Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 96 Penderitaan.


__ADS_3

" Papih, keluarkan aku dari dalam penjara. Please, Mommy tidak mau masuk kedalam sini," teriak Dwinda penuh air mata.


Ellad menunjuk nunjuk wajah istrinya, " stop. Jangan memohon seperti itu, aku sengaja tidak membawa kepersidangan. Langsung menjebloskan ke dalam penjara," cecar Ellad, muak melihat wajah Dwinda.


Dwinda sudah tak memiliki apa-apa, ia tidak bisa menyewa pengacara. Jauh hari Ellad sudah menganti semua aset yang ia berikan pada Dwinda, berpura pura meminta tanda tangan pada istrinya untuk bisnis.


Nyatanya dalam surat itu adalah pengalihat hak aset Dwinda pada Ellad.


Kedua mata memarah benci dengan telunjuk tangan Ellad yang mengarah pada wajahnya.


Dwinda murka, ia memukul jeruji besi.


"Aku sudah pernah bilang padamu jangan pernah bermain api denganku, kalau kamu tidak akan terbakar."


Dwinda kini menarik tangan Ellad, dan berkata," Ellad, aku mohon ibuku masih membutuhkanku."


"Ibumu? kamu tenang saja. Aku akan menjaga ibumu. Renungilah kejahatanmu itu, masih untung aku mempunyai hati nurani, memberi kamu kesempatan untuk hidup."


Ellad CEO dingin itu tak segan segan memberi pelajaran setimpal pada siapapun yang berniat menghancurkan kehidupannya.


Dwinda hanya berdiam diri, meratapi semua kesalahanya di penjara dingin hanya melihat punggung Ellad pergi menjauh dari hadapanya.


"Ellad." Teriak Dwinda, pada sang suami. Lelaki berambut putih tak mempedulikan istrinya ia terus berjalan pergi untuk keluar dari rumah sakit.


Dwinda menangis sejadi jadinya, ia memeluk kedua lutut, merasakan ketidaknyamanan di dalam penjara. Hidup penuh kenyamanan hilang begitu saja, Dwinda hanya bisa menyandarkan tubuh pada dinding di balik jeruji besi.


"Kenapa rencanaku malah gagal seperti ini, seharusnya aku berhasil. Bukan malah gagal dan tak mendapatkan apa-apa?"


Mengacak rambut, ia hanya bisa menangis dan merasakan bahwa dirinya kini dalam kubangan penderitaan. " Akh, bagaimana caranya aku bisa lari dari penderitaan ini."


Ketiga tahanan yang berada di ruangan bersama Dwinda, merasa terganggu akan teriakan Dwinda.


Mereka menghampiri Dwinda dan melihat wajahnya.


"Heh, kamu bisa tidak jangan berteriak, BERISIK. Asal kamu tahu ya, ini bukan hutan tapi PENJARA."


Mendengar hal itu, tentu membuat Dwinda kesal. Ia berdiri, memperlihatkan kemarahanya.


"Memangnya kenapa? Terganggu?"


Dwinda begitu berani melawan salah satu tahanan, hingga tahanan bernama Ita itu menjambak rambut panjang Dwinda. Mendorong tubuh sang pemilik bola mata coklat.


"Gimana sakit tidak." Ita tak segan-segan menyakiti Dwinda, ia tak suka jika ada yang berani melawan dirinya.


Tubuh Dwinda terasa remuk saat terbanting pada atas lantai, ia meringis kesakitan.


"Gimana sakit? Makanya jangan melawan, kalau tidak mau aku buat badanmu sakit?"


Dwinda membuang wajah dari hadapan Ita, ia ingin melawan kembali. Tapi tenaganya lemah, karena bukan hanya satu orang saja yang kini berada di belakang Ita, tapi ada tiga teman seperti siap membantu Ita.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus mengalah, karena kalau aku melawan kemungkinan besar aku akan kalah." Gerutu hati Dwinda.


Mereka melihat Dwinda tak berdaya, kini beranjak pergi, karena melihat tahanan baru sudah terkapar lemah.


*************


Ellad pulang ke rumah.


Ia berjalan dengan perasaan tak bahagia, mungkin dirinya tak bisa melupakan kejahatan Dwinda. Hingga mengigat akan Maya.


" Daddy. Bagaimana?"


Edric menghampiri ayahnya terlihat Ellad hanya menjawab dengan nada terdengar lemas." Semua sudah beres, Dwinda masuk kedalam penjara langsung, karena ia yang tak mempunyai kuasa hukum."


"Syukurlah kalau semua beres, Edric berharap jika penjara akan membuat dirinya jera, karena sudah banyak kejahatan yang diperbuat Dwinda."


Ellad terlihat menangis, ia menyesali semuanya, teringat dengan Maya.


"Kenapa, Dad."


"Daddy, ingat dengan Mommy kamu, bagaimana bisa Mommy kamu mati sia sia.


Edric tahu jika sang ayah begitu mencintai sang Mommy, ia tak bisa melupakan wanita terbaik dalam hidupnya.


" Dad, ikhlaskan mommy, sekarang mommy tenang di alam sana. Mommy pasti bangga punya suami seperti Daddy."


Ellad tak segan segan, memeluk Edric. Meluapkan kasih sayangnya. " Terima kasih Edric, kamu tidak menanam kebencian pada Daddy."


"Daddy akan carikan seorang dokter bagus, agar bisa menyembuhkan kelumpuhan kamu."


Mendengar hal itu Edric terharu dan senang, " terima kasih, Dad."


Aira merasa lebih baik, setelah meminum obat dari dokter, ia berjalan melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat.


Kedua mata berkaca-kaca, melihat sesuatu begitu indah dipandang mata.


Edric menyadari jika istrinya melihat pemandangan dirinya tengah berpelukan dengan sang ayah," Aira."


Ellad melepaskan pelukannya, membalikkan badan menatap ke arah Aira yang tersenyum lepas di hadapan mereka berdua.


"Aira, sini, nak." Ellad memanggil menantunya untuk mendekat ke arah dirinya.


Sampai beberapa langkah, Aira berusaha mendekat. Sampai dimana Ellad berucap," tolong jaga baik baik Edric, jangan sakiti dia."


Ellad berusaha membuat Aira tetap mencintai anaknya, karena ia tahu. Bagaimana sakitnya saat kehilangan seorang istri dan juga dikhianati.


"Aira, akan menjaga Edric dengan baik, Dad."


"Terima kasih, Aira kamu sudah mau mencintai anak saya dengan menerima dia apa adanya."

__ADS_1


"Iya, Dad."


Maria melihat pemandangan keluarga Ellad begitu bahagia, ikut merasakan kebahagiaan itu.


"Lengkap sudah kebahagian mereka semoga tidak ada penghalang apapun di antara mereka bertiga."


Maria kembali ke dapur, untuk segera memasak.


Namun saat ia melangkah, Ellad memanggil Maria.


" Maria, tunggu."


Mendengar suara Ellad memanggil, membuat ia membalikkan badan dan menudukkan pandangan.


"Ada apa tuan."


"Kalian masak saja untuk kalian makan malam, saya mau pergi keluar bersama Edric dan Aira."


"Baik, tuan."


Ellad pergi, sedangkan Maria berlari sembari berjoged ria, ia akan memberi tahu para pelayan. Kalau malam ini akan ada pesta besar besaran, karena Ellad akan pergi dengan anak anaknya."


Setelah sampai ke dapur.


"Hallo semua, aku ada berita bagus."


Mereka berkumpul saling bertanya satu sama lain.


"Ada apa?"


"Malam ini kita akan berpesta, Tuan Ellad pergi bersama anak anaknya."


Mendengar apa yang dikatakan Maria, membuat para pelayan bersorak hore.


"Wah, berarti malam ini kita bisa merayakan penderitaan Dwinda yang masuk penjara."


"Benar."


Semua tampak tertawa senang, sampai Aira datang mendengar obrolan para pelayan.


"Hm." Menyenderkan badan pada tembok. Menatap kebahagian para pelayan.


"Wah, ada yang sedang berbahagia ni."


Para pelayan terdiam, melihat Aira yang sudah berada dipintu dapur. Menundukkan wajah, ada rasa takut pada diri mereka masing masing.


Aira berjalan menatap para pelayan.


"Kami tidak bermaksud mengatakan hal seperti tadi, Nona Aira."

__ADS_1


Aira langsung tertawa terbahak bahak, di depan para pelayan. " Kenapa. Kaget lihat aku ketawa, sudah nikmatin saja pesta kalian, karena kami juga akan menikmati di luar rumah."


__ADS_2