
"Daddy...," rengekku sebelum ia mengatakan apa pun, aku masih berdiri di tempatku.
Dia berjalan menghampiri. "Ada apa?" tanyanya.
"Pegal... badanku sakit-sakit semua...."
"Jadi? Mau dipijat?"
"Em, kalau tidak keberatan."
"Akan kulakukan apa pun untukmu."
"Terima--"
Ya ampun, dia menciumku tanpa malu di pekarangan depan rumah dan dengan kedua lengan melingkar sempurna di pinggangku.
"Aku akan menyenangkanmu," bisiknya.
Menakutkan!
"Bukan dalam artian yang aneh, kan?"
Sekali lagi, ia melahap bibirku dengan gemas. "Tergantung, apa yang akan terjadi nanti."
"Katanya mau pijat?" Aku mencebik, lelah, pasrah.
"Mmm-hmm... mumpung kita hanya berdua. Setelah pijit...."
"Tidak bisakah aku tidur dulu? Dan... sebaiknya kita masuk dulu."
"Tentu, tepat seperti itu. Akan persis seperti yang kau inginkan," suaranya semakin *ensual di telinga.
Oh Tuhan... ini penafsiran yang berbeda. Aku tahu itu. Sudahlah, aku pasrah. Dia menggendongku dan membawaku masuk.
Di dalam, Daddy menurunkanku di airbed -- yang entah sejak kapan sudah terbentang di depan televisi. Kemudian...
"Oh, Dad...."
__ADS_1
Dengan sengaja dia menindihku dan menatap lekat ke dalam mataku. "Kita akan menghabiskan waktu di sini. Tidur di sepanjang siang. Dan... persis seperti yang kamu inginkan, sebaiknya kita masuk dulu."
Bukan. Bukan salah tafsir. Dia sengaja menyalahkan tafsirannya, berdasarkan otaknya yang dipenuhi gairah. "Baiklah, yang penting, izinkan aku tidur setelah ini, ya? Aku benar-benar butuh istirahat."
"Gadis kecilku yang penurut." Dia nyengir dan tanpa menunda-nunda ia langsung melepaskan semua pakaianku, juga kausnya. "Telungkup, Sayang," pintanya.
Oh, Tuhan, tolong kuatkan aku.
Aku menurut, menelungkup, melipat kedua lengan di bawah bantal dan menumpangkan kepalaku di atasnya. "Pelan-pelan saja, ya, Daddy...."
"Tenang saja, aku akan melakukannya dengan pelan. Dan aku jamin, kamu akan merasa sangat enak. Nikmati, Sayang."
Yeah, aku akan menikmatinya. Dan...
"Eh?"
Uuuuuh... manis sekali. Aku nyengir lebar ketika menoleh ke belakang, Daddy memijat punggungku dengan mengusapkan baby oil, karena dia tahu kalau aku tidak suka aroma minyak urut.
"Sengaja, ya, mengerjaiku?"
"Tidak juga, aku hanya mengikuti pikiranmu yang kotor."
Lagi, dia nyengir. "O ya?" Tangannya bergerak ke atas.
"Iyalah. Lagipula, kenapa mesti polosan begini?"
"Karena bagiku kamu pemandangan yang indah."
"Tuh kan... kamu menjurus ke sana terus...." Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Hmm....
"Maksudnya sana itu apa?"
"Dad... bisa kita ganti topik?"
"Yeah, tentu."
__ADS_1
"Tapi bahas apa?"
"Emm... tentang keikhlasanmu."
"Dad... aku ikhlas. Kenapa, sih? Kenapa kamu ragu?"
Dia menggeleng. "Bukan ragu," katanya. "Aku hanya takut kamu menilaiku memaksakan kehendak. Apalagi... tentang usiamu yang belum genap delapan belas."
Ya Tuhan, sebegitu kentarakah sikapku waktu itu?
"Jujur saja, Sayang. Apa benar kamu merasa seperti itu?"
Berdeham. Tidak enak rasanya. Tapi... tidak jujur pun tidak enak juga. Aku mesti jujur, pikirku. "Emm... awalnya iya, aku merasa kamu seperti itu. Tapi sekarang tidak lagi, kok. Kemarin juga tidak. Aku bahagia dengan pernikahan kita. Kemarin itu mengharukan, aku sampai berdebar-debar. Dan yang semalam... menyenangkan, pengalaman pertama yang indah. Ya... walaupun sakit, walaupun capeknya sampai sekarang, tapi sungguh, aku sangat bahagia dengan pernikahan kita."
"Aku tahu, tapi... bolehkah kujelaskan?"
"Kalau itu bisa membuat hatimu lega, silakan."
"Ehm, begini, aku... aku ingin kamu tahu kalau aku hanya takut dengan rencana yang sama. Takut gagal lagi."
Oh, ternyata dia masih menyimpan luka.
"Aku takut kalau waktu akan mengkhianati penantianku lagi seperti dulu. Seperti aku kehilangan Kejora yang dulu, aku tidak ingin kehilangan lagi. Bisa kamu memahami itu? Kamu mengerti, kan, kenapa aku bisa seegois ini?"
Aku mengangguk, lalu beringsut duduk dan menatap matanya yang berkaca. "Tidak apa-apa. Aku paham sekarang. Justru aku yang minta maaf, aku mengira... aku mengira kalau kamu hanya tidak sabar untuk memiliki aku sepenuhnya. Maaf--"
"Ssst... aku sengaja tidak menjelaskannya di awal, aku takut kamu merasa bahwa pernikahan kita karena aku masih terjebak dengan kenangan masa lalu. Tapi sumpah, aku mencintaimu -- aku mencintai Kejora yang...."
Aku menciumnya. "Tidak perlu dijelaskan. Sejak lahir aku menerima cinta darimu. Sampai aku mati pun aku hanya akan menerima cinta darimu. Hanya cinta dari seorang Gibran Aditama. Tidak peduli dengan apa pun kenanganmu di masa lalu, aku bersyukur karena aku merasa dicintai. Aku merasakan cinta itu memang untukku. Sungguh, aku sangat bahagia menjadi istrimu."
Dengan senyuman hangat, dia menyambarku ke dalam pelukan. "Terima kasih, Kejora."
"Em," --mode ceria aktif-- "bisa lanjutkan pijitannya?"
"Apa pun untukmu, Permaisuri." Lalu ia berbisik, "Berbaringlah."
"Ya ampuuuuun... bisikanmu membuatku ngeri, tahu...! Bisa tidak--"
__ADS_1
"Ssst...," dia berbisik lagi. "Tidurlah, Kejora. Tidurlah dengan nyenyak. Tak perlu khawatir, aku akan membangunkanmu dengan cara yang paling manis."
Ya Tuhan... dia manis sekali. Saking manisnya aku jadi enggan tertidur. Tapi aku lelah....