Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 130 Kemarahan Aira.


__ADS_3

Welly memayunkan kedua bibirnya, padahal ia berniat pergi mengikuti langkah sang dokter.


Tapi malah tertahan oleh Carlos. Sang sahabat tidak mau kalah saing, jadi ia menahan Welly untuk membantunya memasak di dapur bersama Aira.


"Malas rasanya membantu Aira memasak di dalam dapur." Gerutu Welly sembari mencincang cincang sayuran sampai beratakan tak karuan.


Carlos melihat Welly melakukan pekerjaan tak benar, membuat tangan kanannya memukul belakang kepala sang sahabat. " Lu, kira itu daging cincang apa? Ayo lah Wel, itu sayuran brow. "


Welly menatap ke arah Carlos, dengan rasa kesal karena kepalanya kesakitan. " Terserah gue, situ ngapain komen."


Mereka malah semakin menjadi jadi, berkelahi dan adu mulut, tentulah membuat Edric yang melihat sahabatnya bertengkar kembali, malah tertawa terbahak bahak.


Welly seperti kesal sekali dengan Carlos, ia memasak sesuka yang ia mau, menabahkan garam sampai setengah toples.


Carlos yang melihat pemandangan itu, kini mangambil toples gula yang tengah di pegang oleh Carlos. Menuangkan semua gula itu pada masakan Anna, yang sudah hampir selesai.


"Yang benar saja Welly ."


"Bodo amat."


Edric melihat pemandangan kedua sahabatnya yang terus bertengka seperti anak kecil, " Heh kalian bisa stop tidak berdebatnya?'


Kedua lelaki itu tak memperdulikan perkataan Edric, mereka berdua memotong sayuran begitu tak rapi tentulah membuat kemarahan dalam diri Aira. Jelas dari tadi Aira melihat kedua sahabat suaminya, mengacaukan masakannya yang sudah jadi.


Dengan terpaksa Aira beranjak pergi mencari sebuah pembasmi, agar kedua lelaki itu pergi dari hadapan mereka.


Prakkk ..... Kedua lelaki itu menatap ke arah Aira, dimana istri Edric itu mengeluarkan sebuah golok besar. Yang sengaja ia pukul-pukulkan di hadapan mereka berdua..


Prak ... Prak.


Edric baru pertama kali melihat kemarahan sang istri begitu menakutkan, apalagi Carlos dan juga Welly, mereka mereka berdua sesekali menelan ludah dan berusaha kembali akur seperti sedia kala.


Tatapan kedua mata Aira yang sangatlah menyeramkan, tak segan segan mengatakan hal yang sedikit tak menyenangkan, "kalau kalian masih ingin bertamu di sini dan makan di sini jangan bertengkar, kalau masih bertengkar. "

__ADS_1


Golok yang dipegang Aira, ia pukul-pukul pada meja, memperlihatkan sebuah ancaman. Kedua lelaki itu terlihat ketakutan.


" Lihat ini, mau benda ini melayang pada leher kalian berdua?" tanya Aira, membulatkan kedua matanya, tatapan menakutkan itu Membuat Carlos dan juga Welly memegang leher mereka masing-masing.


Menelan ludah kembali, " tidak akan kami janji."


"Awas saja, kalau kalian berbohong kepadaku, tak segan-segan benda tajam ini ...."


Belum perkataan Aira terlontar semuanya, Edric malah tertawa melihat kedua sahabatnya dimarahi Aira. Di mana Aira mendekat ke arah suaminya itu.


"kamu kenapa ketawa?"


"Mm, itu. Ak." mengaruk belakang kepala yang tak terasa gatal.


Sedangkan Lucky dengan santainya duduk, ia berusaha membersihkan tangannya yang terluka, karena mengingat jari tangannya masuk ke mulut Welly, terbayang dalam pikirannya itu rasa jijik.


Lucky melihat layar ponselnya, satu pesan dari sang ayah.


( Lucky, besok ayah liburan dengan adik adikmu. Apa kamu mau ikut.)


Mengetik pesan dan membelas. (Oke.)


Senyum terlukis dari raut wajah Lucky, ia baru merasakan sedekat ini dengan sang ayah.


( Jam tujuh pagi kita berangkat.)


Suara dari dalam dapur, begitu terdengar jelas. Dimana Aira memarahi Carlos dan juga Welly, entah kesalahan apa yang mereka perbuat.


Perabotan di banting beberapa kali, oleh Aira. Sampai mengenai kepala dan badan Welly. Apalagi Carlos. Seperti di bom besar menyerang mereka, " ampun."


Edric meminta maaf pada sang istri," Maafkan aku sayang, tadi aku berniat membantu kamu. Tapi nyatanya malah bikin kacau dan rusuh."


Aira berkacak pinggang menatap penuh amarah," sudah cape cape masak malah jadi kacau, memang kalian ini kurang kerjaan apa."

__ADS_1


"Ya aku nggak tahu sayang, kalau jadinya kacau begini. Yang niat bantuin kamu itu kan aku, tapi mereka malah ikut ikutan, aku nggak tahu kalau jadinya seperti ini."


Edric menempelkan kedua tangannya memohon ampun, agar tidak dimarahi Aira lagi, "Maafkan aku ya sayang, tahu begini mungkin tadi aku tidak akan membantu kamu. Ujung ujungnya masakan kamu jadi kacau."


Cara bicara Edric berbilit dan juga terulang ulang, mungkin karena melihat Aira terlihat marah besar dan murka.


Berkacak pinggang layaknya seorang bos tengah memarahi bawahannya, dada Aira naik turun, menahan rasa kesal. " Entahlah, aku kesal sama kamu."


Aira membalikkan badan, mencoba tetap tenang, melihat masakannya yang hancur. karena ulah Carlos dan juga Welly. Salah memasukkan bumbu penyedap, mereka malah seenak jidat memasak tanpa memakai gula dan juga garam begitu banyak.


"Ahk, gimana ini?" Aira memikirkan cara, hingga dimana Edric meraih ponselnya, memesan makanan untuk makan siang.


Pesanan terkirim, Aira masih mengeloh masakannya, tetap saja rasanya aneh. Sampai kini rasa lelahnya menjadi sebuah kesia siaan. Karena masakan semua hancur dan tidak ada yang beres.


Aira membuang masakannya, sayur dan olahan lainnya, ia membanting semua pelaratan memasak karena masakannya tidak ada yang bisa di selamatkan.


Carlos keluar begitupun dengan Welly, mereka merasakan rasa sakit pada kepala dan punggung, karena benturan keras dari beberap perabotan yang dikeluarkan Aira.


Lucky, berusaha menahan tawa, melihat Kedua lelaki yang selalu menggodanya saat itu babak belur.


Lucky bangkit dari tempat duduknya, Iya langsung menghampiri kedua lelaki itu. "Loh kalian, kenapa?"


Pertanyaan Lucky membuat mereka berdua, berpura-pura kesakitan, sembari memegang pipi dan juga bibir begitu terlihat bengkak


Entah apa yang dilakukan Aira, " Aduh, aku nggak nyangka banget ternyata Aira segalak itu. Tahu begitu tadi aku tidak mau membantunya."


Lucky dengan setatusnya menjadi Lilia, kini mengerutkan dahi," Apa kalian membantu akhirnya dengan benar? Masa sih Aira begitu galak, apa kalian tidak melakukan kesalahan apapun terhadap masakan Aira?" tanya Lilia, membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain, sebenarnya yang salah itu mereka berdua.


"Loh, kok pada diam? Mm?"


Edric kini keluar sembari dimarahi oleh istrinya sendiri, di mana Lucky dan yang lainnya melihat adegan itu, sungguh menyedihkan bagi Edric.


"Tuh, Kamu lihat sendiri kan, suaminya juga sampai dipukul-pukul dan diusir begitu saja, makanya kita lari dengan kondisi seperti ini."

__ADS_1


Lilia melipatkan kedua tangannya, dia tidak mau membela satu pihak. Karena dirinya tak melihat kejadian yang sebenarnya terjadi."


"Sudah, sana kalian sebaiknya diam dan duduk manis di sofa, kalian nanya bikin kacau masakanku saja," Hardik Aira, memarahi ke tiga lelaki yang sudah membuat dirinya murka.


__ADS_2