawa terbahak bahak, seperti menglami ganguan mental karena tak terima dengan suaminya yang sudah meninggal dunia.
Dania berusaha, menyadarkan sang Ibu hingga wanita tua itu terjatuh dan pingsan.
Berteriak memanggil para suster untuk segera membawa sang Ibu ke ruang pengecekan.
"Ibu, sadar bu."
Saat itulah hari dimana Dania merasa tertekan, papahnya meninggal dan ibunya menjadi gila.
Perasaan bersalah dan dendam kini menyatu.
"Papah maafkan Dania, Papah lihat saja nanti Dania akan membalas dendam akibat kemiskinan yang terjadi pada keluarga kita. CEO Ellad tunggu pembalaskanku."
Setelah kematian sang papah
Ia mulai menganti nama Dania menjadi Dwinda, karena dalam kemarahanya ada sang ayah memberi tahu bahwa kebangkrutan perusaan karena seorang CEO bernama Ellad. Dengan berani menganti nama, dan menyusun rencana.
__ADS_1
Sang papah mengungkapkan semuanya pada anak semata wayangnya itu dalam perdebatan sebelum sang papah meninggal dunia, untuk membalaskan dendam. Dania harus menyebunyikan idetitasnya, dan keluarganya saat itu juga, agar bisa mengelabui sang CEO.
"Tunggu pembalasanku CEO Ellad, kita akan bertemu dalam kenestapaan dan dendam yang membara pada hati ini."