
Huh! Sebal aku pada diriku sendiri.
Kejora... Kejora, harusnya kau bisa mengendalikan diri! Ingat pesan Oma, jangan bermesraan dengan lawan jenis di dalam ruangan tertutup. Bahaya! Tak terkecuali bersama Daddy. Bagaimanapun juga ia adalah seorang pria dewasa dan sudah cukup lama menduda.
Aku lekas bergegas keluar pondok saat Daddy menerima telepon. Beberapa menit kemudian ia pun menyusul, aku masih berdiri di beranda menunggunya.
"Ayo," ajaknya.
Daddy mengulurkan tangan dan aku menyambutnya. Choky dan Tamara pun sudah siap rupanya, hanya tinggal memasang pelana di punggungnya masing-masing.
"Siap?"
"Em, hanya sedikit waswas."
"Tenang saja. Tamara kuda terlatih. Dia jinak. Dan dia mencintai Choky."
Aku mengernyitkan dahi. "Apa hubungannya dengan cinta?"
Daddy terbahak, lalu berkata, "Kalau ia tidak terikat, Tamara akan ikut ke mana pun Choky pergi."
Euw! Dasar sableng!
Aku menggeleng-gelengkan kepala menanggapi lelucon Daddy yang garing itu. Lalu seperti kemarin, Daddy memeluk pinggangku dan mengangkatku ke pelana, menyesuaikan kendalinya, dan menyerahkan tali kekang kepadaku. Ketika ia yakin bahwa aku sudah nyaman, ia naik ke punggung Choky.
__ADS_1
"Kita mulai dengan perlahan," kata Daddy, matanya mengerling kepadaku.
Iya, Daddy. Memang segala sesuatu itu mesti dimulai dengan perlahan. Aku terkikik dalam hati.
Otakku parah! Capcay deh!
"Kita mulai, Sayang." Sambil mendecakkan lidah kepada kudanya, Daddy memimpin jalan keluar dari pekarangan.
Seperti kata Daddy, Tamara mengikuti Choky tanpa dorongan dariku, yang mencengkeram tali kekang dan pegangan pelana sementara kuda itu bergerak keluar.
"Santai saja, Sayang," Daddy menyarankan sambil melirik ke balik bahunya.
"Mudah bagi Daddy mengatakannya. Aku waswas, Daddy." Nyaliku mendadak ciut.
"Jangan takut. Aku bersamamu, Sayangku," dia mengatakan hal itu dengan gaya selengekan.
Tetapi, ketika kami menyusuri jalan setapak, aku sudah tidak takut jatuh lagi, Tamara melangkah dengan lancar dan mantap, dan aku mendapati diriku mengagumi pemandangan indah di depan mataku: Daddy, dengan punggungnya yang lebar dan nampak begitu jantan duduk di atas pelana. Ia seperti kesatria berkuda dalam film-film laga era sembilan puluhan. Mengagumkan.
"Sekarang kita lakukan lebih cepat. Choky dan Tamara butuh berlari sedikit."
Aku mengangguk. Awalnya, aku melompat-lompat seperti popcorn di atas mesin pemanggang, tetapi dengan petunjuk Daddy, aku dengan segera belajar duduk mantap di pelana, menyesuaikan gerakanku dengan gerakan kuda.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Daddy, ia berhenti di tempat kemarin, di sekitar padang rumput yang indah itu.
__ADS_1
Kutepuk leher Tamara dan ia berhenti. "Baik," kataku. "Aku menikmati ini, Daddy. Sungguh menyenangkan. Seru...."
"Bagus. Itu berarti quality time kita sangat berhasil, bukan? Daddy tidak mengecewakanmu, benar?"
Aku mengedikkan bahu. "Memang. Tapi... jangan bilang Daddy mau mengantarku pulang ke Jakarta sepulang dari sini."
"Kenapa bilang begitu?" tanyanya. Dengan sekali tarikan pelan tali kekang, Daddy menggerakkan kudanya ke dekat kudaku, sehingga kami berhadapan, lutut dan paha kami bersentuhan. "Aku suka bersamamu, Kejora. Segalanya terasa indah saat kita bersama."
Deg!
Tatapan kami bertemu dan kami berpandangan. Dan lagi, dengan amat perlahan, Daddy mencondongkan tubuhnya ke arahku, menyelinapkan tangannya di sekeliling pinggangku dan menarikku lebih dekat.
"Eummmmm...."
Mulutnya menutupi mulutku, membuat jantungku seketika -- seakan berhenti berdetak dan membuat rasa panas menyebar ke dalam diriku yang langsung menuju perut. Dan ciuman Daddy kali ini lebih dari ciumannya yang kemarin. Ia bukan hanya menempel dan membenamkan bibirnya seperti kemarin. Kali ini ia meng*lum lembut bibirku dan membuatku tak mampu menahan diri hingga kali ini aku...
Aku membalasnya. Aku membalas ciumannya, balas meng*lum bibirnya, dan... ketika lidahnya membelai bibirku... rasanya alami sekali membiarkan lidahnya bertemu dengan lidahku. Oh, ya ampun... bahkan aku membiarkan ia menikmati lidahku seperti permen lolipop yang manis. Dan gemas, ketika kami saling menggigit pelan bibir satu sama lain. Sungguh, lagi-lagi aku gemetar karena nikmatnya sentuhan Daddy.
Uuuh... andai saja kuda Daddy tak bergerak dan mengentakkan kaki, memutuskan kontak di antara kami, aku dan Daddy masih saling menempel dan berciuman mesra di sore yang indah ini.
"Sudah sore," kata Daddy sambil mengulum bibir menahan senyum. Suaranya menyelubungiku, serak karena mendamba. Kukira ia akan menciumku lagi, ternyata tidak. Aku agak kecewa ketika ia kembali duduk di pelananya. "Kita pulang, ya."
Aku mengangguk. Dan akhirnya aku pun bersyukur karena Daddy tidak melakukannya. Kalau dia menciumku lagi seperti ciumannya yang tadi, bisa-bisa aku akan memohon padanya untuk bercinta denganku di rumput yang tinggi ini.
__ADS_1
Ingat, Kejora, saat di pondok nanti, kau harus pandai menjaga jarak dengannya.
Aaaaah... tapi itu susah. Kehangatan pria dewasa itu sangat sulit untuk ditolak. Aku... terpesona.