
"Ceritakan padaku, dari mana fantasi liar itu?"
Daddy yang sekarang terbaring di sampingku dengan posisi miring dan menutupi bagain vital tubuhku -- cengar-cengir sambil menahan tawa. "Aku juga pernah muda, Sayang. Aku juga pernah bergaul dengan pemuda-pemuda nakal. Pernah nonton video begituan. Jadi sekalinya melihat sesuatu, otak bisa berpikir cemerlang. Mantap, kan?"
Mantap? Iya kah? Kurasa lebih dari itu. Terlalu mantap malah sampai aku super kelelahan. Untung saja aku manusia ciptaan Tuhan, coba kalau hanya berupa adonan tepung, pasti sudah tak jelas bentukannya.
"Terus, soal tidak membiarkanku ke kamar mandi?"
Cup! Dia mengecup bahuku. "Aku sengaja ingin menyiksamu. Membalas kejahilanmu. Makanya... kamu jangan suka jahil padaku. Enak, kan, dibalas?"
"Enak, sih. Tapi bikin aku malu."
"Kenapa malu? Enak, tahu! Anget."
"Bau ancing."
"Tidak, kok. Ancingnya perempuan cantik itu tetap enak. Aromanya sedap."
Wuek! Dia kurang se-ons, ya. Lebay sekali....
"Daripada mendengar gombalanmu itu... mending kita masuk sebentar, ambil buah dan minuman, plus handuk, terus berenang. Bagaimana?"
Semuanya jadi agak repot karena kami mesti terus menempel. Oh, andai saja. Aku bisa mengambil semua itu sendiri tanpa perlu merepotkan Daddy. Dia tetap bisa berbaring di kursi malas sementara aku meladeninya.
__ADS_1
"Memangnya tidak lelah?"
"Berenangnya santai saja."
"Kurang bagus. Mending begini, kita berenang sampai ke ujung sana, terus keluar dari kolam, dan segera masuk ke dalam rumah, mandi dan bersih-bersih, berpakaian, nonton TV, santai dan cemal-cemil. Asyik, kan? Kamu tidak boleh kelelahan, nanti malah jatuh sakit. Kamu mau cepat hamil, kan?"
Hmm...
"Ayolah, aku tidak ingin Kejoraku kelelahan."
Well, aku mengangguk. Kami turun dari kursi malas dan masuk ke air, berenang dari ujung ke ujung, dan aku sengaja berlama-lama hingga Daddy berhasil mencapai tepi kolam lebih dulu. Dia berdiri di sana, menungguku dengan tubuh polosnya yang membuatku cekikikan. "Bagaimana kalau kita bercinta lagi di sini? Aku tidak keberatan membantumu kembali bergairah."
"O ya? Caranya?"
Hah! Sok polos. Daddy tidak mungkin tidak mengerti meski aku belum pernah menyenangkannya dengan mulutku dan dia sendiri tidak pernah memintanya.
"Tapi kamu akan kelelahan, Sayang."
"Tidak apa-apa. Dengan begitu aku akan tidur nyenyak malam ini. Please?"
"Baiklah, apa pun untukmu." Dia menurut, dan duduk di tepi kolam. Aku pun segera memosisikan diri di antara kedua kakinya. "Kamu yakin mau melakukannya?"
Dengan yakin, aku mendongak menatap kedua matanya. "Aku ingin belajar. Boleh?"
__ADS_1
"Well, aku milikmu."
"Cium aku dulu."
"Apa pun, Kejora."
Dia menunduk, menciumku, panas dan bergairah, dan dia membiarkan lidahku masuk ke dalam kerongkongannya. Aku ingin menelan lidahnya seperti gadis yang kulihat di bioskop tadi siang.
Kemudian, setelah ciuman itu berakhir, aku mulai menggenggamnya. "Aku ingin belajar. Jangan protes kalau aku membuatmu tidak nyaman, ya?"
"Yes, Baby, aku akan mengerti. Tapi aku yakin kamu mampu melakukannya dengan baik."
Uuuuuh... dia tersenyum senang. Di lain waktu, aku akan lebih mudah mengalihkan pikiranku dengan cara yang menyenangkan. Bercinta dengan kekasih hatiku. Seorang pria dewasa yang manis dan menggairahkan. Well, aku memulainya. Merasakannya dengan mulutku. Dan, sesuatu yang lebih nakal terlintas di benakku. Bagaimana kalau ia dilumuri cokelat?
"Sssssh... demi Tuhan, Kejora. Kau yang terbaik."
Oh, Daddy memujiku. Dia menikmati sentuhanku, dan kurasakan otot-ototnya telah kembali menegang. Ia tampak kuat dalam genggamanku, keras namun kenyal di mulutku.
Dalam beberapa saat kemudian, Daddy mencengkeram rambutku, dalam gerak kasar tapi tidak menyakiti. "Kau ingin menyelesaikanya seperti ini, atau mengizinkanku masuk?"
"Apa pun, katakan saja, apa pun yang diinginkan suamiku."
Senyum hangatnya mengembang, dia masuk ke air dan mengangkat tubuhku, merebahkanku di tepi kolam. Dan tepat di sanalah, kami menyelesaikan sesuatu yang belum selesai pada enam bulan yang lalu.
__ADS_1
"Aku akan membalasmu yang pernah membohongiku. Omamu tidak ada di sini, Sayang."
Aaaaah... pembalasan dendam yang manis. Sungguh, dia meyentakku dengan kuat dan berirama. Oh, Daddy... betapa perkasa dan jantannya dirimu. Kau, sangat memabukkan.