
Ya ampun... dia langsung menyambarku persis ketika cucian piringku selesai. Kami baru saja selesai makan malam. Di depan wastafel itu dia langsung menggendongku dan membaringkanku di atas sofa.
"Sudah waktunya, Kejora." Senyuman hangat mengembang di wajahnya.
Well, babak pertama pertarungan panas itu pun selesai di sana. Dan kukira itu berarti sudah selesai.
Ternyata belum selesai, kawan. Belum selesai.
Sementara Daddy mengenakan kembali celananya dan pergi untuk memastikan semua pintu sudah terkunci, aku memunguti pakaianku dan buru-buru naik ke kamar, lalu melangkah ke kamar mandi. Sebelum mengenakan kembali pakaianku, aku menggosok gigi, mencuci wajah, dan membilas tubuhku dari keringat, mengusir lengket dengan mandi bebek tanpa membasahkan kepala. Setelahnya, kukeringkan tubuhku dengan handuk dan kembali berpakaian. Aku kembali oke, cantik, dan siap untuk tidur.
Fresh, aku keluar dari kamar mandi. Persis di saat itu, saat aku membuka pintu, suamiku sudah siap sedia di tempat tidur. Dia cengar-cengir memamerkan deretan giginya yang putih dengan -- tubuh kekarnya yang sudah kembali tak terbungkus apa pun. Dia sudah kembali polos, kawan.
"Hai," sapanya, dengan gaya selengekan seolah itu pertemuan yang gimana gitu. Seolah beberapa menit yang lalu kami tidak bertemu dan tidak bercinta di lantai bawah. "I am ready, Kejora. How about you?"
Hmm... kuhela napas dalam-dalam, lalu tersenyum -- mengikuti kegilaannya. Dan daripada membuang-buang waktu tak berguna, kubuka sendiri gaunku dan melemparkannya ke sembarang arah. Kulangkahkan kakiku menghampiri si pria dewasa itu dan duduk di pangkuannya. "Yes, I am ready, My Hot Daddy."
__ADS_1
Tentu saja, proses bercinta pada babak kedua ini mesti diawali dengan pemanasan dulu. Sebab, kami melakukannya dengan alami, tanpa bantuan suplemen. Namun, hasrat Daddy yang selalu membara terhadapku, membuat pemanasan ini tak perlu dilakukan dengan ekstra dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Dia kembali on fire.
"Katakan, mau seberapa lama?"
Iyuuuh... bisa-bisanya dia bertanya seperti itu saat dia baru saja membaringkanku dan menguasaiku di bawah himpitan tubuhnya yang kekar.
Sambil terkikik malu kukatakan padanya: seberapa lama yang ia mampu. "Happy wedding ke tiga hari." Aku tersenyum.
Bahagia. Mata Daddy memancarkan binar-binar cinta dan lewat senyumannya aku tahu betapa ia bahagia dan aku-lah alasannya. Dan aku suka caranya memujaku lewat setiap sentuhannya, kehangatan bibirnya yang membelai dari bahu, leher, hingga keningku dan berakhir di bibirku. Dia menggigitnya dengan begitu lembut dan gemas, kemudian kembali tersenyum dengan semringah.
"Yap, hari yang luar biasa, dan sangat indah."
"Dan semua ini hanya karenamu."
Uuuh... aku tergelak. "Apa kamu bermaksud menebarkan gula di sepanjang malam? Hmm?"
__ADS_1
"Tidak. Aku punya agenda yang lain."
"Apa itu?"
"Membawamu ke nirwana."
"Hah! Berhentilah mengoceh dan kita tuntaskan agenda spesial itu."
"Gadis kecilku yang nakal. Kau benar-benar sudah tak sabar rupanya."
"Yeah, ayo. Kita bisa bercinta dengan ekstra sebelum aku hamil." Dan kubisikkan kepadanya, "Aku milikmu, Gibran Aditama."
Yuhuuu... untung saja aku memenuhi jadwal bercinta kami malam itu. Sebab, pada keesokan paginya, siklus bulananku sudah menyapa di pagi buta.
Dan, dia mesti berpuasa lagi.
__ADS_1
Aaaaah... padahal kami baru jadi pengantin tiga hari. Tapi mau bagaimana lagi? Hiks! Sungguh terlalu!