Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Hasrat Yang Menyala


__ADS_3

Aku mengurung diri di kamar, menunggu Daddy memanggilku untuk perjalanan pulang ke Jakarta. Aku sudah siap sedari tadi. Sudah mengenakan jaket dan sepatuku. Rambut panjangku juga sudah terikat dengan rapi. Namun, yang kuterima malah berupa pesan whatsapp.


》 Kutunggu di mobil, ya. Pastikan tidak ada barang-barangmu yang tertinggal.


Huh! Kurasa itu memang lebih baik. Dia pasti menghindari godaan untuk menciumku lagi dan membawaku masuk ke dalam kamar, yang mungkin dia akan menindihku di tempat tidur seandainya dia mendatangi kamarku.


Ungtunglah, saat aku membuka pintu kamar, koperku sudah tidak ada lagi di depan pintu. Daddy sudah menyimpannya di bagian belakang mobil. Dan sewaktu aku keluar dari pondok, Daddy sedang berbicara dengan seseorang. Pekerja kebun yang ia tugaskan untuk mengurusi Choky dan Tamara.


"Kuncinya mana, Dad?" tanyaku.


"Tidak usah. Nanti Pak Darman yang urus."


"Oh, oke." Aku pun bergegas menuruni anak tangga.


Daddy langsung membukakan pintu di bagian penumpang, aku masuk dan duduk, lalu ia berpamitan pada Pak Darman dan masuk ke bagian kemudi.


"Sudah siap?"


"Ya."

__ADS_1


"Tidak ada yang tertinggal?"


"Mudah-mudahan tidak ada."


"Oke. Kita berangkat."


Sementara Daddy memindahkan persneling dan melajukan mobil, aku tidak bisa menahan diri untuk meminta sesuatu padanya. "Di Surabaya nanti, kita mampir sebentar ke pemakaman, ya? Aku ingin mampir ke makam ibuku."


Dia mengangguk sedikit. Sepertinya dia tidak ingin mengobrol sementara ia mengemudi, jadi aku memandang ke luar jendela, menatap pemandangan yang berlalu lalang.


"Aku mulai lapar. Kalau kita mampir sarapan di sekitar sini saja, bagaimana?"


"Oooooh...," seruku. "Jadi... Daddy dari tadi diam itu karena menahan lapar?" Aku terkikik.


Aku menoleh, menatapnya dan tersenyum -- dengan agak nakal. "Mau apa?"


Merasa dilempari sinyal, Daddy segera menepikan mobil di resto terdekat dan memutar kunci kontaknya. "Apa?" tanyanya.


"Kan aku yang nanya ke Daddy. Mau apa?"

__ADS_1


"Apa?"


"Entahlah," kataku. Kupalingkan wajahku darinya, dan kembali bersandar di kursiku.


Dari sudut mataku, Daddy menoleh ke samping, ke luar jendela, dan dalam kelebat berikutnya ia menyambarku.


Sesak napasku dibuatnya. Semakin ke sini, gairahnya terhadapku semakin besar. Ciumannya memang dimulai dengan lembut, tapi setelah melepaskan bibirnya, ia mengulangnya lagi dengan sedikit kasar. Seolah bibirku sejenis daging kenyal yang mesti ia l*mat demi kepuasan. Sejenak kemudian, ia kembali melepaskanku dan menatapku dalam-dalam. "Jangan marah? Emm?"


"Marah... maksudnya? Marah kenapa? Aku tidak marah, kok. Tidak akan pernah."


Dia tersenyum dengan kilatan nakal di matanya. Lalu...


"Eummmmm... Daddy...," aku mendesa* panjang, "uuuuuh...!"


Nikmat sekali. Aku mesti bagaimana? Aku suka dia mengisa* kuat di leherku. Nyatanya hal itu memang memberikan rasa nikmat untukku. Membuatku gemetaran, tapi menyenangkan. Serasa ada yang ingin meledak di dalam diriku.


Cukup lama setelahnya, Daddy melepaskan diri dariku. Dia kembali bersandar di kursinya. Ia menoleh ke luar jendela, lalu kembali padaku. "Maaf," katanya seraya menggenggam tanganku yang kini terlindung di antara tangannya yang lebar. "Kamu bisa bilang kalau kamu tidak suka, tapi jangan marah padaku. Please?"


Aku mengangguk, menggigit bibir menahan rona malu. "Tidak apa-apa. Aku tidak marah. Emm... aku suka itu. Tap--"

__ADS_1


Ya ampun, dia mengulanginya lagi. Menempel lagi dengan hasratnya yang menyala. Bahkan... deru napasnya memburu di telinga.


"Please, berjanjilah padaku, kamu akan menjaga dirimu baik-baik. Dan hanya aku yang boleh menyentuhmu? Hmm? Aku menunggumu, Kejora. Aku menunggumu."


__ADS_2