Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Galau


__ADS_3

Galau. Rasanya berat dengan perubahan rencana pernikahan kami yang dipercepat. Tak bisa kupungkiri, menikah sebelum usiaku genap delapan belas tahun rasanya ada sebagian hatiku yang ingin menolak, dan aku merasa Daddy seakan memaksakan kehendaknya kepadaku. Tapi aku tak berdaya, aku tidak kuasa untuk menolak. Aku tidak sanggup jika aku melihat kekecewaan di matanya yang akan disebabkan oleh diriku sendiri. Aku ingin dia bahagia, namun -- juga -- seharusnya tidak seperti ini.


Aku mengangguk, aku mengiyakan sewaktu Daddy meminta kebersediaanku untuk menikah di hari ulang tahunnya, dan dia sangat bahagia. Sementara, aku mesti menutupi kegalauanku dengan sebaik mungkin. Dia tak boleh melihat sisi keberatan yang menyelip di hatiku. Yang seandainya bisa, aku juga ingin mengenyahkannya. Aku naif untuk hal satu ini, namun aku juga hanya manusia biasa. Aku tidak mengerti kenapa ada rasa sedikit tidak rela dengan kenyataan bahwa aku akan menikah di usia tujuh belas tahun.

__ADS_1


Sebelum berbicara kepadaku, Daddy sudah mengutarakan keinginannya terlebih dulu pada Oma, dan Oma tentu saja setuju. Dan persetujuanku adalah kebahagiaan untuk mereka berdua. Aku bahagia, kataku pada diri sendiri -- aku bahagia untuk mereka.


Beberapa hari berikutnya berlalu dengan kabur. Sehingga, seolah-olah aku tidak menyadari bulan Juni sudah menunjukkan kehangatannya, dan, sudah tiba juga waktunya pengumuman kelulusan sekolah. Aku menjadi tidak antusias untuk hal itu, aku malah semakin resah karena itu berarti hari pernikahanku tinggal menghitung hari dan semua keluarga memiliki keantusiasan yang sama. Mereka tidak sabar ingin melihat anak semata wayang Oma, Gibran Aditama -- untuk menikah -- seakan-akan ini pernikahan pertamanya.

__ADS_1


Dari segi tamu undangan, pernikahan ini tergolong sederhana karena kami tak banyak mengundang tamu. Seperti kataku sebelumnya, aku hanya mengundang Dinda dan Tiara, sedangkan Daddy hanya mengundang Oom Hendri dan anaknya, dan juga keluarga besar Mom Rani yang notabenenya masuk dalam kategori keluarga. Dan sisanya merupakan undangan atas nama Oma, warga-warga di sekitar rumah tanpa terkecuali, keluarga besar dari mendiang suaminya yang sudah lama sekali tidak berjumpa dengan kami, dan keluarga dari pihak Oma sendiri. Oma punya satu kakak kandung laki-laki, namun sudah lama meninggal. Daddy punya tiga orang sepupu laki-laki dari pamannya itu. Bahkan sepupu-sepupunya sudah punya cucu. Dan, Oma juga punya beberapa orang sepupu dari kedua orang tuanya -- kakek dan neneknya Daddy. Para bibi, paman, sepupu, dan keponakan-keponakan itu ramah dan murah hati. Aku menyukai mereka semua dari dulu meski kami jarang bertemu, walaupun sampai saat ini aku tidak bisa menghafal nama-nama mereka atau mengingat siapa yang menikah dengan siapa, dan urutan silsilahnya dari yang tua hingga ke cucu-cucunya, mereka anak siapa atau dari yang mana, aku tidak begitu paham.


Tetapi, yang terpenting mereka semua tahu tentang keberadaanku di tengah-tengah Oma dan Daddy selama ini, jadi sepertinya mereka tidak ada yang kasak-kusuk di belakang kami untuk membahas hal-hal yang tidak penting. Mungkin saja.

__ADS_1


__ADS_2