
Tetapi hal ini tidak berlaku ketika aku hendak melahirkan. Sewaktu aku bangun dini hari untuk pipis, sekitar pukul dua pagi, aku mendapati bercak kecokelatan di area kewanitaanku. Aku tahu bahwa aku akan segera melahirkan. Usia kandunganku sudah cukup. Aku segera kembali ke kamar, membangunkan Daddy dan ia mulai panik. Dan tiba-tiba dalam perjalanan menuju rumah sakit aku mulai merasakan sakitnya kontraksi. Di bagian bawah tubuhku serasa ditubruk-tubruk oleh si bayi, dia ingin segera keluar.
Dalam tangisku, aku berusaha untuk tidak mengeluh, tetapi tidak bisa karena rasa sakitnya luar biasa. "Daddy... sakit...."
"Sabar, Sayang. Sabar. Sebentar lagi kita sampai."
Tapi setelah sampai sakitnya malah semakin jadi. Aku tak henti menangis, berjalan mondar-mandir malah semakin sakit.
"Nak...," Daddy berkata pelan di perutku seraya mengusap air matanya. "Cepatlah keluar... kasihan Mommy...."
Uuuh... kasihan Daddy. Dia merasakan rasa sakit yang kurasakan. Perasaan serba salah karena tidak tahu mesti bagaimana dan tidak tahu mesti berbuat apa. Daddy menciumku, memelukku, berusaha menghiburku, namun tetap tak mempan menghilangkan rasa sakit ketika si bayi berusaha menerobos jalan keluar di rahimku. Namun, bukan takdirku untuk bisa melahirkan secara normal. Setelah menunggu dua belas jam dan pembukaan rahimku tak bertambah, hanya stuck di bukaan dua, semua orang menyerah dan membiarkan dokter mengambil tindakan untuk operasi. Si Gibran Junior itu akhirnya membuat perut mommynya dibedah juga.
Aku melahirkan melalui operasi cesar. Nikmat sekali... hmm....
__ADS_1
Lagi, Daddy meneteskan air matanya ketika mendengar suara tangis anak lelakinya. Bintang Aditama. Dia langsung memanjatkan sujud syukur.
Begitu juga aku, sewaktu suster menunjukkan bayiku kepadaku dan memintaku menciumnya, air mataku pun langsung menetes. Haru.
Oh... aku sudah menjadi seorang ibu....
Ah, akhirnya aku memberikan seorang anak kandung dan cucu kandung untuk Daddy dan Oma. Anak kandung penerus darah mereka. Aku bahagia dan merasa hidupku lebih sempurna. Melihat senyuman Daddy dan Oma membuatku diliputi rasa lega dan bahagia yang tak bisa kujelaskan bagaimana nikmatnya. Aku sangat bahagia.
Aku sudah melahirkan anakku, Bu. Aku yakin Ibu juga bahagia di atas sana menyaksikan kebahagiaanku. Terima kasih karena sudah bersedia melahirkan aku ke dunia ini.
Aku hanya bisa mengerjapkan mata sebagai respons bahwa aku bisa mendengarkan suaranya. Sama-sama, Daddy. Dia bukti cintaku kepadamu, juga kepada Oma. Terima kasih kalian sudah memberikan kehidupan yang sempurna ini kepada kami. Terima kasih.
Aku tak bisa mengeluarkan suaraku. Meski bisa, butuh upaya ekstra untuk bicara dan ia mesti mendekatkan telinganya ke mulutku. Tapi aku tidak melakukannya. Seluruh tubuhku masih mati rasa dan aku tengah tersiksa oleh rasa haus yang membuat tenggorokanku terasa sangat sakit. Perih. Tetapi Daddy malah mengatakan sesuatu yang membuatku ingin tertawa, "Dia tampan sekali, seperti aku," katanya.
__ADS_1
Euwwwww...!
Percaya diri sekali, sih...!
Tapi itu memang benar. Dia memang sangat tampan seperti ayahnya. Bintangku. Jagoan kecil yang menyempurnakan kehidupanku.
I love you, Bintang Aditama. I love you, Gibran Aditama. Aku mencintai kalian. I love you, Oma. Aku juga mencintaimu.
Aku bersyukur. Aku berhasil melewati semua masa-masa sulitku dan dikelilingi oleh orang-orang baik yang menyayangiku, hingga kejadian buruk yang menimpaku tak lantas membuatku kehilangan akal, apalagi sampai bunuh diri. Sungguh tak mudah menjadi aku, apalagi jika teringat pelecehan itu. Tapi percayalah, kekuatan itu berasal dari dirimu sendiri, dan didukung oleh orang-orang di sekitarmu.
Pada akhirnya, semua yang pernah kamu perjuangkan atau apa-apa yang terjadi pada dirimu, bermuara pada satu kesimpulan: kamu hanya seorang hamba dari Ia yang Mahakuasa.
Ia yang menggenggam hatimu. Ia yang menunjukkan jalan ketika arah laju hidup tak kamu tahu. Ia yang memberi ketika kamu mengiba. Ia yang mengasihi dengan membuka jalan-jalan dari arah yang tak pernah kamu duga.
__ADS_1
Menurutlah, maka hidupmu pasti akan lebih indah. Aamiin....