
Well, setelah mandi dan berpakaian, Daddy mengambil kursi plastik untuk menahan kakiku supaya tidak basah, dan aku duduk di atas penutup closet. Dengan hati-hati, Daddy menyiramkan air perlahan-lahan ke tubuhku, membersihkan lekuk-lekuk tubuhku hingga ke lipatan-lipatan yang tak luput dari perhatiannya. Setelah mandi, dia mengelap tubuhku dengan handuk lalu membantuku berpakaian, mengenakan kembali baju pasien itu. Kemudian, dia menggendongku kembali ke tempat tidur.
Aku memperhatikannya, betapa tulus dan telatennya ia dalam mengurusiku. Pasti sulit menemukan lelaki sebaik dia di dunia ini, yang bersedia mengurusi istrinya dengan tangannya sendiri. Lelaki langkah. Dan aku beruntung, Tuhan memberikan satu lelaki seperti dia untukku.
"Waktunya minum obat."
"Obat apa itu?" tanyaku.
"Obat penghilang nyeri, untuk lukamu. Kalau untuk hatimu, akulah obatnya." Dia nyengir lebar.
Dan, aku membalasnya dengan senyuman. "Kamu obatnya. Obat yang paling ampuh."
Daddy mengambil dua butir pil itu dari atas meja, lalu menjangkau segelas air putih dan membantuku meminumnya.
"Terima kasih."
Dia mengangguk, mengembalikan gelas itu ke atas meja lalu berbaring di sampingku. "Kamu tidak keberatan, kan, kalau aku tidur di sini?"
__ADS_1
"Tentu saja. Di sampingmu aku akan merasa lebih aman dan nyaman."
Ia tersenyum mesra, menyandarkan kepalanya tepat di sebelah kepalaku. "Kejora, tepati janjimu, ya. Jangan pernah pergi dariku? Hmm?"
"Yeah, Dad. Lagipula aku tidak bisa ke mana-mana. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka di kakiku."
Ia menarik napas gemetar lalu memejamkan mata. "Aku bicara serius, Kejora. Jangan pernah pergi. Jangan meninggalkan aku."
"Baiklah, aku tidak akan bercanda. Maaf, ya. Aku janji, aku tidak akan pergi. Aku akan bersamamu, selamanya," kataku sambil membenamkan diri lebih dalam ke bawah selimut, meringkuk lebih dekat kepadanya.
Dia mencium keningku. "Kamu harus kuat. Harus selalu tangguh," katanya.
Aku menguap. Pil penghilang rasa sakit itu membuatku mengantuk.
"Pasti. Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Tidurlah." Lalu ia membisikkan kata cintanya dan membuatku merinding, "Aku mencintaimu, Kejora."
Aku mengangguk dan memejamkan mata. "Aku juga mencintaimu," gumamku.
__ADS_1
Aku melebarkan tangan kiri di selimut, telapak tangan menghadap ke atas. Aku pun terlelap dengan genggaman tangannya yang erat.
Tetapi, ketika aku terbangun pada keesokan paginya, genggaman tangan itu berubah menjadi ikatan. Sebuah kain pengikat, mengikat pergelangan tanganku dengan tangannya. Daddy tertidur lelap di sampingku.
Kuhela napas dalam-dalam. Kemarin tanganku diikat oleh Riko, dan pagi ini aku mendapati tanganku diikat oleh Daddy -- diikat dengan tangannya. Aku kaget, sedikit. Namun selebihnya aku sangat maklum, dia takut aku kabur seperti ibuku dulu. Dia pasti tidak bisa tidur karena gelisah, sebab itu ia melakukan hal ini padaku.
"Daddy...," panggilku.
Dia terbangun, lalu menoleh kepadaku. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku mau pipis. Tolong gendong aku ke toilet?"
Daddy mengerjap-ngerjapkan mata, seolah sedang mengumpulkan nyawa, lalu bangkit. "Eh," katanya, menyadari tangannya terikat padaku. Dan ia nyengir lebar. "Maaf, ya," ucapnya.
"Bukan masalah," kataku. "Untung saja ini bukan borgol. Bisa-bisa aku histeris kalau...."
Ikatan tangan kami terlepas. Daddy pun langsung menggendongku ke kamar mandi. "Jangan dilanjutkan," pintanya. Setelah membantuku pipis, dia mulai melakukan hal yang nyeleneh. Bukannya membawaku kembali ke ranjang rawatku, dia malah menggendongku dan mendudukkan aku ke dekat wastafel.
__ADS_1
"Mau apa?" tanyaku.
Hmm... kau pasti tahu!