Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 146


__ADS_3

sopir ternyata sudah tepat waktu menjemput mereka bertiga di bandara," Wah, Tuan Edric sekarang bisa berjalan kembali, saya turut bahagia melihat kesembuhan Tuan Edric. Hanya saja ada .... "


Sang Sopir itu terlihat ragu, ketika ia ingin mengungkapkan suatu hal yang sudah lama ia pendam. " Kenapa, kok bicaranya terpotong begitu?"


"Nggak ko, Tuan!" Edric merasa heran dengan tingkah sopirnya yang tiba-tiba saja tak meneruskan perkataannya.


Karena tak ingin terus menerus diberikan pertanyaan oleh Edric, sang sopir mulai menanyakan ke mana dulu mereka pergi, Sebelum pulang ke rumah.


Aira tak sabar ingin segera berbelanja, hingga menjawab pertanyaan sopir suaminya," Pak Hasan kita pergi dulu ke toko baju ya!"


jawab Aira dengan begitu semangat ya. Iya tahu jika mood seorang wanita itu akan hilang sepenuhnya ketika berbelanja atau membeli segala hal yang diinginkan.


"Baik Nyonya."


Sebenarnya Edric ingin mempertanyakan keraguan Pak Hasan dalam ucapannya, seperti ada sesuatu yang disembunyikan lelaki tua itu.


Entah apa? Pastinya membuat Edric sangatlah penasaran.


Pak Hasan yang mengendarai mobil, melihat tatapan sang majikan begitu menyeramkan. Ia tahu kode mata yang diperlihatkan sang majikan, adalah sebuah kode agar Pak Hasan meneruskan perkataannya.


Aira melihat-lihat jalanan dari dalam mobil, dia merindukan setiap jalanan yang ia lewati, sudah setahun lebih Aira tinggal di luar negeri, membuat ia merasa asing saat menginjakkan kaki ke tanah airnya sendiri.


Di dalam perjalanan menuju ke toko baju, Edric mulai melayangkan sebuah perkataan," Pak Hasan. "


Panggilan Edric sedikit terdengar berbeda pada telinga Pak Hasan, " Iya tuan."


Pak Hasan merasa berat balas jawaban dari Edric.


"Saya ingin bertanya?"


Deg ....


Ketika sebuah pertanyaan dilayangkan oleh sang tuan muda CEO. " Per-ta-yaan a-pa ya, tuan?"


Pak Hasan terlihat gugup.


Edric merasa Curiga dengan tingkah sopirnya itu.

__ADS_1


"Kenapa dengan Pak Hasan? Tumben sekali saat aku tanya dia begitu gugup!"


"Apa di rumah baik-baik saja?"


Pak Hasan malah menelan ludah perkataan majikannya, sebenarnya ia sangatlah bingung menjawab suasana di rumah sekarang.


"Pak Hasan."


"Pak Hasan."


Lamunan lelaki tua itu seketika membuyar. ketika panggilan dilayangkan beberapa kali oleh sang majikan.


"Loh, Pak Hasan kenapa diam terus, saya padahal nanya loh."


Lelaki tua itu, belum berani mengatakan satu hal


kekacauan yang berada di dalam rumah Ellad.


"Oh maaf tuan, saya terlalu fokus sampai tak mendengar panggilan tuan. "


"Tumben baget pak."


"Yeh sudah dekat."


Obrolan kini tertunda kembali, di mana Aira menarik tangan Edric sang suami.


Tentulah membuat Pak Hasan kembali tenang, iya tidak dihantui lagi dengan pertanyaan sang majikan.


"Akhirnya, Tuan Edric keluar juga dari dalam mobil. "


Pak Hasan kini menyadarkan tubuhnya, dia menunggu kedua majikannya berbelanja di dalam toko langganan Aira.


Terlihat Edric memperhatikan Pak Hasan dari tadi, membuat lelaki tua itu tak enak hati, antara bingung dan harus berkata jujur.


Aira yang tengah memilih-milih baju, mencoba bertanya kepada sang suami," sayang coba deh kamu lihat ini, menurut kamu baju ini bagus tidak buat aku."


Edric tetap membelakangi istrinya, tak mendengarkan apa yang dikatakan Aira, " sayang. Kamu ini kenapa sih."

__ADS_1


Aira memukul bahu sang suami, agar menatap ke arahnya." aku tidak kenapa kenapa, kok."


Aira kini kembali cemberut, membuat Edric langsung memeluk tubuh istrinya di depan orang lain.


"Sayang jangan marah gitu dong."


Kedua pasang mata semua melirik satu sama lain ke arah mereka berdua. Apalagi pelukan Edric kepada istrinya. Membuat para wanita merasa iri karena Aira memiliki seorang lelaki berpangkat kaya raya dengan wajah yang begitu tampan


"Kok bisa ya, wanita sederhana itu dinikahi oleh cowok tampan seperti dia, "bisikan dilayangkan para ibu-ibu. Dimana mereka iri melihat kemesraan Edric dan Aira.


"Ya, nggak pantes banget, mending anak anak kita. Cantik," ucap sala satu ibu ibu dengan tatapan sinisnya.


"Ya lah secara anak anak kita kan perawatan, nggak kucel kaya dia, " balas, wanita tua yang memakai baju biru dongker.


Aira mendengar bisikan para ibu ibu, merasa malu jika pelukannya Edric di hadapan umum membuat para ibu ibu mengatainya.


"Sudah jangan pedulikan para ibu ibu usil itu, dia nggak tahu saja. Kalau istriku sudah dandan kaya bidadari turun dari langit. "


Edric begitu pintar mengambil hati sang istri, membuat raut wajah kembali ceria, hidup itu sebenarnya simpel, yang bikin runyam adalah omongan orang orang.


"Ih, tuh lihat. Baru punya anak satu sudah kaya emak emak." Sindir wanita tua, tak segan-segan menghina Aira, seakan fisik mereka begitu sempurna. Padahal dalam kenyataan sangatlah jauh berbeda, Edric berjalan menghampiri para ibu-ibu itu.


"Hem, apa istri saya mempersulit kehidupan kalian?" Pertanyaan Edric membuat para ibu-ibu saling menatap satu sama lain, mereka tersenyum masa melihat ketampanan Edric dari arah dekat.


"Tidak, hanya saja kami sangat menyayangi ketampanan kamu, Kenapa kamu bisa menikah dengan sosok wanita sederhana dan tak berkarisma itu!" Jawaban para wanita tua itu, seakan diri mereka itu lebih baik daripada Aira.


"Loh, memangnya kalian itu berkarisma? Coba ngaca ke cermin. Apa kalian lebih baik dari istri saya!" Ucapan Edric begitu sengit, membuat para ibu ibu yang berkumpul di sana terdiam.


Hingga salah satu wanita tua menawarkan anaknya, untuk dijadikan istri," memang kita itu tidak berkarisma karena sudah tua, tapi anak-anak kita pastinya cantik berkarisma tidak seperti istri anda yang kucel tidak bisa mengurus diri."


Jawaban yang tentunya membuat Edric sangatlah kesal. Bagaimana bisa sosok seorang wanita menghina wanita lain, membanding-bandingkan kecantikan," wah. Masa sih, cantik. Boleh saya lihat potonya?"


Wanita tua itu dengan semangatnya membuka ponsel, memperlihatkan foto anaknya sendiri," Ini poto anak saya?"


Edric menatap poto anaknya, menarik tangan sang istri mempelihatkan dan membandingkan. Wajah keduanya." Anda lihat istri saya, dia itu lebih cantik dari anak ibu. Lihat wajahnya full make-up, terus badanya kurus kering, anda bilang berkarisma, saya tidak melihat ada sebuah keindahan pada anak ibu. Jika dibandingkan dengan istri saya, jelas lebih cantik, bohay istri saya. Alami tanpa riasan make-up tebal."


Wanita tua itu langsungmerebut ponsel dari tangan Edric, ke dua pipi wanita tua itu memerah. Ia pergi begitu saja dengan rasa malu karena sudah di buat hina di depan para sahabatnya.

__ADS_1


Aira kini mengajak sang suami untuk pulang.


__ADS_2