
Sebenarnya, aku menyukai pantai sejak kecil. Tapi sayang, kehilangan Mom Rani seakan membuatku kehilangan sebagian hidupku. Sedangkan Oma, meskipun ia gaul, Oma tidak kuat terhadap embusan angin. Jadi, dia tidak pernah mau menuruti keinginanku satu ini. Tapi jika diingat-ingat, memang aku yang tidak pernah memaksakan kehendakku kepadanya.
Sesampainya di Pantai Carita, Daddy mengajakku makan siang dulu karena waktu menunjukkan sudah lewat tengah hari. Di jalan tadi agak macet karena suasana tahun baru. Dengan bijak kami memutuskan duduk-duduk saja di dalam mobil sambil santap siang. Setelah makan siang dan bersantai sejenak, Daddy dan aku langsung menuju tepi laut. Seperti mimpi bisa menginjakkan kakiku di sini. Sudah lama aku mengidamkan liburan seperti ini. Hal yang -- dulu kukira paling mustahil, tapi sekarang tercapai dan sangat menyenangkan, aku bisa menghabiskannya bersama Daddy.
"Thanks, Daddy. You are the best," kataku padanya sementara kami tersorot cahaya matahari.
Ia berpaling sambil tersenyum mesra. "Urwell, demi melihatmu bahagia."
Aku berpaling memandangnya dengan tatapan tertegun. Tidak tahu kenapa, tapi rasanya itu terkesan -- bukan hanya untukku. Tapi aku lekas-lekas mengusir pemikiran itu dari otakku. Toh, dari awal aku menyiapkan diri jika aku dianggap sebagai pengganti ibuku: Kejora-nya yang pernah hilang.
Dengan penuh sukacita, kami berjalan menyusuri pantai berpasir putih itu ke sudut di mana batu-batu karang tertumpuk dengan indahnya. Saat itu, tiupan angin yang kencang membuat rokku berkelebat dan sempat membuatku fokus menahannya, seolah aku tak memakai dalaman hingga takut pahaku terekspos. Namun setelahnya, saat aku menoleh ke arah Daddy, pria dewasa itu sudah bertelanjang dada, ia menanggalkan kemejanya dan menaruhnya di atas batu karang, lalu ia melepaskan alas kakinya dan menggulung celana jinsnya. Ketika ia kembali tegak, kulit tubuhnya yang putih seakan bercahaya di bawah sinar matahari. Sungguh, itu pemandangan yang menyesakkan napas.
Oh, Daddy....
"Ayo." Dia mengulurkan tangannya, menarikku hingga ke air, bermaksud mengajakku berenang bersama.
Bagaimana ini? Rasanya aku tidak fokus berenang. Aku kesulitan mengalihkan tatapanku dari pria itu. Cahaya matahari siang membelai kulitnya, nampak memesona. Sampai akhirnya, tanpa sadar aku menggigit bibir ketika mengamati otot lengannya, bentuk dadanya yang sempurna, juga yang menghiasi perutnya. Dan bodohnya aku ketika membiarkan pria itu menyadari reaksiku. Seperti enam bulan lalu, aku tertangkap basah memandanginya dengan penuh hasrat.
"Well," gumamnya. Ia menghampiriku, dengan satu lengan menarikku lalu memeluk erat pinggangku, sementara tangan yang lain meraih jemariku dan menempelkan telapak tanganku ke dada bidang yang kukagumi itu. "Sentuhlah," ujarnya. "Sentuhlah sepuasmu."
Oaaaaah... kakiku lemas. Ini memalukan, sekaligus menyenangkan. Ini yang ingin kulakukan sejak enam bulan yang lalu. Dan ini tersampaikan, namun keadaannya seperti ini: agak memalukan. Tapi, tetap saja, aku tersenyum dan membelai kulitnya, dan merasakan panas kulitnya di bawah telapak tanganku. "Aku mengagumi ini," gumamku.
"Sama," bisiknya. "Aku juga mengagumi keindahanmu."
Ya ampun, aku menangkap arti yang berbeda dari caranya membisikkan kalimat itu.
"Jika sudah puas, bisa kita berenang?"
Aku menggeleng. "Tidak akan pernah puas," kataku.
Dia tergelak, lalu menggendongku dan memutar-mutarku hingga kami jatuh ke air. Dan setelahnya, ia menarikku, memelukku dari belakang dan berbisik, "Aku kangen." Pelukannya semakin erat.
"Aku tahu. Aku merasakan hal yang sama."
Tak ada sahutan. Bibir hangatnya mulai membelai kulitku. Dimulai dari bahuku, ke pundak, dan terbenam -- dalam -- di leherku. Sangat dalam.
__ADS_1
"Emm... apa tanda merah ini bisa disamarkan?" tanyanya.
Aku terkikik. "Kenapa memangnya?"
"Besok Oma pulang. Kamu tahu sendiri kalau dia marah melebihi emak-emak komplek."
Hah!
"Tenang saja. Bisa kok."
"Bagus."
"Bagus?"
"Em, karena...."
Dia ingin melakukannya lagi. Sekali lagi.
"Jika sudah puas, bisa kita berenang?"
Sore harinya, meskipun hanya sebentar, kami duduk-duduk di tempat kami berada sekarang. Berdampingan di pantai yang nyaman di tempat peristirahatan yang luar biasa cantik ini, mengamati keindahan matahari terbenam dengan latar belakang langit oranye cerah. Bersantai-santai seolah-olah tidak ada hal lain yang perlu dikerjakan selama sisa hidup kami. Seolah kami tidak mesti bergegas pulang ke Jakarta, mengingat perjalanan yang mesti kami tempuh itu cukup jauh.
Memang, kami tidak banyak mengobrol selagi berada di sana, tetapi kami selalu memastikan kalau kami selalu bersentuhan langsung, selalu tersenyum, dan saling menggenggam tangan satu sama lain. Dan aku merasakan kepuasan dan kelegaan yang teramat besar.
"Katanya... anak gadis harus berada di rumah sebelum magrib. Tapi sekarang...?"
Dia mengecup punggung tanganku dan tersenyum mesra. "Kecuali bersamaku, kamu memiliki kebebasan."
Euw! Dasar, ya... tapi aku suka.
"Ayo, pulang." Ia langsung berdiri dan mengulurkan tangan kepadaku.
Aku meringis. "Kakiku keram, Daddy," kataku. "Tolong...."
Trik berhasil. Daddy berjongkok untuk menggendongku. Tapi... baru beberapa langkah aku sudah tertawa, membuat Daddy berhenti dan melotot kepadaku. "Kamu mengerjaiku? Hmm?"
__ADS_1
Aku tertawa lagi. "Aku cuma iseng," kataku. "Tapi aku suka digendong. Kan kekasihku ini lelaki yang kuat."
Dan... dengan tersenyum dia terus menggendongku tanpa protes. Sesampainya di parkiran, aku menarik kunci dari saku kemejanya dan menekan tombol buka. Daddy mengerti kalau aku ingin diturunkan di kursi penumpang. Dan sesuai keinginanku, aku membuka pintu dan ia membaringkanku di sana.
Eh?
Daddy menurunkan sandaran kursiku dengan maksimal, kemudian ia menyilangkan kaki di atasku, lalu menutup pintu. "Ada yang ingin menguji kekuatanku, kan?"
Aku terbelalak. "Maksudnya?"
Tak ada jawaban. Dia mencium bibirku sementara tangannya memelukku erat-erat. Aku pun membalas ciumannya tanpa malu karena rasa rindu yang menggebu.
"Aku sangat merindukanmu," katanya sesaat setelah melepaskan ciumannya. Mata hitamnya menatap mataku dalam-dalam. Wajahnya dekat sekali hingga aku bisa melihat garis-garis wajahnya dengan jelas. "Aku...."
Aku memeluk lehernya dan menariknya lebih dekat. "Lakukan, apa pun yang bisa melebur rasa rindumu."
"Kamu tak akan mempermasalahkan hal ini?"
"Tidak akan pernah. I'm yours, Dad."
"Maaf, tapi aku sangat menginginkanmu."
"Aku milikmu, bahkan sejak aku lahir."
Meski hatiku yakin, dia tidak akan melakukan hal itu padaku. Aku tahu dia pasti mampu mengendalikan diri.
Kita lihat, Daddy, seberapa menggilanya dirimu.
"Maafkan aku," katanya. "Aku tak bisa menahan hasratku lagi. Aku menginginkanmu, Kejora."
Well, Daddy membuka kemejanya, juga kausku, lalu... dia menindihku, kulit kami menempel dengan intim -- berbagi kehangatan. Nyaman sekali rasanya. Tangan dan bibirnya pun liar. Ia membelai setiap inci kulitku yang terbuka, mengagumi dengan sentuhan jemarinya, lalu mencicipi lagi area dadaku seperti waktu itu. *sapannya yang kuat membuat semua sarafku menegang dan aku merasakan tubuhku gemetar dalam dekapannya yang erat. Dan, aku menyadari, dia menekankan tubuhnya padaku -- menekan sekuatnya. Menikmati, namun tersiksa. Mengeran*, namun menahan. Dia menggila, meski...
Ia tak berani *eremasku, apalagi membuka bra dan rokku. Ia tak melakukan itu, meskipun aku tahu ia sangat menginginkanku seutuhnya.
Seperti aku yang juga sangat menginginkannya. Tetapi sayangnya waktu belum berpihak kepada kami. Belum saatnya.
__ADS_1
Suatu hari, Daddy. Suatu hari, aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Tunggu aku. Kita akan bersatu....