
Sakit. Sangat sakit. Tega sekali Riko menggoreskan mata pisau itu ke telapak kakiku, menghasilkan luka yang lebar dan mengeluarkan banyak darah.
Rasa sakit yang tak pernah kualami sebelumnya merayapiku dan kepalaku rasanya mau pecah. Aku berteriak lagi, tapi suaraku teredam bandana yang tersumpal di mulutku. Aku hanya bisa meraung-raung tanpa suara.
Riko hanya meletakkan jarinya di sana, menekan saraf yang rapuh itu, sampai aku hanya bisa merintih, dan berhenti meraung.
Riko sakit jiwa.
"Begini rasanya, Kejora. Sakit, kan? Dan... dengan begini, Kejoraku tidak akan bisa melarikan diri."
Dia melemparkan pisau di tangannya ke dekat pintu. Saat kembali menatapku dengan senyuman jahat, ia menelusurkan jemarinya di kakiku, menyelinap ke dalam rokku dan memijat *ensual di antara pahaku.
"Bagaimana, Sayang? Pijatanku nikmat, bukan? Apa aku sudah membuatmu merasa nyaman? Hmm? Enak, kan?"
Aku menyorotkan pandangan membunuh yang menjanjikan kematian yang cepat dan menyakitkan.
"Tatapanmu membuatku bergairah, Sayang." Dia menarik rok dan *alamanku hingga terlepas melewati kaki.
Setan! Berengsek!
__ADS_1
"Ya Tuhan... dirimu indah sekali. Dan sungguh, aku mengambil risiko besar untuk bisa mewujudkan momen ini." Senyumannya berubah menjadi cemoohan. "Oh, itulah pengorbanan yang kulakukan demi dirimu. Setelah ini, mati pun aku rela. Aku tak akan mati penasaran berkatmu. Bercinta... denganmu."
Aku lebih baik mati daripada pasrah membiarkanmu menyentuhku!
Tapi Riko kembali menduduki pahaku, dia menarik kemejaku dengan kasar hingga kancing-kancingku terlepas hampir bersamaan.
Setan! Laknat!
"Indah sekali, Kejora." Dia menjilat bibir, menarik turun bra-ku hingga dadaku terekspose, lalu ia menekankan kedua tangannya pada bahuku dan membenamkan bibirnya di dadaku. Dia menarikku dengan mulutnya yang menjijikkan.
Lepaaaaaaaaaas...!
Riko nyengir, wajahnya benar-benar menyerupai setan, dan dia berbisik kepadaku, "Nikmat sekali, Kejora. Apalagi...."
Bajingan! Bajingan kau, Riko!
Sakit hatiku. Riko mengangkat sebelah kakiku dan menyelinapkan jarinya ke dalamku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi walau di dalam hati. Aku tak bisa mengumpat dan melontarkan kata-kata kasar lagi.
Menangis. Hanya itu yang kulakukan ketika jarinya bergerak-gerak nakal, melucuti rasa banggaku sebagai perempuan dan kehormatanku sebagai seorang istri.
__ADS_1
Tolong aku, Daddy... tolong kirim dia untuk menolongku, Tuhan... tolong....
"Sssh... aku sudah tidak tahan, Kejora. Aku ingin masuk dan merasakan kenikmatan tubuhmu. Wait...."
Riko bangkit, dia melepaskan celananya dan menampakkan sesuatu yang sudah membesar itu. Di saat itu pula aku berusaha bangkit, menapakkan kakiku yang kebas karena aliran darah berhenti sewaktu Riko menduduki pahaku, plus merasakan perih yang juga tak terhindar sewaktu kaki yang tergores itu menapak ke lantai. Namun sulit, aku terus menerus tersungkur.
Sesaat kemudian, sewaktu Riko mengacung-acungkan dirinya di hadapanku, ponselku berdering, suaranya samar dengan volume rendah, tapi getarannya jelas mengganggu Riko. Dia menunduk, meraih tasku dan mengeluarkan ponselku, bukan untuk menjawab panggilan telepon itu, melainkan membantingnya. Ponselku pecah, baterai dan penutup belakangnya terlepas dan terpental ke lantai.
Itu Daddy, aku yakin dia tengah mencariku.
Aku di sini, Daddy... aku di sini... tolong aku....
Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berdiri tegak dan menerajang ke arah Riko. Pertahanan terakhirku, aku lebih baik mati demi mempertahankan kesucianku. Riko terlentang, sementara diriku sendiri terjerembab ke lantai, dengan keadaan tangan terikat, aku tak bisa menahan diriku hingga aku tersungkur dan kepalaku kembali menghantam lantai. Suara bedebug keras adalah hal terakhir yang bisa kudengar.
Tolong, Daddy....
Aku berusaha menelungkup, kumiringkan kepalaku, dan aku melihat Riko mendekat. Aku kalah. Bersilang kaki di atasku, Riko menyentuh dan mengangkat kaki kananku dan menaruhnya di atas pahanya yang berada di atas kaki kiriku. Dan... kemudian pandanganku menggelap.
Aku tak sadarkan diri.
__ADS_1