Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Terapi Cinta


__ADS_3

Aku tidak baik. Bayangan buruk itu kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Tapi aku tahu aku harus mampu mengatasinya. Jadi aku mengangguk lagi. "Yah, aku baik," kataku. "Jangan khawatir."


"Oke. Tenang, ya. Aku lanjutkan, bisa?"


"Ya, Dad. Silakan."


"Supaya kamu tidak ragu, dan tidak ada keraguan, aku meminta dokter untuk meresepkan obat supaya kamu steril. Obat pencegah kehamilan. Wajib cepat dikonsumsi, tidak boleh lewat dari tiga hari, karena obat ini tidak akan berpengaruh lagi kalau lewat dari tiga hari dari waktu... kejadian itu. Dan semalam kamu sudah minum satu pil. Jadi, ke depan, kamu jangan memikirkan hal ini lagi. Paham, Sayang?"


Aku mengangguk lagi. "Paham, Daddy Sayang." Aku tersenyum. "Apa lagi?"


"Nanti...."


"Apa? Katakan saja. Aku tidak apa-apa."


"Nanti ada dokter... yang akan menemuimu. Apa pun yang nanti ditanyakan oleh dokter, jawab saja dengan tenang, ya? Ini demi kebaikanmu. Kamu paham, kan?"


Aku menghela napas dalam-dalam. Aku menemukan makna dalam dari kalimat yang diucapkan oleh Daddy. "Psikiater, ya?" tanyaku.


Giliran Daddy yang mengangguk, aku tahu ia merasa tidak enak padaku. "Ya," katanya. "Tidak apa-apa, kan? Ini demi kebaikanmu. Percayalah."

__ADS_1


Aku tahu, aku tahu Daddy mengupayakan segala sesuatunya untuk kebaikanku. "Tidak apa-apa. Aku akan menurut. Terima kasih atas... semuanya, Dad. Aku tahu kalau semua itu demi kebaikanku. Tapi, tanpa psikiater pun, aku yakin, kok, aku akan baik-baik saja. Selama ada Daddy, aku kuat. Aku akan baik-baik saja."


"Aku tahu. Aku tahu. Itulah peranku. Tapi aku bukan ahli medis. Aku bukan ahli jiwa. Aku hanya ahli hatimu. Jadi, aku perlu bantuan psikiater. Aku yang butuh, untukmu."


Hmm... sebegitu khawatirnya ia padaku. "Sekali lagi terima kasih. Apa ada lagi?"


"Masih."


"Apa?"


"Makan dulu ini."


Daddy menaruh sepotong apel di bibirnya, dan mendekatkannya kepadaku. Aku tersenyum, dia bisa saja mengambil kesempatan itu untuk menyelipkan rasa manis di antara jutaan pahit getir yang kami alami saat ini.


"Malu, Dad...," protesku. "Nanti kalau ada yang masuk--"


Bibirnya menempel lagi, menarik-narikku lagi ke dalam mulutnya. "Biar saja," ujarnya. "Aku bermesraan dengan istriku. Tidak ada yang berhak melarangku." Dia menegakkan punggungnya, dan membantuku kembali duduk.


Sambil merapikan diriku yang agak berantakan karena tindihannnya, aku menanyakan apa lagi yang mesti kulewati hari itu?

__ADS_1


"Introgasi polisi."


"Oh," gumamku.


"Siap, kan? Yang kuat."


"Ya, pasti."


"Jawab apa adanya. Jujur, jangan ada yang ditutup-tutupi. Dan kalau bisa...."


Aku mengangkat alis. "Apa?" tanyaku.


"Kalau bisa, berikan kesaksian untuk meringankan hukuman... orang itu. Dia sudah menolongmu. Itu satu-satunya yang bisa kamu lakukan untuknya, sebagai ucapan terima kasih. Bisa?"


Aku menunduk, tapi hatiku membenarkan ucapan Daddy. "Akan kuusahakan. Aku akan melakukan yang terbaik. Aku janji."


"Bagus. Kejoraku memang perempuan tangguh dan berhati super baik. Hatimu sangat mulia. Aku cinta padamu."


Aku seperti ini karenamu, dan Oma. "Aku juga cinta padamu. Katakan lagi kalau masih ada."

__ADS_1


"Masih, ini," katanya, "yang harus kamu lakukan." Dia menaruh potongan buah apel lagi di antara bibirnya.


Aku mengulas senyum penuh terima kasih kepadanya dan menggigit potongan apel itu. Daddy sangat berusaha menyembuhkan mental dan psikisku. Suami luar biasa.


__ADS_2