
"Sudah siap?" Daddy bertanya pada seseorang via telepon. Aku tidak bisa mendengar jawaban seseorang di seberang sana, tapi sepertinya ia mengiyakan. "Tunggu, ya. Kita otewe sekarang," kata Daddy dengan bahasa gaul ala anak muda.
Setelah menutup telepon, Daddy memanggil pelayan dan membayar makan siang kami. Kemudian langsung mengajakku melanjutkan perjalanan.
"Daddy tadi bicara dengan siapa ditelepon?" tanyaku kepo, persis ketika ia memasang sabuk pengamannya, kami sudah berada di dalam mobil.
Sembari menoleh ke belakang untuk memastikan ia tidak akan menabrak apa pun saat keluar dari parkiran, ia menjawab, "Tante Rani," katanya. "Kita jemput dia sekarang, ya."
"Tante Rani?" praktis aku terkejut.
"Iyap," sahutnya santai.
"Tante Rani... siapa? Mom Rani?"
"Iya, Sayang...."
"Daddy sama Mommy mau rujuk?"
Cengiran Daddy melebar. "Belum ada niatan ke sana, kok. Tapi siapa yang tahu dengan takdir ke depan? Bisa jadi...."
"Oh," gumamku. Aku melorot di sandaran kursi sambil berusaha menenangkan jantungku yang bergemuruh. Aku marah pada diriku sendiri kenapa mesti merasakan perasaan ini -- cemburu stadium akhir. Kumohon, lapangan parkir, telan aku sekarang juga.
Tapi, tidak. Aku tetap di sana dan tersentak ketika Daddy menjentikkan jari di depan wajahku. Ternyata kami sudah melaju di jalan raya. "Jangan cemburu. Dan jangan bilang tidak cemburu. Itu jelas terlihat di matamu."
"Tidak lucu!"
"O ya? Jeritan hatimu terdengar, tahu!"
"O ya?" tiruku, berusaha mengimbangi sikap rileksnya.
"Yap. Daddy bisa mendengarnya dengan jelas. Kejora cemburu, Daddy...!" serunya, mempraktikkan nada bicaraku yang manja.
Menghela napas dalam-dalam untuk melawan perasaanku yang tak jelas, aku berpaling ke luar jendela. "Kita mau ke mana?"
"Jemput Tante Rani, Sayang...."
"Mom Rani...!"
"Kamu sepertinya sudah tidak sabar, ya, mau Daddy kembali rujuk? Mau memanggilnya mommy lagi?"
Tidak lucu, Daddy. Hatiku sakit, tahu! batinku merontah. "Terserah, Daddy. Yang tadi Kejora tanya itu tujuan kita, tempatnya. Ke mana?"
"Ih... begitu, ya... kalau Kejora cemburu. Ngegemesin...!"
__ADS_1
"Daddy... sudah dong bercandanya. Sudah tidak lucu, tahu!"
"Iya, iya, iya. Maaf, ya. Kita mau ke Malang. Temannya Tante Rani ada yang mau menjual perkebunan apel. Jadi Daddy mau cek ke sana. Makanya Tante Rani ikut. Sudah, ya... jangan cemburu. I love you, Sayang...."
Aku menoleh dan memaksakan bibirku tersenyum. "Aku tidak cemburu," dustaku. "Tidak apa-apa kalau Daddy mau rujuk sama Mommy. Kejora ikut senang."
"Trims, Sayang. Kamu benar-benar pengertian. Sungguh gadis yang manis."
Ya Tuhan... kuraba leherku dengan tangan. Di dalamnya terasa ada bongkahan besar yang mengganjal tenggorokan. Sakit sekali.
"Rileks, Sayang. Kita sudah hampir sampai." Daddy pun menoleh ke kanan, lalu ke kiri, mencari-cari sosok mantan istrinya -- di mana ia menunggu kami. "Berdasarkan lokasinya sih sudah sesuai. Mana, ya, Tante Rani?"
Tak lama berselang dari mulut Daddy yang menyerocos, seorang perempuan cantik yang hampir tiga tahun ini tak pernah kulihat -- keluar dari sebuah klinik kecantikan. Aku pun keluar dari mobil untuk menyambutnya -- walau dengan setengah hati. Setengah hati karena menghormatinya sebagai ibu sambungku, dan setengah hati dengan rasa cemburu yang menggebu.
"Hai...," seru Mommy dengan sukacita. Keceriaannya masih sama seperti dulu. "Duuuh... cantiknya Princess Kejora. Apa kabarmu, Sayang? Sehat?" tanyanya setelah pelukan singkat.
Ingin kukatakan aku sedang sangat tidak baik. Aku sedang patah hati. Tapi apalah daya. Aku pun tersenyum. "Baik, Mom. Aku sehat, seperti yang Mommy lihat. Mommy sendiri, bagaimana?"
"So good... kayak sosis...," lengkingnya.
Aku nyengir. Dia benar-benar masih gesrek seperti dulu. "Mommy duduk di depan, ya. Biar aku duduk di belakang."
"Oke, siapa takut." Mommy Rani pun masuk. "Daddy Gibran masih jinak seperti dulu, kan?"
"O ya? Bukannya malah semakin jadi? Uuuh... belum tahu kamu, ya, kalau aku semakin gesrek."
Mereka terbahak-bahak, larut dalam canda tawa sebagai teman lama yang benar-benar akrab. Sementara aku mendengar keseluruhan cerita mereka dari bangku belakang bagaikan kambing congek. Meradang.
Setelah beberapa menit perang tawa itu, Daddy melirikku via kaca spion, dia tersenyum -- yang kurasa seakan itu ejekan yang ditujukan kepadaku as a loser. Pecundang yang menyangkal perasaan namun tak mampu menahan sakit.
"Kejora sekarang sudah tujuh belas tahun, ya?"
"Em, ya, Mom," sahutku berusaha sekalem mungkin. "Aku sudah tujuh belas tahun."
"Waw... sebentar lagi delapan belas tahun, dong...! Cieee.. Daddy-nya senang tuh... ehm, ehm...."
Senang karena sebentar lagi kalian bisa rujuk? Menunggu aku delapan belas dan lulus sekolah, begitu?
Huuuft... kuembuskan napas kuat-kuat dan Daddy menyadari itu. "Rileks, Sayang... rileks...."
"Ya ini rileks, Daddy... rileks binggo...."
"O ya? Tapi sepertinya kamu kepanasan? AC-nya kurang kencang?"
__ADS_1
"Sudah kencang semua, Daddy. Aku sampai kedinginan malah saking kencangnya."
Sebal! Kupasang earphone menyumpal telinga dan kupejamkan mata hingga ke tempat tujuan. Bahkan di sana, aku menyibukkan diriku dengan ponsel sementara Daddy dan Mommy Rani sibuk berbincang dengan pemilik kebun. Berdasarkan informasi yang sempat kudengar, itu perkebunan milik seseorang yang baru meninggal dunia. Karena tidak menginginkan para pewaris merasa iri terhadap satu sama lain, maka mereka sepakat menjual lahan perkebunan itu dan mereka akan berbagi waris dalam bentuk uang cash. Kurang lebih begitu yang dijelaskan Mom Rani di perjalanan tadi.
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, pemilik kebun mengajak Daddy untuk menyusuri luas lahan, sementara Mom Rani memilih untuk menemaniku karena aku tidak ingin ikut dan tidak ingin mengambil risiko membuat kakiku pegal dengan mengelilingi lahan seluas itu.
"Hai, kamu sibuk banget sih sama ponselmu," tegurnya sembari berjalan ke arahku.
Aku nyengir. "Biasa, Mom. Namanya juga anak remaja, kan?"
"Ya juga, sih. Tapi bukan karena mau menghindari Mommy, kan?"
"Eh? Nggaklah. Masa Kejora kayak gitu. Itu cuma perasaan Mommy."
"Masa sih? Tapi kayaknya kamu cemburu, ya, Mommy dekat-dekat sama Daddy?"
"Ya ampun, Mom, nggaklah. Kejora malah senang kalau Mommy dan Daddy mau rujuk lagi."
Geli, ia terkekeh-kekeh hingga membuatku kebingungan. "Ngomong apa sih kamu, Sayang? Mommy sudah menikah lo... bukan jendes lagi. Mommy malah sudah punya anak dua, kembar, cowok dan cewek."
Hah? Aku terbelalak. "Serius, Mom? Tapi tadi Daddy bilang...."
Ya ampun... malu sekali aku salah sangka.
"Kamu kayak nggak kenal sama Daddy-mu, Sayang. Daddy-mu pasti sengaja mau bikin kamu cemburu. Ternyata benar, kan? Kamu cemburu."
Aku berdeham, dan masih berusaha menyangkal. "Bukan begitu. Kejora sama sekali tidak cemburu, kok. Benaran."
"Kamu pikir kamu bisa bohong pada Mommy? Hmm? Jangan lupa, kita pernah bersama dan pernah menjadi teman baik. Tangan ini juga yang pernah ikut membesarkanmu. Jadi... sedikit banyak, Mommy paham dengan sikap dan kepribadianmu. Kamu menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya."
Fix! Aku salah tingkah. Rasa-rasanya pipiku memerah dan terasa hangat.
Kemudian, masih dengan tawa kosongnya, Mommy merangkulkan tangannya ke pundakku. "Mommy dan Daddy itu teman karib. Pernikahan kami dulu itu hanya bentuk kasih sayang dan kepedulian kami terhadap satu sama lain. Tapi tentang hati... tentang cinta... heran, kok nggak bisa klik, ya? Padahal Daddy itu kan orang baik, penyayang, tampan lagi. Dia sayang pada Mommy, begitu juga sebaliknya. Tapi hati Mommy tetap tertambat ke Mas Endru. Suami Mommy yang sekarang. Daddy-mu juga, di hatinya selalu hanya ada Kejora."
Dia menatapku, sangat dalam hingga aku sedikit risih.
"Kejora itu ada di dalam dirimu, Sayang. Dia terlahir kembali dalam wujud kamu. Kejora Aditama. Duplikatnya yang sama persis. Bahagiakan Daddy, ya. Ibumu juga pasti senang kalau kamu menggantikan posisinya untuk mendampingi Daddy, dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kalau ibumu punya kesempatan, dia pasti ingin membahagiakan Daddy. Kamu juga, kan? Kamu mau melihat dia bahagia, kan? Mommy rasa, inilah kesempatan itu. Kamu yang memilikinya, Sayang."
Tertegun. Aku meneguk ludah dengan susah payah. "Maksudnya... Mom? Kejora tidak mengerti."
"Pernikahan. Teman hidup sejati untuk Gibran."
Deg!
__ADS_1
Apa itu yang dimaksud oleh Oma: menunggu usiaku delapan belas tahun? Untuk sebuah pernikahan? Tapi... mana mungkin....