Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Pembahasan Serius


__ADS_3

Aku tersenyum-senyum sendiri kalau mengingat ekspresi Daddy kala itu. Dia mengangkat tubuhnya, lalu menyeringai. "Aku sangat ingin," katanya. "Tapi aku tidak ingin menjadi lelaki bejat yang merusakmu sebelum menjadi milikku seutuhnya."


Aku yang berusaha santai mencoba melempar lelucon padanya. "Jadi, setelah kita menikah nanti, kamu akan merusakku? Hmm?"


"Bukan begitu. Aku salah bicara. Menyentuh setelah pernikahan, itu bukan merusak. Itu kewajiban."


Ah, aku tidak tahan tidak menjahilinya. Kulingkarkan lenganku di pinggangnya dan menyentaknya turun hingga ia menindihku lagi.


"Dasar. Jangan nakal, Kejora."


"Kamu yang nakal."


"Ssst... hati-hati. Sahutanmu bisa membuatku gemas dan ingin mel*matmu hingga habis."


Aku tersenyum. Aku tidak ingin menyahut lagi demi tidak membuatnya gemas -- yang berarti kembali bergairah. Aku mesti menghargai pengendalian diri yang mati-matian ia lakukan. Kecuali yang tadi, hanya sedikit jahil.


Daddy pun menyingkir dari atas tubuhku, dan duduk di balik kemudi. Untuk sesaat ia mengamati tubuhku dengan teliti, lalu berkata, "Jaga baik-baik dirimu. Kamu hanya untukku."


"Pasti. Aku hanya untukmu," kataku seraya bangkit dan duduk.


Dia mengangguk, memalingkan pandangannya dariku dan menggosok-gosok wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kemudian, dia meraih kemejanya, mengenakannya, lalu membuka pintu. Sebelum keluar ia menyuruhku untuk berganti pakaian. "Jangan lupa kunci pintunya. Jangan memancingku untuk masuk."


Hah!


Kalimatnya itu menggambarkan betapa ia sangat tersiksa. Trims, Daddy. Aku menghargai itu.


Aku sadar sepenuhnya kalau kemesraan di antara kami itu adalah hal yang salah -- salah besar. Bahkan, masuk kategori melewati batas. Tapi aku tidak ingin menyalahkannya. Dia sudah tersiksa lebih dari tujuh belas tahun, dan hatinya -- tentang bagian asmaranya, sudah menyakitinya selama belasan tahun. Dan sekarang, ketika hati itu sudah kembali hidup -- ada cinta yang kembali bersemi di sana, aku memahami kalau ia sedikit tak mampu mengendalikan diri terhadapku.


Setelah mengunci pintu, kuulurkan tanganku ke belakang dan meraih tas pakaian kami, lalu mengganti pakaianku. Setelah selesai dan menyimpan pakaian yang kotor, aku membuka pintu dan keluar. "Aku sudah selesai," kataku. "Daddy mau berganti pakaian? Silakan."


Dia mengangguk, masuk ke mobil dan... mengganti pakaiannya.


Pasti seperti ini yang ia rasakan tadi. Memikirkan ketika seseorang yang berada di dalam mobil itu sedang melepaskan pakaiannya yang basah -- seperti yang kupikirkan sekarang, dan, seperti yang kuinginkan sekarang: membuka pintu, masuk, dan menyambarnya sebelum ia sempat mengenakan pakaian ganti. Aku ingin merasakan keperkasaannya, kejantanannya, dan keliarannya ketika ia benar-benar bercinta denganku.


Oh, Daddy... ini penyiksaan.


"Sayang, ayo masuk."


Aku masih berkutat dengan imajinasiku.


"Kejora... bumi memanggil!"

__ADS_1


Aku tersentak. "Sudah? Cepat sekali?"


Ups!


"Maksudnya?"


"Oh, tidak. Bukan apa-apa, Daddy."


"So, what? Masuklah."


"Em, ya, tentu."


Dia bahkan tidak memberikanku waktu untuk mengatur napas.


"Kamu melamunkan apa?"


"Apa? Tidak ada, kok. Aku tidak melamun."


"O ya?" Dia tersenyum nakal. "Kamu kepingin masuk saat aku berganti pakaian tadi?"


Eh?


"Tapi wajahmu merah. Pipimu pasti panas."


"Daddy mah... jahil...."


"Sejahil kelakuanmu tadi? Hmm?"


Dia tergelak sementara aku menempelkan telapak tangan di kedua pipiku. Sumpah, ya... dia suka sekali membuatku merasa malu. Meski dia bisa membaca pikiranku sekalipun, mestinya ia tak menyebut itu di depan wajahku.


"It's ok. Tapi jangan sampai memikirkan orang lain -- lelaki lain, ya? Kamu hanya milikku dan hanya boleh memikirkan aku."


Ya ampun, terdengar posesif, tapi aku suka. Dia menarik tanganku dan menaruh telapak tanganku di bibirnya. Sentuhan lembut itu membuat bulu-bulu tanganku meremang.


"Kita cari makan dulu, ya. Berenang membuatku lapar."


Aku mengulum bibir. Kurasa akulah yang membuatnya lapar. "Oke. Asal tidak ada yang marah kalau kita pulangnya kemalaman."


"Tenang saja, aku sudah mengabari Kanjeng Ratu kalau kita akan pulang kemalaman."


Setidaknya itu membuatku rileks.

__ADS_1


Kami mampir untuk makan malam di sebuah restoran yang menjual iga bakar. Dan, dia memintaku untuk mencicipinya. "Kalau kamu bisa memasakkan ini untukku, seenak ini, aku akan semakin cinta dan memberikanmu surga sebagai balasannya."


Aku menatap fokus padanya, melihat cengirannya yang lebar dan sirat kebahagiaan di sana. "Akan lebih menarik kalau aku tahu makna sesungguhnya dari kata surga itu."


"Hanya pengandaian, Sayang. Tapi lupakan. Intinya, aku ingin kamu belajar memasak ini untukku."


Dia tidak tahu kalau aku sudah ahli, bahkan dengan rasa yang sama persis dengan yang baru saja kucicipi. Aku akan memberinya kejutan besok saat ia membawa Oma pulang.


"Aku janji. Aku akan memasakkan ini khusus untukmu dan memastikan rasanya akan selezat ini. Dan... aku tidak akan meminta atau mengharapkan apa pun. Aku sudah mendapatkan segalanya."


Dia menggeleng. "Kurasa belum," katanya. "Kita belum menikah dan belum memiliki anak. Akan sempurna jika kita sudah memilikinya nanti."


"Sabar, ya. Hanya enam bulan lagi."


Dia menghela napas dalam-dalam dan menatap ke dalam mataku lekat-lekat. "Katakan, kamu akan ikhlas menjalani ini?"


"Eh? Memangnya kenapa? Aku ikhlas, kok."


"Tapi ini bukan zaman ibumu."


"Maksudnya?"


"Kamu ada di zaman sekarang, di mana perempuan menginginkan pendidikan yang tinggi, karir, dan bukan malah mengurusi anak di masa muda."


Aku mengerti. Dia menginginkan istri dan anak, tapi ia juga tak ingin menjadi penghalang bagiku untuk meraih cita-cita seperti yang diidamkan banyak gadis yang -- pintar sepertiku. Namun, aku tidak langsung menuturkan kalimat-kalimat bijak yang bisa meringankan hatinya.


Daddy kembali menatap ke dalam mataku lekat-lekat. Bisa kulihat urat nadi di pelipis mata kirinya -- yang biasa muncul kalau dia sedang berkonsentrasi. Dia menatapku untuk mencari-cari jawaban.


"Kamu gadis yang pintar. Prestasimu bagus. Nilai-nilaimu tinggi. Dan aku tahu kamu memiliki pengetahuan yang luas. Dan... Ibu juga pernah bilang kalau kamu ingin sekolah yang tinggi dan memiliki karir yang bagus. Tapi...."


Sebaiknya ini tak pernah diungkit. Aku takut pada diriku sendiri dan akan menggoyahkan keyakinanku untuk menerima takdir -- yang mungkin itulah yang terbaik: bahwa aku terlahir untuknya.


Katakanlah sesuatu, Kejora!


Persis di saat itu Daddy menggenggam tanganku. "Aku menginginkanmu. Tetapi aku tidak ingin jika kamu tidak ikhlas menjalani pernikahan kita nanti."


"Aku sudah memikirkannya masak-masak." Kur*mas jemarinya dengan lembut dan aku tersenyum. "Aku ingin menjadi penulis saja. Apa saja, novel roman, mungkin. Supaya aku bisa mengurusi keluargaku. Mertua, anak, dan suamiku. Aku akan tampil cantik saat suamiku pulang, membuat perutnya kenyang, dan... titik-titik. Isi saja sendiri."


Daddy tersenyum hangat, dan nyaris cekikikan. "Trims, kamu terbaik."


"Em, hanya enam bulan lagi. Dan aku akan segera menjadi pengantinmu. I love you, Gibran Aditama."

__ADS_1


__ADS_2