
Aira menarik baju belakang Lilia, hingga wanita jadi-jadian itu tersungkur jatuh ke atas lantai, akibat tarikan yang begitu keras.
"Aduh." Lilia tetap saja. Menjerit seperti layaknya wanita utuh.
Edric melihat sahabatnya itu hanya tertawa, sampai di mana Aira, membulatkan kedua mata ke arah Lilia, berharap jika wanita jadi-jadian itu segera pergi.
"Enyah kau." Gerutu hati Aira.
Lilia mengerti tatapan Aira, berusaha berdiri. Merapikan semua peralatan dokternya, berpamitan untuk segera pulang," terapi hari ini cukup sampai di sini ya Edric, saya pamit pulang. Permisi."
Wanita jadi-jadian itu dengan terburu-buru pergi, sampai Edric yang melihat kelakuan istrinya membuat Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Sang pemilik bola mata biru, mendekat ke arah sang istri." kamu cemburu dengan dia?"
Pertanyaan yang konyol bagi Aira, sang istri menatap lekat ke arah bola mata suaminya yang nampak terlihat berseri," Idih, masa iya aku cemburu pada wanita jadi-jadian itu, yang ada aku ini jijik lihat kamu dekat-dekat terus dengan dia.'
__ADS_1
Lilia berjalan berjingkat-jingkat menuju mobil, tapi tidak disangka, para sahabat Edric datang. Dimana mereka adalah mayoritas bule.
Lilia melihat pemandangan itu merasa resah, iya langsung menaiki mobil, tanpa memperdulikan ketiga sahabatnya itu.
Toh, tidak ada yang harus ia sembunyikan, karena penampilannya sudah sempurna seperti wanita pada umumnya.
Lilia harus bersikap pede, Ia tak boleh grogi melihat para lelaki yang melewati dirinya.
Sampai Lilia tak menyangka ada satu sosok seorang wanita yang sangat-sangat ia dulu cinta, wanita itu berambut panjang memakai rok pendek. Perpaduan wajahnya tidak berubah sama sekali, dia selalu bersikap sederhana.
Membuat Lilia tak sanggup menahanya, ia hanya bisa menatap dari kejauhan sosok wanita cantik itu.
Walau sebenarnya hatinya ingin sekali mendekat, tapi keadaannya yang berubah tak mungkin kembalikan keadaan seperti dulu.
Lilia tidak tahu jika Edric mengadakan sebuah pesta kecil mengundang para sahabatnya, pantas saja dia melarang Lilia untuk pergi terburu-buru karena memang para sahabat datang menjengguk keadaan Edric.
__ADS_1
Suara ponsel membuat Lilia terkejut, ia meraih ponsel itu dalam tasnya.
(Lucky, kenapa kamu pergi. Aku mengadakan acara reunian, Apa kamu tidak rindu pada teman-temanmu?"
Pertanyaan Edric, tak bisa dipungkiri oleh Lilia. Wanita jadi jadian itu mengabaikan pesan sang sahabat.
Sebenarnya ia ingin sekali datang ke acara reunian yang diadakan di rumah Edric, tapi karena penampilannya yang seperti wanita membuat dia insecure.
Ada rasa sesal walaupun sedikit memburu hatinya, tapi harus bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Orang yang ia cintai, pasti akan kecewa melihat perubahan dan belum tentu juga orang itu akan mencintai Lucky.
Dengan rasa sesal dan juga kecewa pada dirinya sendiri, Lucky melajukan mobilnya dengan sangat kencang, ya tak pedulu apa saja yangenghadang diri ini.
suara ponsel terus saja berbunyi, membuat keresahan dan perasa terganggu pada diri Lucky . membuat ia malah membantingkan setir mobilnya ke arah, untuk menghirup udara segar dan membuang rasa sesak di dalam dadanya.
Mungkin semua ini terasa keterlaluan dan juga membahayakan. tapi bagi Lilia wanita yang sebenarnya bernama Lucky, membuat semua itu nampak menjadi sedikit terasa tenang.
__ADS_1