Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Hadiah Terindah


__ADS_3

Ujian pertama yang dihadapi oleh semua murid kelas tiga ialah sejumlah ujian praktik. Mulai dari laboratorium kimia dan fisikia, mata pelajaran bahasa Indonesia, olahraga, kesenian yang mencakup seni musik, tari, dan seni rupa, serta praktik mata pelajaran pendukung lainnya.


Seminggu kemudian ujian tertulis sekolah. Semua murid nyaris tak bisa bernapas. Seisi sekolah diliputi atmosfer ketegangan dan kecemasan. Beberapa murid malah ada yang jatuh sakit karena terlalu stres, terlebih cuaca buruk setiap hari membuat suasana bertambah suram. Aku sendiri merasa tegang karena ujian tertulis sekolah memang susah sekali. Waktu tidurku semakin berkurang karena aku harus belajar sampai larut demi menguasai semua materi.


Kemudian setelah ujian sekolah usai, waktunya ujian nasional untuk beberapa mata pelajaran inti. Setelah itu barulah terasa lega. Semua murid bersorak gembira pada hari terakhir ujian, membanjiri halaman sekolah untuk mengobrol, tertawa keras-keras, dan bercanda. Mengekspresikan rasa lega terbebas dari segala beban dan tinggal menyambut kelulusan. Tentu saja, semua murid yakin akan lulus meski dengan nilai terendah sekalipun. Asal kau bukan murid yang sering bolos dan melanggar aturan sekolah, dijamin pasti akan lulus.


Ya, aku sangat lega. Dengan selesainya ujian dan segala hal yang menyangkut kelulusan SMA, berarti aku bisa fokus dengan urusan pernikahan. Sebelum pulang, aku sempat berbincang-bincang dengan Dinda dan Tiara dan aku memberitahu mereka tentang rencana pernikahanku dengan Daddy. Mereka sedikit agak terkejut dan menyayangkan keputusanku karena aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah -- entah suatu saat nanti, tapi tidak sekarang. Aku ingin fokus menjalani kehidupan baruku sebagai seorang istri, dan, yeah, aku mengakui pada mereka kalau aku tidak keberatan untuk menjadi seorang ibu muda setelah menikah nanti. Dinda merasa geli atas gagasan itu karena berbanding terbalik dengan dirinya. Dia ingin melanjutkan sekolah bahkan mungkin sampai S3. Sementara Tiara, dia ingin menekuni bisnis keripiknya dan bercita-cita menjadi seorang bisnis woman yang bisa menembus pasar internasional.


"Gue maunya nggak muluk-muluk," kataku. "Gue akan menekuni profesi sebagai penulis novel roman. Kalian akan melihat nama gue di sampul-sampul buku dengan model-model sampul yang cantik dan tampan."


Ck! Kami pun terkekeh.


Yap, siapa yang menyangka kalau persahabatan ini akan terpisah dengan cara seperti ini? Aku akan pindah ke Malang, Dinda ingin sekolah di luar negeri, dan Tiara tetap di Jakarta. Tapi kami berjanji untuk tetap menjaga hubungan baik di antara kami bertiga.


"Gue bakal rajin order keripik lu dan memperkenalkannya di Malang," kataku pada Tiara.


"Gue juga, dong. Gue bakal bantu memasarkan keripik lu di luar negeri," kata Dinda ikut bersemangat.


"Tapi janji, setelah terkenal dan usaha lu maju, please jangan pernah lupa pada kita berdua. Dan lu, Din, jangan jadi pribadi yang sombong setelah bergelar S yang berjubel-jubel itu."


Sekali lagi, kami terkekeh sambil berpelukan.


"Janji, ya, kalian akan datang di hari pernikahan gue. Hanya kalian berdua yang gue harapkan."


"Pasti," kata mereka kompak, lalu kami berpelukan lagi seakan-akan ini adalah pertemuan terakhir.

__ADS_1


"Terima kasih atas persahabatan yang tak pernah memandang siapa aku dan latar belakang masa laluku. Terima kasih sudah menerima Kejora ini apa adanya."


Dan, mereka tiba-tiba mewek. "Jangan bicara seperti itu," protes Dinda. "Kita semua spesial. Kejora itu bintang yang paling berkilau, Mutiara itu yang paling berharga, dan gue -- Dinda, si gadis tersayang. Kita teman dan sahabat selamanya."


Uuuh... terharu. Kami pun terpaksa menyudahi acara termehek-mehek ini mengingat suasana sekolah sudah sepi. Daddy sudah memanggilku dari kejauhan sebab aku tak kunjung muncul di gerbang depan sekolah.


Sekembalinya ke mobil, bukannya memutar kunci kontak dan melajukan mobil, Daddy malah memandangiku sambil tersenyum-senyum. "Sudah selesai ujiannya?"


"Yap. Sudah selesai. Aku sangat lega."


"Kalau pengumuman kelulusannya, kapan?"


"Kemungkinan bulan Juni."


Aku berpikir-pikir sebelum menjawab. "Bisa jadi," kataku. "Mungkin saja sebelum--"


"Boleh aku minta satu hal?" potongnya.


"Sure. Apa pun, asal bukan melanggar janji--"


"Ssst...." Dia menaruh jarinya di bibirku.


"Please, jangan minta yang aneh-aneh, ya?"


"Bukan itu."

__ADS_1


"Lalu? Apa?"


Dia menggenggam kedua tangan dan menatap lekat kedua mataku. Ya ampun, dia membuat hatiku jadi berdebar-debar.


"Kejora?"


"Emm?"


"Aku ingin kamu menjadi hadiah terindah di hari ulang tahunku."


Heran. Keningku mengerut. "Hadiah terindah? Sebentar, maksudnya... bagaimana? Aku tidak mengerti. Tapi kalau maksudnya... mau itu, tolong, jangan ada niatan untuk--"


"Ssst... please, menikahlah denganku tepat di hari ulang tahunku, ya?"


Deg!


Sebentar, aku mesti mengontrol debar jantungku dulu. Dan, huuuh....


"Ini serius?" tanyaku.


"Yeah. Aku sangat serius."


"Tapi katanya tunggu aku delapan belas tahun. Tapi kok...?"


"Please... menikahlah denganku. Jadilah istriku -- hadiah terindah di hari ulang tahunku nanti. Aku mohon, katakan iya, Kejora Aditama? Please?"

__ADS_1


__ADS_2