
Merinding. Tidak ada yang salah dengan kata-katanya, malahan terlalu bermakna. Well, kuanggukkan kepalaku dengan sedikit senyuman. "Aku berjanji. Hanya... kamu. Aku terlahir hanya untukmu."
Sialan! Aku merasa pipiku memanas. Aku tidak pintar berkata manis, tidak bisa memikirkan balasan singkat dan mengena yang sepertinya sudah disiapkan oleh kebanyakan gadis yang kukenal jika berhadapan dengan situasi seperti ini.
"Terima kasih," ucapnya, dan senyumnya mengembang, lalu ia mencium tanganku.
Aaah... rasa bahagia meletup-letup di hatiku. Manis sekali perlakuannya.
Aku berdeham. "Katanya lapar. Apa sudah tidak lapar lagi sekarang?"
"Em, memandangimu membuat selera makanku jadi hilang, sungguh dalam arti yang baik."
Oh, ya ampun. Aku menyumpah dalam hati. Apa yang membuatku mengatakan hal itu? Sekarang Daddy malah bergombal-gombal ria terhadapku.
"Ayo, sebaiknya kita sarapan dulu. Aku takut kena diabetes karena mulut Daddy yang terlalu manis."
Kami pergi ke resto yang berada di tepi jalan itu. Daddy memesan burger dan kentang goreng dobel, juga kopi hitam, plus sandwich serta susu cokelat untukku.
"Kenapa Daddy suka kopi hitam? Kan rasanya pahit."
"Kan ada kamu. Sekarang semuanya terasa manis."
__ADS_1
"O ya? Aku kan sudah ada sejak dulu. Harusnya dari dulu--"
"Tapi manisnya baru terasa sekarang. Rasamu manis. Semuanya."
Aku menelan ludah dan tiba-tiba malu. Dia baru menciumku, dan sedikit mencicipi bagian sensitif dari tubuhku. Bagaimana nanti setelah...?
Pikiran apa sih itu? Enyahlah!
Oh, untung saja, persis di saat itu pelayan datang membawa pesanan kami. Aku menunduk, berkonsentrasi pada sandwich telurku, seakan makanan itu bisa melompat dari piring dan melarikan diri kalau aku tidak mengawasinya setiap saat.
Ketika kami selesai sarapan, kami langsung pergi, dari Malang menuju Surabaya dan langsung ke pemakaman. Kami membeli bunga tabur, menaburkannya di pusara ibuku dan aku sempat mengusap batu nisannya. Sungguh, aku tidak ingin berbicara dengan kuburan atau tulang-tulang dari jasad ibuku yang ada di dalam sana. Tapi aku tidak bisa menahannya.
Tak terasa, ada bulir bening yang menetes dari mataku. Aku segera menyekanya dengan jemariku lalu mendoakannya. Setelah itu, kuulurkan tanganku dan Daddy menyambutnya.
"Dia akan merestui kita, kan?"
"Pasti," kata Daddy, dia mengangguk.
"Aku janji," kataku. "Aku akan membahagiakanmu, seperti yang selalu ingin ia lakukan untukmu."
Ah, pemilihan kata yang salah. Daddy tertegun, dan kurasa ada sedikit rona malu sejenak kemudian karena kata-kataku yang -- mungkin menggetarkan hatinya.
__ADS_1
"Terima kasih. Dia akan bahagia kalau kita berdua bahagia."
Tentu saja. Aku mengerjapkan mata ketika sentakan kesadaran dari bunga-bunga cinta beterbangan di antara kami.
"Ayo, kita mesti mengejar kereta pagi supaya tiba di Jakarta tidak kemalaman."
Aku bergerak sambil tersenyum lebar padanya. "Well, tidak perlu naik pesawat supaya sampainya tidak kecepatan."
Daddy tertawa mendengarnya, dan aku tertawa bersamanya. Kami segera kembali ke mobil dan menuju stasiun. Setibanya di sana, Oom Hendri sudah menunggu kami. Daddy memakai ranselnya lalu mengeluarkan koperku dari bagasi. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan Daddy dan Oom Hendri, mereka berbisik-bisik dan tersenyum pada satu sama lain.
Terserahlah pikirku. Kami pun berpamitan pada Oom Hendri.
"Sampai jumpa tahun depan, Kejora. Oom pasti datang ke pernikahan kalian."
Aku mengangguk. "Ya, Oom."
"Dan Oom punya villa yang cocok untuk bulan madu kalian nanti."
Ih, menyebalkan sekali bercandanya. Oom Hendri terkikik-kikik sementara aku menahan malu -- meski dalam artian yang baik.
Tapi tetap saja, itu bentuk bercanda yang berlebihan untuk gadis perawan 17 tahun.
__ADS_1