
Aira kini berusaha mengontrol diri agar tidak egois, wanita Desa itu mulai duduk di samping suaminya, untuk mendengarkan penjelasan dari Lilia sahabat Edric.
"Ya seperti biasa, ayahmu menelpon pada ayahku. katanya dia butuh bantuan. Aku kira bantuan apa? Ternyata pengobatan untuk anaknya, memangnya sudah berapa lama kamu lumpuh seperti itu," ucap Lilia, sebagai seorang dokter Ia tetap memperlihatkan pekerjaannya dengan baik.
Lilia bertanya kepada Edric, di mana sang sahabat mengatakan semuanya, kejadian dirinya sampai bisa lumpuh seperti sekarang. Lilia mendengar cerita sahabatnya itu sungguh merasa kasihan, bagaimana bisa ada orang yang tega melakukan kejahatan hingga begitu fatal.
Dokter tegas itu kini mengatakan," Makanya jadi lakituh jangan lembek. Contohnya kalau lembek berubah kayak aku."
Mendengar perkataan Lilia yang membuat Edric berucap pelan," najis."
Aira yang mendengar perkataan suaminya, tertawa pelan menutup mulutnya. Lilia yang menyadari tawa dari istri sahabatnya, mengerutkan dahi." Lucu emang?"
Edric kesal melihat tingkah Lilia, ia menjewer kuping sahabatnya," Aduuh, aw aw sakit."
Melepaskan tangan yang menjewer Lilia, membuat Edric menggelengkan kepala," ini istriku, kamu harus bersikap ramah."
Semakin ke sini semakin obrolan Lilia dan Edric tak karuan, apalagi tingkah mereka seperti sesama lelaki, saat bercanda pun. Lilia yang terlihat anggun tiba-tiba menjadi macho, padahal postur tubuhnya begitu indah dan mempesona.
"Itu semua di permak, orang tua kamu nyesel nggak?" tanya Edric, memegang-megang hidung dan juga bibir sahabatnya.
Aira tak suka dengan tingkah sang suami, sedikit mencubit pinggang Edric.
"Ini tuh permak selama tiga kali, jadi jangan heran kalau aku sudah percis wanita seuntuhnya."
Kedua mata Aira membulat," maksud anda dokter."
Lilia tertawa dan ia memotong pembicaraanya, " Sudah sebaiknya kita fokus ketahap pengobatan suamimu ya."
"Kamu tenang saja Aira, suamimu ini pasti akan sembuh dengan pengobatan saya." Lilia menyakini diri bahwa dia bisa menyembuhkan suami Aira.
Edric, hanya memandangi tubuh Lilia yang terlihat begitu menonjol. Membuat ia senyum-senyum sendiri, di mana Aira sedikit memukul kedua mata suaminya.
"Ngapain."
__ADS_1
"Nggak ngapa ngapain."
Lilia merasa aneh dengan tingkah kedua Insan yang menjadi sepasang suami istri itu, mereka bertengkar di hadapan Lilia.
Dimana sang dokter berpura-pura batuk, membuat mereka malu akan pertengkaran yang terjadi." Oh ya, Edric besok kita mulai terapinya ya, saya mau mengecek semua kondisi tubuh kamu. Mudah mudahan dengan pengobatan saya kamu berhasil pulih seperti semula."
Hanya perjumpaan sementara saja, antara dokter dan juga kedua insan yang menjadi suami istri itu.
Lilia berpamitan pulang, mencium pipi kiri dan kanan Edric.
Namun tiada sangka, sang pemilik bola mata biru itu mendorong tubuh Lilia," heh brow, sesama jenis harus saling berpelukan."
"Mm, memang dari dulu kamu tidak pernah mengakuiku," ucap Lilia, mereka kini berpelukan seperti seorang lelaki dengan lelaki.
Aira tampak semakin heran dengan tingkah Lilia, di mana wanita bertubuh bak model itu, berubah drastis saat bercanda dengan suaminya.
Walau ada rasa cemburu sedikit, tapi tetap saja membuat Aira menjadi geli.
Lilia pergi dengan mengendarai mobilnya melambaikan tangan ke arah Edric dan juga Aira.
"Aku tak peduli." Aira terlihat marah besar, karena sudah melihat tingkah suaminya yang genit terhadap wanita cantik yang menjadi dokter untuk pengobatannya.
Edric tetap mendengarkan ocehan Aira, supaya wanita Desa itu kelelahan." Kenapa kamu malah santai santai saja, apa kamu tidak mengerti perasaanku."
" Sudahlah Aira, tak usah cemburu dengan sahabatku itu."
"Bagaimana aku tidak cemburu, kamu begitu dekat dengan dokter itu."
Edric tertawa terbahak-bahak," kamu ini salah paham Aira."
Aira yang sudah direnungi dengan napsu dan juga amarah menggebu pada pikiran dan juga hatinya.
" Salah paham bagaimana kamu ini, jelas jelas aku melihat kamu ini bermesraan dengan dia. Pake acara ketawa ketawa segala."
__ADS_1
Edric mengira jika Aira itu tahu bahwa Lilia itu siapa, padahal dari tadi Lilia memberikan suatu kode untuk membuat Aira tahu bahwa dirinya itu siapa.
"Aira, percuma aku menjelaskan saat kamu tengah marah seperti ini. Sebaiknya sekarang kamu tenangi diri kamu sendiri, jangan buat emosimu meluap-luap seperti."
Kedua dada Aira naik turun, karena ia mendengar penjelasan dari Edric sungguh tak jelas. Saat itulah Aira pergi dari hadapan suaminya.
Dimana Edric akan menjelaskan siapa Lilia sebenarnya, tapi istrinya langsung memasuki kamar dan membanting pintu kamar.
"Aira, kenapa dengan kamu ini."
Edric berusaha menahan emosinya, agar tidak melukai hati sang istri.
Aira kini duduk di ranjang tempat tidur, ia menangis terisak-isak, hatinya merasa kacau, bagaimana bisa Aira menerima semua perlakuan Edric, apalagi saat melihat dokter itu begitu dekat denganya.
Membayangkannya pun sudah jijik.
Aira menatap layar ponsel, ia memberanikan diri untuk menelepon ayah mertuanya. Berharap jika sang ayah langsung mengangkat panggilan telepon dari dirinya.
Dan akhirnya sambungan telepon itu terhubung dengan ponsel sang ayah, Aira mulai menanyakan keadaan ayah mertuanya itu, mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di luar negeri.
Di tengah obrolan, bibir Aira sudah tak sabar ingin mengatakan semuanya," Daddy, bukannya saat kita mengobrol di restoran, Daddy sempat bicara, Kalau dokter yang menangani Edric itu adalah dokter laki-laki, tapi kenapa yang datang malah perempuan."
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut menantunya itu, tentu saja membuat Ellad bingung.
Jelas jelas ia menyuruh sahabatnya untuk bisa mengobati Edric, tapi karena kesibukan sang sahabat membuat dia menolak dan merekomendasikan anaknya yang laki-laki.
Dalam percakapan yang lumayan lama itu, sahabat menceritakan bahwa ketiga anak-anaknya adalah seorang laki-laki, berprofesi sebagai dokter dan juga pilot.
Maka dari itu Ellad terkejut saat mendengar Aira mengatakan bahwa dokter yang datang ke rumah adalah sosok seorang wanita, di mana semua itu kenapa bisa terjadi?
"Kamu jangan bercanda Aira, jelas anak sahabat ayah itu semuanya laki-laki. Mana mungkin berubah menjadi wanita!" balasan sang ayah membuat Aira semakin bingung.
Untung saja Aira memfoto dokter yang bernama Lilia itu, Aira langsung mengirimkan poto sang dokter ke ayah mertuanya, agar menjadi bukti bahwa dokter yang datang itu adalah sosok seorang wanita yang begitu cantik jelita dan bak seperti model.
__ADS_1
Setelah foto terkirim, Ellad mulai membuka poto itu, benar dugaan Aira, sampai membuat Ellad terkejut, melihat sosok wanita yang begitu cantik. Tidak seperti yang ia bayangkan sosok anak sahabatnya itu gagah bertubuh tinggi dan mempunyai hubungan erat sebagai sahabat dengan Edric.