Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Jebakan


__ADS_3

Aku sudah menyelipkan sebuah pisau kecil di balik kemejaku, untuk sekadar berjaga-jaga kalau aku terjebak dalam situasi yang tak diharapkan. Dan sewaktu Daddy hendak menemaniku masuk ke dalam lingkungan sekolah, aku mencegahnya.


"Kamu yakin?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Daddy tunggu di mobil saja. Aku tidak ingin banyak orang mengumpat kita kalau mereka melihat Daddy masuk ke dalam."


"Ya tidak apa-apa, kan? Apa masalahnya?"


"Aku tidak mau. Ini terakhir kali aku ke sini, aku tidak mau meninggalkan kesan-kesan yang tidak enak."


"Baiklah. Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu. Dan Tiara, tolong jaga Kejora, ya? Titip dia sebentar."


"Siap, laksanakan. Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan istri Mas Gibran ini sendirian. Percaya padaku."


Pada lebay, ya, bicaranya....


"Ayo, Ra," kataku. "Bye, Suami. Aku mencintaimu. Emmmuach!"


Daddy tersenyum, senyuman yang ingin selalu kulihat. Namun... waktu sudah tak berpihak kepadaku, dalam waktu yang cukup lama.


Hari itu, saat pembagian ijazah -- itu diurutkan berdasarkan absen. Dinda sudah pulang duluan setelah mendapatkan ijazahnya. Dia ada keperluan penting. Sementara aku, setelah mendapatkan ijazahku, aku menunggu Tiara di luar ruangan. Tetapi...


Arini, teman sekelasku, dia merasa mual dan tak sengaja menumpahkan mie cup di tangannya ke kemejaku. Aku sampai terpekik kaget karena kuahnya lumayan panas, untungnya tak membuat kulitku sampai melepuh.


"Ya ampun, sor--" Dia mual lagi. "Sori, Ra--"

__ADS_1


Aku tak sempat merespons, Arini terus mual hingga orang-orang yang masih berada di dalam ruangan merasa terganggu.


"Tolong, bisa antar gue ke toilet? Gue...." Dia sempoyongan.


Tanpa bisa berpikir panjang karena kasihan pada gadis itu, aku pun berbaik hati untuk mengantarnya, kupikir sekalian aku ingin membersihkan kemejaku.


Sebenarnya ada rasa waspada di benakku, mengingat Tiara tak di sampingku, namun kupikir aku tidak sendirian, ada Arini di dekatku. Tidak mungkin peneror itu akan menggangguku, lagipula ini di dalam lingkungan sekolah, walaupun sedikit hening karena ada ujian untuk siswa kelas sepuluh dan kelas sebelas.


Tapi, betapa naifnya aku hingga bisa berpikir demikian.


Di dalam toilet, Arini masuk ke salah satu bilik, dia mau pipis katanya. Dan aku, aku baru hendak mengeluarkan ponselku untuk menghubungi Daddy, aku ingin meminta tolong supaya ia mengantarkan jaketku, agar aku bisa menanggalkan kemeja putihku yang kotor. Namun, belum sempat aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas, bayang-bayang yang gelap menutupi penglihatanku. Dalam kelebat cepat, seseorang menutup mulutku dan menarikku mundur, masuk ke bilik toilet yang segera tertutup.


Aku megap-megap kehabisan napas, dan kepanikan menyerbu benakku.


Tanpa harus menoleh ke belakang, aku tahu itu Riko. Sambil tangan kiriku menahan tasku, aku berusaha melepaskan bekapan tangan Riko, semetara tangan kanan menyelinap ke belakang, aku meraih pisau lipatku di balik kemejaku, membuka lipatannya dan menusukkannya ke Riko. Namun sayang, karena posisinya di belakangku, tusukanku hanya mengenai paha atasnya.


"Berengsek!"


Riko mengeran* kesakitan, ia tersungkur ke lantai menahan luka di pahanya. Di saat bersamaan aku hendak melarikan diri namun Riko lebih sigap hingga mampu menahan kakiku.


"Argh!" Riko kembali mengeran* kesakitan, posisinya yang berlutut di lantai menahan kakiku memberiku kesempatan menusuk punggungnya.


Tapi kekuatanku tidak cukup untuk melawannya, Riko naik pitam, dia mendorongku keras-keras hingga aku terlempar dan kepalaku menghantam keras ke dinding. Sakit sekali, aku sempoyongan dan sedikit pusing. Dari tangan yang refleks memegang kepala, aku melihat darah di jemariku. Sepertinya itu darahku, juga darah Riko dari bekas tusukanku.


"Bajingan!"

__ADS_1


Aku tak menggunakan kesempatan itu untuk berteriak meminta pertolongan, melainkan berusaha menjangkau pisau yang tergeletak di lantai. Tetapi...


Sial!


Tidak seperti di dalam mimpiku. Dalam kejadian nyata ini Riko berhasil mencegatku, dia menarikku, dan saat aku berteriak, Riko mengambil kesempatan untuk menjejalkan bandana ke mulutku. Sebelum aku bisa melakukan apa-apa, ia mengikatnya di sekitar kepalaku. Aku mengangkat tangan untuk mencakarnya, menjambaknya, melakukan apa pun padanya, tapi dengan cepat diikatnya kedua pergelangan tanganku bersama-sama di belakang tubuhku.


Air mata malu membasahi pipiku. Bodoh sekali aku!


Sekarang kondisiku tidak bisa melawan, dia menduduki kedua kakiku sampai-sampai aku tak bisa menggerakkannya sama sekali.


"Itu bandana baru, Sayang," katanya lembut, nyaris berbisik. "Masih wangi dan bersih. Sayangku boleh berterimakasih kepadaku nanti."


Aku menyandarkan kepala dan memelototinya.


"Sorot matamu mengatakan kamu ingin membunuhku," dia bicara di depan wajahku, dekat sekali seakan tanpa jarak. "Tapi sayang, air matamu menunjukkan dirimu cuma bayi yang cengeng."


Bajingan! Berengsek!


"Oh, Kejora... sejak lama aku ingin sekali merasakanmu. Aku mencintaimu, aku ingin memilikimu, tapi yang selalu kamu berikan hanyalah rasa sakit. Kamu mau tahu bagaimana rasa sakitnya? Seperti ini."


Dia menjangkau pisauku, lalu menyingkir dari atasku, aku belum sempat berdiri tapi Riko berhasil melepaskan kedua sepatuku.


Srettt!


Aaaaaaa...!!!

__ADS_1


__ADS_2