Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Terikat Janji


__ADS_3

"Ayolah, malu pada umur kalau ngambek-ngambekan begitu."


Masih tidak mau menyahut, dia hanya mengangguk lalu keluar dari air. Dan persis di saat itulah tatapanku terpaku melihat tubuh sixpack-nya yang telanjang, dan -- basah. Terlebih...


Uuuh... ya ampun, dia hanya mengenakan celana pendek ketat. Aku tak bisa mencegah mataku menjelajahi tubuhnya dan akhirnya terfokus di sana. Di tengah-tengah. Bahkan, tanpa sadar aku meneguk salivaku sendiri. Dia benar-benar pria seksi yang menguji keimananku sebagai gadis yang masih sangat belia.


Uh, otakku mulai konslet.


"Jaga pandanganmu," tegur Daddy sementara ia menarik handuk dan mengeringkan tubuh juga rambutnya. Ketika ia duduk di kursi malas, ia menutup pangkuannya dengan handuk itu sementara tangannya meraih kaus lalu mengenakannya. Pemandangan yang menggairahkan itu pun sirna di depan mata. "Terima kasih," ucapnya seraya mengambil satu pisang lalu menyantapnya.


Aku mengangguk. "Sama-sama. Enak, tidak?" tanyaku. Aku duduk di kursi di seberang Daddy. Ada meja kecil di tengah-tengah di antara kami.


"Masakanmu selalu enak," puji Daddy.


"Terima kasih pujiannya."


"Yah, walaupun lebih enak kamu, sih!"


"Ah, Daddy... jangan begitu...."


"Apa? Ada yang salah? Hmm?"


Aku merengut.


"Bibirmu jangan dibegitukan, bisa?"

__ADS_1


"Apa? Ada yang salah? Hmm?" tiruku.


"Tolong dong, Sayang. Jangan membuatku gemas. Pertahananku bisa runtuh kalau melihatmu menggemaskan seperti itu. Aku jadi pingin menyambarmu, tahu!"


Hah! Dia mulai meresahkan.


"Baiklah, baiklah," kataku.


Mode ceria langsung aktif.


"Aku minta maaf, ya?" katanya.


"Minta maaf? Untuk apa?"


"Untuk semuanya. Kesalahanku, artikel-artikel viral itu, dan... aku minta maaf atas teguran Oma tadi."


Dia mengangguk. "Pasti," ujarnya. Dan...


Seperti itulah yang terjadi. Walaupun rasanya berat. Bahkan, di hari pertama Daddy mengantarku ke sekolah pada keesokan paginya, dia merentangkan telapak tangan kirinya dan menjulurkannya kepadaku, sementara tangan kanannya fokus memegang setir.


Aku mengerti apa yang ia inginkan. Kendati wejangan Oma saat kami masuk ke mobil tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku supaya kami menepati janji dan aturan-aturannya -- aku tetap menyambut uluran tangan Daddy hingga jemari kami saling bertaut.


"Tidak apa-apa, kan? Hanya pegangan tangan."


"Ya. Hanya pegangan tangan. Sebatas ini."

__ADS_1


"Trims. Di dekatmu tanpa menyentuh itu rasanya berat."


"Yeah, aku tahu. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga...."


Dia mencium tanganku.


Uuuh... seperti setrum. Ciumannya mengalirkan getaran-getaran menggelitik.


Sabarlah, Kejora. Fokuslah pada ujianmu dulu. "Daddy, jangan nakal. Kita kan sudah berjanji pada Oma."


"Tidak akan."


"Aku percaya padamu."


"Trims," katanya. "Dan omong-omong, ingat, ya, nanti fokus ujian. Jangan diladeni kalau ada yang mengganggu. Lebih baik menghindar dari makhluk-makhluk yang semacam itu. Kalau ada yang nekat mengajakmu ribut, bilang calon suamimu menunggu di luar. Oke?"


Lucu sekali. Aku menahan senyum geli. "Iya, Calon Suami. Terima kasih sudah mengantar dan menjagaku."


Aku mencium tangannya. Dan, saat aku ingin keluar dari mobil, dia malah menahanku. "Cium kening, ya, Sayang? Boleh?"


Aaah... bagaimana aku bisa menolaknya, coba?


Oh, Oma... cuma cium kening. Boleh, kan? Supaya semangat juga ujianku. Haha!


Dan sekaranglah waktunya: ujian... I am coming....

__ADS_1


Semangatku membara.


__ADS_2