
Semringah. Daddy menuruni tangga sambil menggelung lengan kemejanya, rambutnya tersisir rapi, kombinasi celana jins dan sepatu yang pas dengan kakinya yang panjang. Kehadirannya menebarkan aroma parfumnya yang khas dan menggelitik hidungku. Dan, senyum manisnya mengembang sempurna.
"Selamat pagi," sapanya, dan tak lupa tatapannya yang penuh cinta tertuju padaku.
Tapi... apa saja yang dia lakukan sedari tadi sampai-sampai aku yang lebih dulu berada di meja makan? Jelas, seorang gadis yang biasanya mandi dan berdandan lebih lama. Tapi sekarang? O-ow... apa saja yang dia lakukan dari tadi?
Hah!
"Pagi, Dad. Mau bubur?"
Lagi-lagi senyumnya mengembang sempurna. "Yeah, tentu. Olahraga pagi membuatku lapar?"
Olahraga yang mana yang dia maksud? Hmm...! Sudah, lupakan, Kejora.
Aku mengambil mangkuk, dan menuangkan bubur untuknya plus santan kental di atasnya. "Habiskan supaya kenyang. Dijamin, Energimu akan kembali berstamina."
Euw! Dia mengulum senyum sementara aku mendelik.
"Wangi sekali."
"Masa sih?"
"Serius. Kamu mau ke mana, Gibran? Ini baru--"
"Aku mau antar Kejora ke sekolah dulu, Bu."
"Kan ada Pak Ujang."
"Ibu mah, seperti tidak pernah muda saja."
"Oke. Tapi benar, ya, diantar ke sekolah?"
"Ya pastilah, Bu."
"Jangan mampir ke mana-mana. Nanti dia terlambat."
Si anak terkekeh. "Iya, Ibu Sayang."
"Kamu juga langsung pulang nanti, biar Ibu tidak berpikir macam-macam."
Duh... ampun. Sepertinya Oma sudah mulai curiga.
Dan Daddy pun mengangguk. "Jangan khawatir, Bu. Tenang saja," katanya. "Aku mau berkonsentrasi menikmati bubur ini dulu. Ini bubur paling enak yang pernah kucicipi."
"Oh, begitu... masakan Ibu kalah enak. Hmm?"
"Enak... buatan Ibu selalu enak."
"Tapi...?"
"Tapi Gibran ingin menyenangkan hati calon istri."
"Ecieee... ada yang lagi berdebar-debar hatinya."
"Hu'um... irama jantungnya kedengaran, kan, Bu?"
__ADS_1
Fix! Wajahku merona. Kompak sekali mereka.
"Aku sudah selesai sarapan," kataku, lalu cepat-cepat berdiri dan memunguti mangkuk dan gelas bekas aku dan Oma sarapan. Aku bergegas ke dapur dan berdiri di depan wastafel.
Huffft... bisa seperti kepiting rebus aku kalau lama-lama di depan mereka.
Tapi pelarianku tak semudah itu. Tatkala Oma pergi ke kamar untuk meminum obatnya, Daddy yang baru saja menghabiskan sarapannya tahu-tahu berada di belakangku. Dia membuatku bergidik saat bibirnya menyentuh bagian belakang leherku, persis di saat aku sedang mencuci tanganku.
"Dasar jahil!"
"Tolong cucikan, ya," pintanya seraya menyodorkan mangkuk dan gelasnya kepadaku.
"Baiklah." Aku menyambut kedua benda itu dari tangannya. "Bisa tunggu aku di depan saja? Tolong?"
Dia tersenyum jahil. "Cuci saja," katanya, kemudian ia melingkarkan lengannya di pinggangku.
Persis dugaanku. Dia selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Kamu selalu membuatku takut. Nanti Oma--"
"Bukan itu tujuanku."
"Ya, aku--"
"Aku ingin membuatmu selalu merindukanku."
"Hmm... kata Dylan rindu itu berat."
"Tapi aku Gibran. Aku ingin kau selalu mengingatku setiap detik."
Hah! Aku tergelak. "Itu tidak baik bagi otakku. Bagaimana aku bisa konsentrasi belajar kalau aku mesti mengingatmu setiap detik?"
Modus ngambek aktif.
"Kamu tu, ya. Tidak bisa diajak mesra-mesraan sebentar." Dia pun berlalu.
Waktunya tidak tepat, Gibran Aditama....
Selesai mencuci peralatan makan yang kotor itu, aku cepat-cepat mengambil tasku di kursi makan dan melengkingkan suaraku supaya Oma tahu kalau aku sudah berangkat ke sekolah, lalu bergegas ke halaman depan. Daddy sudah menungguku di balik kemudi.
Aku pun memberikan kecupan di pipinya. "Maaf untuk yang tadi. Aku pasti selalu merindukanmu."
"Kamu merusak mood-ku."
"Oh, ada yang minta dibujuk?"
"Yah, kalau kamu bisa," katanya.
Daddy pun melajukan mobil sementara aku terkikik. "Apa aku mesti mengulangi adegan kita di kamarku tadi? Memelukmu? Hmm?"
"Tidak perlu. Aku tidak ingin seragammu kusut."
"Baguslah. Lagipula aku tidak ingin terlambat."
"Ya. Jadi tidak usah membahas apa pun."
__ADS_1
"Hmm... baiklah."
Dan... hening, hingga kami tiba di depan gerbang sekolah.
"Sudah sampai," Daddy buka suara.
"Apa tidak ingin memelukku dulu?"
"Tidak keberatan seragammu kusut?"
"Ih, Daddy mah... hanya peluk...."
"Baiklah kalau kamu memaksa."
"Ayolah... Kekasihku Sayang... jangan seperti itu...."
Aku merengut, sementara ia malah nyengir super lebar. "Iya, iya. Sini kupeluk."
Dan kami berpelukan.
"Daddy?"
"Emm?"
"Bisa jawab pertanyaanku tadi?"
"Kejora...."
"Please? Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu... suka menyiksa...?
Dia menjauh, dan menoleh ke luar jendela.
"Dad?"
Dia menggeleng. "Entahlah," katanya. "Aku... aku hanya suka perasaan itu. Rasa yang alami. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Dan... kamu tahu, di luar sana ada banyak perempuan yang mendekatiku, bahkan ada yang sengaja mengenakan kemeja putih terawang dengan bra hitam di hadapanku. Tapi aku tak bisa merasakan apa pun. Bahkan, kupikir aku tidak normal. Sementara... kalau denganmu," dia menoleh dan menatap dalam kedua mataku, "tanpa kamu melakukan apa pun, kamu membuatku bergairah. Kamu membuatku merasa hidup. Dan... kuakui, kamu bisa membuat jiwaku sebagai lelaki bisa bangkit kapan pun. Dan aku suka dengan perasaan itu. Aku suka ketika aku bergairah saat berdua denganmu. Yah, aku tahu ini salah. Tapi...."
"Tidak. Kamu tidak salah. Setidaknya bagiku."
"Emm?"
"Aku tidak mempermasalahkan itu." Aku memeluknya, dan berbisik, "Terima kasih sudah mau jujur dan berbagi padaku."
Kurasa dia malu, dan ini saatnya aku pergi. Kulepaskan pelukanku darinya, dan kemudian...
Mencium bibirnya cukup lama. "Jangan bergairah sekarang, ya. Aku mesti sekolah."
Dan sedikit tawa untuk mencairkan suasana.
"Jangan meledekku," katanya, ia menahan tawa.
"Rileks saja, Daddy. I love you...."
"I love you more."
Aku membuka pintu, lalu menoleh sebentar dan mencium tangannya. "Kamu selalu ada di dalam pikiranku. Setiap detik. Setiap waktu. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Dan perpisahan itu kini dimulai.
Aku tidak boleh menangis. Hanya sementara, Kejora. Enam bulan lagi usiamu delapan belas. Bersabarlah.