
"Oma, aku ke kamar, ya...," seruku setelah menaruh dua kantung besar keripik di atas meja. Aku segera bergegas ke kamarku diiringi kata bertanggung jawab yang masih terngiang-ngiang di kepala. Dan, aku langsung mengeluarkan ponselku, tapi sambungan teleponku direject. "Apa sih maksudnya?"
Kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur karena sebal.
》 Sori, sedang sibuk.
《 Sibuk apa? Selingkuh?
》 Eh, apa sih? Kok ngomongnya begitu?
《 Makanya angkat teleponku!
Drrrt...
Video call masuk.
Klik!
Panggilan terhubung.
Sosoknya yang seksi langsung menghiasi layar ponselku, lalu menyorot ke sebuah parang panjang dan sebuah dahan besar yang tumbang dari pohon besar di belakang pondok. Daddy tengah memangkas dahan-dahan kecil dari dahan besar yang tumbang itu. Nampaknya matahari sedang panas-panasnya di sana hingga keringat di tubuhnya berkilat-kilat bagaikan cahaya. Dia seksi sekali.
"Ini yang namanya selingkuh? Hmm?"
Aku terkekeh. "Aku hanya bercanda," kataku. "Kamu menyebalkan, sih! Tadi kenapa langsung menutup telepon?"
"Sengaja, biar kamu penasaran."
"Yeah, selamat kalau begitu. Anda sukses."
"Sesukses sekarang sampai membuat matamu salah fokus?"
Hah!
"Itu salahmu. Kenapa tidak pakai baju?"
"Panas, Kejora Sayang...."
"Ya sudah, jangan protes. Biarkan aku melihatnya."
__ADS_1
Senyumnya mengembang, dia menaruh ponselnya di atas sesuatu, lalu melanjutkan pekerjaannya. Ya ampun, aku membasahi bibir ketika mengamati otot lengannya mengencang dan mengendur sementara ia memegang parang dengan santai. Dia bergerak dengan keanggunan yang tidak disadarinya yang membuat perutku terasa kencang dan mulutku kering. Gibran Aditama benar-benar pemandangan yang indah. Membuatku ingin merasakan kekuatannya yang kudambakan sejak pertama kali aku menyadari rasa hausku akan sentuhan dan belaian kasih sayangnya.
Oh, Kejora... luruskan pikiranmu!
"Sudah puas? Hmm?"
"Nope. Tidak akan pernah puas."
"Oh, gadisku yang nakal."
"Hanya sedikit nakal, Daddy...."
"Ya, ya, asal jangan nakal pada lelaki lain."
"Mmm-hmm, tidak akan. Jadi... bisa jelaskan padaku apa maksud tanggung jawab yang Oma perintahkan padamu?"
Dia menatap ke layar ponsel, fokus memandangiku lalu tersenyum. "Aku akan bertanggung jawab," katanya. "Aku... aku akan...."
"Apa, Daddy?"
"Aku akan menikahimu."
"Kita akan menikah secepatnya. Secepat kepulanganku hari sabtu nanti."
Deg!
"Dad--"
"Hari minggu."
"Apanya yang hari minggu? Jangan bercanda!"
"Pernikahan kita akan dilangsungkan hari minggu ini."
Aku mendelik. "No...!" pekikku.
Dia terbahak-bahak.
"Tidak lucu!"
__ADS_1
"Hanya bercanda, Kejoraku...."
"Menyebalkan, tahu!"
"Tempe!"
Hah! Garing!
"Jadi apa? Tanggung jawab seperti apa? Jangan bercanda, dong...!"
Dia menatapku serius. "Bukan apa-apa, Sayang. Sang Kanjeng Ratu hanya menyuruhku menjadi supir sekaligus bodyguard selama kamu ujian nanti, dan aku harus memastikan kalau calon menantu kesayangannya ini bisa ujian dengan tenang. Hanya itu."
"Serius?"
"Kenapa? Kedengarannya kamu tidak senang?"
"Bukan. Bukan begitu, Dad. Tapi... aku tidak mau kalau Daddy...."
"Rileks, Kejora. Tidak usah memikirkan pandangan orang lain. Yang perlu kamu lakukan hanya belajar dan ujian dengan tenang. Setelah kamu lulus, aku akan menikahimu, dan kita...," --ia berdeham-- "kamu ingin berbulan madu ke mana?"
Lagi, aku memekik, menyerukan namanya. "Jangan bahas ini sekarang. Nanti aku tidak fokus ujian, bagaimana?"
"Kenapa bisa tidak fokus? Memikirkan apa yang akan kita lakukan pada saat berbulan madu nanti? Hmm?"
Ya ampun, gesreknya kumat.
Kuhela napas-napas dalam-dalam dan berharap semburat merah di pipiku segera menghilang.
"Ehm, boleh aku berpesan?" tanyanya kemudian.
"Tentu. Katakan saja. Berpesanlah yang banyak."
"Aku serius. Tolong, jangan memikirkan apa pun selain ujianmu, dan jangan online. Kamu tidak perlu penasaran, apalagi melihat dan menggubris artikel-artikel sampah itu. Oke? Berjanjilah padaku?"
Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Aku akan mematuhimu. Aku tidak akan online, dan... tidak akan berpikiran yang macam-macam. Aku calon istri yang baik, bukan?"
Daddy tersenyum. Dia benar-benar baik-baik saja di sana. Yap, artikel sampah itu memang mempermalukan, tapi sedikit pun tak akan meruntuhkan cinta di antara kami. Cinta kami akan semakin kuat.
I love you, Daddy. Aku menantikan kepulanganmu.
__ADS_1