Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 154


__ADS_3

Perjodohan sang Ibunda selalu gagal, padahal kemarin sudah ada yang cocok bagi Siska. Tapi pada kenyataannya, lelaki itu ternyata tidak lama bersama Siska, entah karena masalah apa?


"Padahal kemarin kamu sudah mau menikah dengan laki-laki itu, tapi ternyata malah gagal mungkin bukan jodoh."


Siska hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan sang Ibunda. "Ya Siska mengira juga laki-laki itu akan cocok tapi pada kenyataannya tidak."


"Besok Ibu Kenalkan lagi dengan anak sahabat ibu, mudah-mudahan lelaki ini bisa langsung melamar kamu lagi dan tidak ada kata gagal."


Siska terlihat begitu ragu, memegang pundaknya dan membalas." ya mudah mudahan saja."


Sang ibunda hanya memberi informasi itu saja, selebihnya ia pergi meninggalkan Siska.


Menarik haduk yang masih melingkar pada badannya, Siska mencari baju yang nyaman untuk dia pakai saat tidur.


Setelah selesai, wanita berprofesi sebagai dosen itu mulai duduk di ranjang tempat tidurnya, memikirkan nasibnya yang masih saja menjadi seorang wanita jomblo. Entah kapan dia akan menikah, jika pada kenyataannya, Edric kembali.


"Ini begitu berat."


Siska masih memikirkan perkataan Aira, yang terdengar sedikit menyakitkan hatinya," Bagaimana bisa wanita itu mengatakan bahwa aku ini seorang pelakor."


Sang dosen melupakan kedua tangan, memukul kasur yang ia duduki.


"Hah, aku mengira rasa cinta ini hilang seketika. Tapi saat terpancing oleh minuman dan obat-obatan yang diberikan sahabatku, semua kejujuran itu terungkap."


Siska menyesali semuanya, apa jadinya nanti jika ia datang ke kampus. Akankah ada hal yang memalukan untuk dirinya nanti. Mengacak rambut panjangnya dengan kedua tangan, merasa rasa kesal berlebihan.


Siska mencoba merebahkan tubuhnya di atas kasur, menghilangkan kepenatan yang merasuki pikirannya. Apalagi ketika melihat sosok raut wajah Edric, "kenapa. Wajah Edric selalu terbayang dalam benakku. Bukankah aku sudah melepaskan dia, tapi kenapa aku seperti orang gila sekarang."


Siska mencoba memaksakan kedua matanya untuk terlelap tidur. Melupakan raut wajah sang pujaan hati, sadar akan Edric yang kini sudah mempunyai seorang istri dan anak.


Memukul-mukul kedua pipi, berharap untuk terlelap tidur saat itu juga. agar tidak ada bayangan merusak mimpi indahnya.


********

__ADS_1


Sedangkan di dalam perjalanan menuju pulang Aira tanpak bahagia, ia tersenyum ceria. Membuat Edric merasa heran, apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya.


Awalnya Edric diam saja, ia mengifa mood istrinya sedang baik, tapi semakin ke sini Aira malah tertawa sendiri.


Kuatir akan keadaan sang istri pada akhirnya, Edric bertanya dengan nada lembutnya.


"Sayang, apa kamu baik baik saja?" tanya Edric, dimana Aira menatap ke samping kiri Edric menampilkan senyum lebarnya, membalas." Ya, tentu aku baik baik saja. Memangnya kenapa?"


Edric menelan ludah, merasa heran, ia membolak balikkan pipi Camby istrinya. " Sayang, kamu ini dari tadi senyum senyum terus."


Aira mulai menjelaskan kenapa ia tersenyum sindirian kepada Edric, penjelasannya kini membuat Edric tertawa. Ia tak menyangka jika istrinya itu begitu hebat, bisa membuat lawan kalah.


"Apa itu semua tidak keterlaluan?" tanya Edric masih menyetir mobilnya." Mm. Jelas tidaklah, wanita seperti itu tuh pantas dipermalukan. Siapa suruh menggoda laki orang, belum tahu dia akibatnya seperti apa."


"Iya aku percaya pada kamu."


Aira senang dengan Edric yang selalu mendukung.


*******


Dwinda menyadari kedatangan Edric dan juga Aira, kini menghampiri mereka berdua. "Aira, Edric kalian sudah pulang?"


Edric mengabaikan sambutan dari ibu tirinya. Iya berjalan duluan menuju ke kamar tidur, Aira tersenyum tipis dan pergi menyusul suaminya. Ellad melihat pemandangan istrinya yang berusaha mengambil hati Edric, merasa tak tega.


Lelaki berambut putih itu hanya bisa diam, melihat dari kejauhan.


Edric masuk dengan raut wajah kesal ke dalam kamar tidur, ia melemparkan jaket mengacak rambut dan berkata." Gila apa dia, ngapai coba pake acara sok akra. Sok perhatian gitu."


Mengeritu kesal melepaskan semua baju yang menempel pada tubuhnya, Edric mulai melangkahkan kaki menuju kamar mandi, membersihkan diri untuk segera tidur.


Aira yang baru saja masuk ke dalam kamar, melihat pemandangan tak biasa. Baju Edric begitu berserakan, lelaki yang menjadi suaminya tengah membersihkan badan.


Wanita desa itu meletakkan Erlangga pada kasur mungilnya, ia bergegas memunguti semua baju yang berserakan di atas lantai. Berkacak pinggang ," Edric, Edric. Kaya nggak ada tampungan baju kotor saja."

__ADS_1


Lelaki berbadan kekar itu langsung keluar dari kamar mandi, ia melihat Aira tengah membereskan kamar tidur. Membuat dirinya tak segan-segan memeluk dari belakang punggung sang pujaan hati.


Bau wangi sabun membuat kesegaran tercium pada hidung Aira, wanita Desa itu membalikkan badan, melihat suaminya tak memakai handuk.


Aira menutup wajah dengan terbuat tangan, " Edric, kamu ini kenapa sih?"


Edric malah tersenyum melihat pemandangan istrinya yang berteriak," loh malah bilang kenapa, ayo."


Aira merasa kelelahan, iya berusaha menolak dengan berkata halus, " jangan dulu sekarang ya, aku merasa sangat kelelah sekali, besok saja."


Ada raut wajah kecewa pada diri Edric, ia memajukkan kedua bibirnya, napsunya begitu meraja rela, " Hah, harus menunggu besok."


Tok .... Tok .... Tok.


Ketukan pintu terdengar dari kamar Edric, membuat rasa malas sang pemilik bola mata itu untuk membukanya pintu.


"Siapa coba, malam begini."


Edric mengerutu kesal, ia menatap ke samping kiri, sang istri ternyata sudah terlelap tidur, pantad saja Edric memanggil dan mengajak Aira bercumbu ternyata ia sudah pingsan duluan.


"Aira, kamu ternyata kelelahan sayang." Edric mengusap pelan kening sang pujaan hati, mencium pelan.


CEO muda turun dari ranjang tempat tidur, menghampiri pintu, untuk segera membukanya, dengan berjalan gontai merasakan rasa kesal karena merasa terganggu akan ketukan pintu itu.


Membuka pintu kamarnya, Edric begitu terkejut dengan penampakan seseorang yang membawakan susu untuk dirinya dan juga Aira.


"Ke mana para pelayan di rumah, kenapa malah dia yang membawa susu ke kamarku." Gerutu hati Edric menatap penuh kebencian ke arah wanita yang ada di hadapannya. Entah kenapa wanita itu sangatlah menyeramkan di mata Edric, apalagi ketika mengingat semua kejahatan yang sudah dilakukan dirinya kepada keluarga Ellad.


Wanita itu tersenyum seraya menundukkan pandangan, memberikan dua gelas susu pada Edric, entah ada niat apa dia begitu baik mengantarkan dua gelas susu kepada Edric.


"Ini, Mommy antarkan kalian dua gelas susu untuk segera di minum, mumpung lagi hangat." Ucap Dwinda menyodorkan nampan berisi dua gelas susu.


Edric kesal dengan keramahan ibu tirinya itu, ia tak suka, seketika menghempaskan nampan itu, membuat gelas susu pecah dan berserakan ke mana-mana.

__ADS_1


Brrakkk .....


__ADS_2