Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Gerah!


__ADS_3

Rasa bersalahku pada Oma membuatku canggung. Masakanku terasa hambar dan mesti diralat oleh Oma. Pada saat makan siang pun suasana masih terasa asing. Aku tak bisa berhadapan dengannya sebelum aku meminta maaf secara khusus padanya. Aku tidak ingin berlarut-larut dengan perasaan yang menyiksa ini. Maka, di siang menjelang sore itu aku menghampiri Oma saat ia berdiri di depan meja dapur. Kupeluk ia dari belakang dengan erat.


"Kenapa?" tanyanya.


"Kejora minta maaf."


"Iya... asal kamu menepati janji."


"Iya, Oma. Pasti. Aku tidak akan mengecewakan Oma lagi. Aku janji."


"Bagus. Kamu ingat, kan, pesan Oma? Gibran itu pria dewasa. Dan dia itu duda. Kamu yang harus pandai-pandai menjaga diri. Kalau tidak, habis kamu dilahapnya. Kamu paham, Kejora?"


Aku malah nyengir dan bergeser darinya. "Oma ini, ya. Anak sendiri, kok dijelek-jelekkan begitu?"


"Itu fakta," katanya, sambil fokus mengupas buah pisang di tangannya. "Tidak bisa dipungkiri, Kejora, bukan berarti dia anak kandung Oma lantas Oma cuma mengatakan hal-hal yang bagus tentang dia. Nope. Tidak bisa begitu. Dia pria dewasa, duda, normal dan jantan. Bagaimanapun sifat baiknya, dia punya sifat alami seperti hewan liar. Iya, kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk. "Ya," kataku.


"Nah kan, ketahuan. Kamu pernah diapa-apain oleh Gibran, kan?"


Eh, busyet. Jebakan.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku meyakinkan Oma. "Bukan begitu, Oma. Aku... aku tidak pernah...."


"Jangan diulangi! Yang penting sekarang kamu masih perawan, kan?"


"Kamu masih sangat polos, Kejora. Jangan sampai terbuai. Oke? Dengarkan kata Oma."


Sekali lagi, aku hanya bisa mengangguk.


"Ini, kamu goreng pisangnya. Jangan lupa taburi cokelat dan antarkan ke belakang. Kekasihmu sedang murung di sana."

__ADS_1


Sedikit terkejut, sebelah alisku pun naik. "Aku boleh ke sana, Oma?"


"Oma tidak melarang kalian bertemu, tidak melarang kalian mengobrol, sebelumnya juga tidak melarang kalian mesra. Tapi karena sekarang Gibran sepertinya sudah kelewatan, Oma tidak bisa diam saja. Bagaimanapun juga, kamu gadis kesayangan Oma. Oma menjagamu dari bayi bukan untuk dirusak oleh anak nakal itu."


Dia nakal juga gara-gara aku. Karena hasratnya terhadapku. "Aku yang salah, Oma. Tapi aku janji mulai sekarang aku akan menjaga diriku baik-baik dan aku juga akan menjaga anak Oma supaya dia tidak nakal-nakal lagi."


"Iya, iya, aku tidak akan nakal lagi. Cerewet sekali, ya, kalian berdua," suara Daddy mengagetkan kami. Dia baru saja masuk dan mengambil minum di lemari es dengan wajahnya yang cemberut. Dan itu sontak membuat Oma jadi terkekeh.


Setelah tawanya reda, Oma menyuruhku melanjutkan pekerjaannya sementara ia pergi entah ke mana. "Jangan melanggar janji...," serunya sembari menjauh.


Ya ampun, ibu dan anak itu punya sifat anehnya masing-masing. Dan aku tersenyum karena mereka.


Pisang gorengku siap beberapa menit kemudian. Taburan cokelatnya meleleh di atas pisang yang masih panas. Satu porsi dengan piring cukup besar kutaruh di dalam lemari kaca, dan satu porsi dengan piring kecil kubawa ke halaman belakang plus satu gelas besar chocolate milkshake. Daddy sedang berenang rupanya. Mungkin dia gerah karena harus menerima sikap dingin dari ibunya sendiri.


"Hai," sapaku. "Ngemil, yuk? Pisang goreng spesial buatanku."

__ADS_1


Tapi dia malah menatapku dengan sebal. Asli, dia bersikap seperti ABG. Lucu, menggemaskan, sekaligus membuatku merasa geli. Siapa yang usianya belasan dan siapa yang usianya kepala tiga menjelang kepala empat? Dunia sudah terbalik.


__ADS_2