Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Dia Yang Menggila


__ADS_3

Pegaaaaaaal... hiks!


"Ganti gaya, Daddy...."


Kasihan padaku, dia berhenti. "Balik," katanya.


Begitu aku terlentang, dia langsung menekuk kedua kakiku di atas pahanya dan segera menguasaiku lagi. Tangannya langsung meluncur ke dada dan bergerak seaktif-aktifnya. Pun bibirnya, ya ampun, seakan tak akan pernah ada puasnya. Tak ada bagian diriku yang terlewat dari sentuhannya. Dari warna merah yang terlukis dalam jejak-jejak cintanya.


"Ya, Tuhan, Kejora... betapa aku memujamu. Kau, gadis kecil yang membuat gairahku tak pernah padam. Tak akan pernah padam," dia mericau dalam kegilaan. Dalam kuasa tangan dan bibirnya, aku tak mampu menyahut lagi.


Ya Tuhan, ingin mengeluh tapi takut dosa. Ingin menolak tapi nikmat. Ingin lama tapi aku tak sanggup. Tak sengaja kulihat, sebuah botol plastik suplemen penambah stamina nangkring cantik di atas meja. Oh, berapa lama ini akan berlangsung?


Sudahlah, demi cinta, aku rela. Ringsek ringsek deh!


Tapi tak bisa kupungkiri, ada rasa lelah yang teramat yang kurasakan di sekujur tubuhku. Tetapi, melihat kebahagiaan dalam senyuman Daddy, juga kepuasan hasrat yang terpenuhi di dalam jiwanya, aku jadi merasa tidak apa-apa kalau aku lelah demi dirinya. Sewaktu Daddy menjatuhkan dirinya di atasku, dengan deru napas yang memburu di telinga, juga denyutan berirama dari jantung dan inti jiwanya di dalam jiwaku, aku merasa betapa hidup jiwanya sekarang. Bukan lagi sebatas raga yang hidup demi seorang ibu dan seorang gadis kecil yang ia besarkan, namun jiwanya kosong. Dia tidak lagi seperti itu. Dia tidak lagi kosong. Dia yang sekarang adalah jiwa yang begitu hidup dan dipenuhi semangat.

__ADS_1


Apa kau mengerti maksudku? Anggap saja iya.


"Kejora?"


"Emm?"


"Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Ya. Aku baik, Daddy."


"Tidak apa-apa. Aku senang melihatmu puas. Aku bahagia untukmu."


Daddy mengangkat kepalanya, dan menatapku dengan senyuman bahagia. "Terima kasih, Sayang. Aku lebih dari bahagia. Terima kasih."


Dia beringsut dari atasku setelah mendaratkan ciuman hangat di keningku, lalu menarik selimut dan berbaring di sampingku. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku bergeser dan mendekat untuk memeluknya. Menaruh tanganku di dadanya.

__ADS_1


"Setiap malam kita tidurnya seperti ini, ya. Sambil pelukan," kataku, mengingat semalam kami terkapar sendiri-sendiri karena ketidakberdayaan masing-masing akibat terkurasnya tenaga pasca malam pertama yang indah.


Daddy tersenyum. "Ya," sahutnya. "Sampai kita jadi kakek nenek, aku akan terus memelukmu. I love you."


"Em, I love you too, Daddy. Oh ya, malam ini mau minta dimasakkan apa?"


"Tidak perlu. Panaskan lauk tadi siang saja. Malam ini aku akan membiarkanmu istirahat total."


"O ya? Bagaimana kalau dimandikan? Disuapi makan juga? Dinina bobokan sebelum aku tidur? Aku mau. Dengan senang hati."


Sekali lagi, Daddy mengecup keningku. "Akan kulakukan semua untukmu. Bahkan kamu tidak perlu berjalan. Aku yang akan menggendongmu, dan kamu tinggal menikmati waktu santaimu. Asyik, kan?"


Hah! Aku terbahak. "Terdengar seperti rayuan. Kamu akan membuatku terkapar lagi setelah memanjakanku, ya kan?"


"Kenapa tidak? Gairahku terhadapmu tak akan pernah padam. Tak akan pernah, Kejora."

__ADS_1


Hmm... gairah cinta sang pria dewasa. Lebih baik kudiamkan saja omongan manisnya itu. Aku tak boleh memancing gairahnya bangkit lagi saat ini. Bisa lecet-lecet nanti akunya. Ih, ngeri....


__ADS_2