
"Kejora... Sayang...."
"Sebentar, Daddy." Kubuka pintu dengan rambut masih tergelung handuk.
"Ya ampun, Sayang... ngapain saja kamu dari tadi? Kok belum sisir rambut?"
Aku nyengir, lalu menggeleng. "Sori, Daddy."
"Kamu melamun? Hmm?"
"Em. Hanya memikirkan... itu."
"Oke. Sekarang sisir rambut, terus kita sarapan."
"Nanti saja. Aku tidak lapar."
"Jangan membantah. Daddy tunggu di sini."
"Dad... Daddy duluan saja sarapannya."
"No debat! Daddy tunggu di sini. Sisir rambutmu sekarang."
Hmm... kuhela napas dalam-dalam. "Terserah Daddy sajalah."
"Daddy cuma mau kamu sarapan. Kamu hangatkan dulu badanmu, minum vitamin, nanti baru istirahat lagi."
Keberuntungan bagiku karena Daddy mengucapkan mantranya itu. "Benar, ya, setelah sarapan biarkan Kejora sendirian dulu?"
"Iya, yang penting kamu sarapan dan minum vitamin dulu."
Terima kasih, Daddy, memang itu yang kubutuhkan.
Dan sesuai perjanjian, cepat-cepat kuhabiskan sarapanku, minum vitamin dan air hangat, lalu kembali ke kamar. Yeah, waktu sarapan bagai terlewat begitu saja. Daddy mencoba membahas hal-hal biasa, tapi aku sedang benar-benar malas menanggapi obrolannya. Aku sedang tidak ingin membahas apa pun. Rasa penasaran yang sebelumnya menggebu-gebu, kini malah membuat antusias liburanku down maksimal. Aku butuh waktu sedikit untuk berdamai dengan diriku sendiri.
》 Daddy harap kamu tidak akan lama seperti ini.
《 Tidak akan. Kejora hanya sedang berduka, dan butuh waktu sebentar untuk mendamaikan hati Kejora sendiri.
》 Oke. Maksimal sampai jam makan siang nanti, ya. Janji, menyendirinya jangan lama-lama, nanti Daddy kangen.
"Ih, Daddy. Apa-apaan, sih, dia? Timing bercandanya selalu saja tidak pas. Tidak lucu!"
__ADS_1
Kuambil headshet dan aku memutar musik dari ponselku. Kucoba memusatkan pikiranku pada lagu-lagu yang kudengar hingga aku tertidur. Hujan di luar masih belum berhenti. Aku masih membutuhkan selimutku meski tubuhku sudah terbungkus dengan jaket yang tebal. Aku pun terlelap. Hingga kemudian...
"Halo... Sayangku. Bangun."
Ya ampun, tiga jam berlalu dengan cepat. Daddy sudah rewel membangunkan aku, padahal mataku masih sangat mengantuk.
"Bangun, yuk. Sudah jam setengah satu. Makan siang dulu."
"Daddy salah lihat jam kali... masa sudah jam setengah satu?"
"Bukan Daddy... tapi matamu yang tidak melihat jam. Bangun, dong... sudah tiga jam lebih, lo, kamu di kamar."
Aku menggeleng lemah. Kutarik selimut hingga menutupi kepala. "Ngantuk," kataku.
Tapi perutku malah keroncongan. Aku mengumpat sialan ketika bunyinya memancing tawa Daddy.
"Perutmu bunyi, Sayang," katanya seraya menyibakkan selimut yang menutupi kepalaku. "Ayo, bangun. Makan dulu. Jangan seperti Kejora kecil yang mesti dipaksa-paksa terus."
Yeah, sedikit senyum mengembang. "Aku suka dipaksa Daddy, serasa sangat disayang. Dimanja seperti dulu."
"Hmm... mau disuapi? Mau makanannya dibawa ke kamar? Iya?"
"Kenapa senyum-senyum?"
"Nothing. Cuma bernostalgia dengan kenangan kita dulu."
"Kenangan yang mana? Kenangan bersama Daddy, kah? Hmm?"
"Mmm-hmm, dulu Daddy sering bujuk Kejora makan. Embel-embelnya dikasih cokelat terus digendong di sini." Kusentuh punggungnya dan aku merasa beruntung: sebab aku punya seorang ayah yang menyayangiku sejak kecil, meski dia bukanlah ayah kandungku.
Senyum Daddy pun mengembang, ia nampak memutar memori itu di dalam ingatannya. "Sayangnya kamu sudah besar sekarang. Sudah berat," katanya, dia pun terkikik.
Dan sebelum perutku bunyi lagi, aku segera beringsut duduk. "Ayo, makan. Aku lapar."
"Well," Daddy berdiri, mengulurkan tangan, dan memasang tampangnya yang manis, "ayo, Daddy juga sudah lapar."
Kusambut tangannya dan kami segera menuju dapur. Sungguh, cocok dengan suasananya, menu yang terhidang di atas meja berupa soto khas Malang.
"Daddy sudah siapkan untukmu. Kalau tadi kamu tidak mau makan, Daddy kecewa."
"Sweet sekali sih, Daddy-nya Kejora. Terima kasih, ya. Maaf Kejora sudah merepotkan Daddy."
__ADS_1
"Ngomong apa, sih...? Mana ada repot. Demi kamu, apa pun akan Daddy lakukan. Apa pun."
Rileks, Kejora... itu kalimat yang wajar yang diucapkan seorang ayah pada putri kesayangannya. Jangan geer....
Tapi tak bisa kupungkiri, ucapan Daddy itu sedikit menyetrum hatiku. Selain berdebar, rasanya pun berbunga-bunga.
"Setelah makan nanti jangan tidur lagi, ya. Katanya mau quality time, kok kita malah sendiri-sendiri?"
Aku mengangguk, dan aku merasa bersalah untuk hal ini. "Memangnya kita mau ngapain? Nonton tv?"
"Apa saja yang sekiranya bisa kita lakukan. Dan apa pun yang kamu ingin Daddy lakukan. Everything I do."
Ih, geli aku melihat senyumnya. Dan aku jadi ngeri pada diriku sendiri karena aku merasa ucapan Daddy seperti ucapan seorang pria kepada kekasihnya.
Oh, Kejora... semakin tidak beres saja otakmu. Sadar... kau bukan kekasihnya.
Tapi aku tidak bisa menolak. Setelah makan siang itu, Daddy mengajakku duduk santai sambil mengobrol di ruang perapian.
"Mau bahas apa?" tanyaku. Sebenarnya di dalam benakku masih ada beberapa pertanyaan tentang ibuku, tapi aku belum ingin membahasnya lagi. "Jangan bahas tentang masa lalu dulu, ya? Hatiku masih hancur. Sedikit pun, jangan dulu."
Daddy mengangguk. "Ya," katanya. Kemudian ia meraih tanganku, dan menggenggamnya dengan erat. "Daddy cuma menuruti keinginanmu. Kamu yang paksa Daddy untuk cerita, makanya Daddy cerita. Sekarang kamu tahu, kan, kenapa Daddy tidak pernah siap menceritakan rahasia ini padamu? Ini yang Daddy takutkan, hatimu hancur. Sekarang bagaimana cara Daddy menyembuhkannya? Say something, Daddy akan lakukan apa pun itu. Untukmu, demi kamu."
Ya ampun, aku menunduk. Tatapan Daddy menusukku. No, dia bukan menatapku sebagai anak. Tapi, dia menatapku, atau menatap ibuku?
"Hei, katakan?"
Aku menggeleng. "Tidak ada, Daddy. Luka yang Kejora rasakan, seiring berjalannya waktu, pasti akan sembuh sendiri. Pasti."
"Bagaimana dengan pelukan? Mau Daddy peluk?"
Kugelengkan kepalaku perlahan. "Daddy mau memeluk siapa? Kejora yang mana?" tanyaku parau.
Tapi ia sama sekali tidak terkejut dengan pertanyaanku -- seakan dia tahu apa yang ada di dalam benakku. "Daddy mau memelukmu. Kejora yang sekarang ada di depan mata Daddy. Yang ada di sini bersama Daddy. Daddy tidak pernah menganggapmu sebagai bayangan. Meski sosokmu seringkali mengingatkan Daddy padanya, tapi kamu adalah dirimu sendiri. Kamu memiliki tempatmu sendiri di hati Daddy, sama sekali bukan sebagai bayangan masa lalu. Trust me, Kejora?"
Dan pada detik itu aku menghambur ke pelukannya.
"Jangan menangis lagi," katanya. Dia mendekapku begitu erat. "Kita habiskan waktu sepanjang hari seperti ini, mau? Daddy tidak keberatan memelukmu sepanjang hari. Dan kamu punya Daddy sebagai tempatmu bersandar. I love you, Sayang. Kau bintang terindah di hidupku. Milikku."
Kau tahu, air mataku semakin deras dalam senyuman. Sekarang aku tahu jawabannya: aku bukanlah bayangan.
I love you too, Daddy....
__ADS_1