Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Masa Lalu


__ADS_3

Bagaimana rasanya jika kau melihat namamu tertulis di batu nisan?


Aku merinding. Mungkin kau juga akan merasakan hal yang sama. Apalagi tanggal dan bulan kelahiran di nisan itu sama dengan tanggal dan bulan kelahiranku. Terlebih Daddy bilang bahwa mendiang ibuku yang terbaring di dalam sana -- wajahnya seratus persen sama persis dengan wajahku. Ya ampun, kalau saja itu bukan makam ibuku, mungkin aku akan lari dari sana karena mengira bahwa aku sudah mati. Tapi itu makam ibuku dan ada suatu kelegaan di dalam diriku karena akhirnya aku bisa berziarah ke sana, meski selebihnya hanyalah perasaan hampa.


Jujur, tak bisa kupungkiri, selain namanya, selama ini aku sama sekali tidak mengenal dan tidak mengetahui apa pun tentang sosok ibuku. Sebab itu aku tidak mengenal rasa sayang, cinta, bahkan kerinduan terhadapnya. Selama ini aku hanya menyebutkan namanya di dalam doa-doaku -- dan doa itu seakan hanya pelafalan yang terucap karena terbiasa. Sungguh, aku juga kepingin punya rasa, minimal rasa rindu -- tapi tak bisa karena aku tidak tahu "wujud" dari sosok yang kurindukan itu. Di dalam benakku selama ini, andainya nanti setelah aku mati dan kami bertemu, aku berharap kami bisa saling mengenal dan memiliki rasa itu di dalam hati kami masing-masing. Yah, semoga. Itu yang kuharapkan.


Berbeda denganku yang tak bisa merasakan apa-apa, Daddy justru terlihat sedih. Ada kerinduan mendalam yang kulihat dari matanya. Dia berdoa dengan khidmat. Bahkan, selain bunga tabur, ia juga membelikan buket mawar merah dan menaruhnya di makam ibuku. Melihat itu semua, sedikit banyak aku bisa menilai bahwa mendiang ibuku adalah sosok yang berarti bagi Daddy.


"Tahu tidak, kalau ibumu masih ada -- Daddy pingin bilang kalau Daddy sudah menjalankan amanahnya. Sudah membesarkan dan mendidikmu dengan baik. Dia pasti bangga karena putrinya tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Ya kan, Sayang?"


Aku mengangguk. "Ya, ini semua berkat Daddy. Dan... terima kasih Daddy sudah menepati janji untuk mengajak Kejora ke sini. Setelah ini Daddy akan cerita, kan, tentang ibuku? Aku ingin tahu ibuku meninggal kenapa, dan kenapa aku diadopsi oleh Daddy? Daddy akan ceritakan soal itu hari ini, kan? Iya, kan?"


Ia menunduk diam. Beberapa saat kemudian ia menatapku. "Ayo, kita ke mobil."


Aku mengangguk, dan kurasa itu adalah jawaban iya: dia akan segera menceritakan kisah di masa lalu itu kepadaku. Aku pun dengan semangat berdiri untuk mengikuti Daddy. Tapi...


"Kejora janji suatu saat akan ke sini lagi." Aku tersenyum pada batu nisan itu sebelum beranjak pergi.


Sesampainya di parkiran, aku lekas-lekas membuka pintu dan duduk di kursi penumpang, begitu pun Daddy yang sudah duduk santai di balik kemudi dan tanpa kuduga-duga ia menderumkan mesin mobil.


"Lo? Dad...?"


"Kenapa?"


"Ayo cerita...."


"Nanti, Sayang. Masa di pemakaman?"


"Ini parkiran...."


"Iya, tapi masa--"


"Please... Kejora mohon?"


Daddy memutar kembali kunci mobil dan mesin mobil kembali mati. Seperti itu juga Daddy, ia malah terdiam. "Daddy bingung memulai cerita ini dari mana," gumamnya.


"Dari sosok ibuku. Siapa dia? Pacar Daddy, ya? Soalnya yang Kejora tahu Daddy menikahnya cuma sekali."


Jawabannya berupa anggukan. Seperti dugaanku, mereka adalah sepasang kekasih di masa lalu.

__ADS_1


"Kalau tidak keberatan, tolong ceritakan sosok ibuku seperti apa? Jawab, ya, Dad?"


Daddy menghela napas dengan berat. Kulihat ia berusaha menyunggingkan senyum. "Kejora perempuan yang hebat, kuat, dan dia mandiri. Kami bertemu di sebuah perkebunan. Saat itu Kejora berusia enam belas tahun, kelas dua SMA. Demi membiayai hidupnya, sekolah dan tempat kost-nya, dia bekerja sebagai buru tani di kebun apel itu. Sedangkan Daddy, waktu itu masih kuliah, baru sembilan belas tahun. Daddy sedang melakukan penelitian di sana. Setelah kami berkenalan, ada rasa kagum di hati Daddy pada ibumu. Akhirnya kami berteman, akrab. Bisa dibilang, kami pacaran."


Dia diam, agak lama. Aku jadi tak sabar dan lupa akan aturan Daddy yang tidak boleh banyak bertanya. "Lanjutkan, Dad. Apa yang terjadi selanjutnya?"


Dia menggeleng, dan matanya berkaca. "Semua kenangan indah rasanya sudah pupus semua, Sayang. Hanya yang pahit yang Daddy ingat." Ia memejamkan matanya, praktis air mata mengalir dari sana. "Waktu itu pertengahan Juli, Oma jatuh sakit, dan kebetulan itu sedang libur semester. Mendengar kabar kalau Oma sakit, Daddy segera pulang ke Jakarta. Padahal waktu itu Daddy janji akan memenuhi permintaan Kejora."


"Apa itu?"


"Merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas."


"Tujuh belas?"


"Emm, sweet seventeen yang ia nantikan."


"Terus? Daddy...?"


Dia menggeleng. "Belum sempat," katanya. "Daddy berjanji akan tetap merayakannya setelah Daddy kembali ke Malang pada bulan Oktober, saat semester baru baru dimulai. Tapi... waktu Daddy kembali, ibumu menghilang."


Deg!


Aku tertegun, dan mulai resah. "Apa yang terjadi pada ibuku waktu itu?"


Sekarang giliran aku yang menghela napas dalam-dalam. "Siapa yang menjodohkannya? Maksudku, pasti ada yang memaksanya, kan?"


Daddy menggeleng.


"Dia masih punya keluarga? Tapi kenapa... kenapa dia hidup sendiri dan mesti banting tulang sendiri seperti itu?"


Ia mengedikkan bahu, dan menghela napas lagi dengan berat. "Ibumu pernah bercerita kalau dia kehilangan ibunya waktu dia masih duduk di bangku SMP. Setelah itu, ayahnya menikah lagi. Dan keadaan itu membuatnya mesti putus sekolah kalau dia tidak mencari uang sendiri."


Ya ampun, kejam sekali. "Masa pernikahan ayahnya mesti mengorbankan kehidupan anak kandungnya sendiri?"


"Tidak perlu memikirkan bagian itu."


"Oke, sampai di sini aku paham. Lalu, bagaimana--"


"Daddy berusaha move on dan fokus kuliah. Beberapa bulan berlalu, Daddy lulus, lalu wisuda, dan kembali lagi ke Jakarta. Sesimple itu."

__ADS_1


Saat itu suara Daddy semakin tercekat. Dan aku berinisiatif menyuruhnya minum dulu, meski dalam hati aku tidak sabar ingin tahu bagaimana kelanjutan cerita itu.


"Tepat di hari ulang tahunnya ke delapan belas, hari di mana Daddy mengingat janji yang tidak pernah terwujud. Yeah, tentang rencana pernikahan kami yang gagal. Yang seharusnya Daddy akan menikahinya di hari itu dan membawanya pulang ke Jakarta. Tapi janji hanya tinggal janji. Daddy hanya bisa mengenangnya. Tetapi... di hari itu Daddy malah mendapat panggilan telepon dari Surabaya, telepon dari sebuah klinik bersalin. Hari di mana kamu terlahir ke dunia, sekaligus hari ibumu berpulang ke Mahakuasa. Ibumu mengalami pendarahan hebat sewaktu melahirkanmu. Dia tidak punya uang untuk ke rumah sakit. Dan... dia... dia terpaksa diam-diam... melahirkanmu di toilet klinik. Mungkin dia berharap akan mendapatkan bantuan medis setelah itu tanpa harus membayar biaya bersalin. Entah, siapa yang tahu."


Ya Tuhan... sakit sekali hatiku. Perih. Kini air mataku sederas air mata Daddy. "Kenapa dia melahirkan sendirian? Di mana suaminya?"


Aku tidak mendapatkan jawabannya. Daddy hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Daddy tidak sempat bertemu ibumu. Hanya melihat jenazahnya yang mesti cepat-cepat dimakamkan. Tapi dia menitipkan surat pada seorang suster, di sana tertulis bahwa dia menitipkan putrinya pada Daddy jika Daddy berkenan membesarkannya. Tapi jika tidak, dia minta Daddy untuk membawamu ke panti asuhan. Tapi jujur, waktu itu setelah pemakaman ibumu, Daddy mencari keluarganya. Dan ketemu. Ayahnya ada, sehat, ibu tirinya juga sehat. Semuanya sehat. Tapi... mereka... mereka menolakmu. Aku marah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang bisa... tidak ada yang bisa kulakukan di sana. Akhirnya... kuputuskan membawamu pulang ke Jakarta. Puji syukur, setelah penjelasan yang panjang, Oma mau menerima. Dia bersedia mengurusimu."


Tangisnya pecah. Aku pun sama. Saat itu aku berpikir, wajar saja jika aku ditolak kalau ibuku saja dibiarkan hidup sendiri. Mana mungkin mereka mau berbelas kasih padaku. "Daddy tahu tentang ayahku?"


"Kita bicarakan hal itu lain kali, ya, Sayang. Jangan sekarang."


Aku mengangguk, aku tahu dia belum sanggup menceritakan perihal ayah kandungku -- lelaki yang sudah merebut kekasihnya, pikirku. Dan aku tidak akan memaksa Daddy untuk menceritakan hal itu sekarang.


"Kejora, sekarang Daddy mau tanya padamu."


"Apa?" tanyaku. "Apa yang mau Daddy tanyakan?"


"Sekarang kamu tahu kalau kamu punya kakek. Apa kamu mau mencarinya? Mumpung kamu masih di sini? Kalau kamu mau...."


Aku menggeleng dengan yakin. Aku tidak ingin mencari mereka karena aku bukan bagian dari mereka. Mereka bukan keluargaku. Dulu aku ditolak, dan itu sudah cukup untuk memutus hubungan darah di antara kami. "Aku tidak ingin mengenal mereka, Dad. Tidak perlu. Aku sudah cukup punya Daddy dan Oma. Kalian keluargaku. Hanya kalian."


Dan kali ini ia tersenyum. "Sini, Daddy peluk." Dia mendekapku, mengelus-elus punggungku dan mencium puncak kepalaku. "Janji, setelah kamu mengetahui cerita pahit ini, jangan jadikan ini beban di hati dan pikiranmu. Jangan sampai hal ini membuat kamu drop, sekolahmu terganggu, dan apa pun itu. Oke?"


"Yeah, Daddy. Kejora janji, Kejora akan baik-baik saja. Kan ada Daddy di samping Kejora."


Dan aku mesti sekuat ibuku. Bukankah aku beruntung -- terbuang dari mereka, dan mendapatkan Daddy juga Oma sebagai gantinya? Iya, kan?


Masa lalu yang pahit itu tak akan merubah apa pun, tak akan merusak kebahagiaanku saat ini ataupun di masa depanku nanti. Semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya itu.


"So, will you marry me?"


"Ah, Daddy... timing bercandanya tidak pas, tahu!"


"Jawab saja dulu, Sayang... kamu mau, kan? Hmm?"


Hmm....


"Yeah, yeah, I will marry you. Puas?"

__ADS_1


"Trims. Daddy menunggumu delapan belas tahun."


"Bercandanya tidak lucu, Daddy...."


__ADS_2