Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Candu Asmara


__ADS_3

Sejak kegilaan Daddy di kolam renang itu, aku selalu menghindari Daddy dan selalu menempel pada Oma. Setiap kali aku masuk ke kamar, aku tak pernah lupa mengunci pintu. Via whatsapp, dia mengatakan bahwa yang kulakukan itu jahat. Katanya aku si ratu tega. Lucu sekali dia, seperti anak remaja tujuh belas tahun yang sedang ngambek pada pacarnya.


《 Aku bukannya tidak suka. Aku hanya takut mengecewakan Oma dan membuatnya benci padaku. Boro-boro menjadi menantu, mungkin aku akan dicoret dari daftar keluarganya dan tak lagi dianggap cucu.


Tapi ia tak membalas pesanku.


Siang itu, untungnya Oma sudah sangat lebih baik keadaannya. Jadi, dia ikut makan siang di meja makan bersama kami. Aku dan Daddy kompak mengenyampingkan perasaan kami di depan Oma. Kami menjalani hubungan seperti biasa, seperti dulu -- dalam kehangatan. Hingga waktu liburku pun habis. Dan sekarang, hari terakhir Daddy ada di sini -- malam terakhirnya di Jakarta. Oma mulai menyuruhnya pergi lagi besok pagi. Dan, hatiku mulai terasa sakit. Kembali nyeri.


》 Tolong, buka pintu. Aku tidak ingin pergi sebelum menemuimu.


Hiks!


Bagaimana ini?


Suara ketukan di pintu mengaduk-aduk perutku. Aku ingin turun dari tempat tidur dan mengizinkannya masuk. Tetapi, aku tahu betul apa yang akan terjadi seandainya aku membuka pintu itu.


"Kejora," panggilnya pelan. "Jangan menyiksaku seperti ini."


Tahan, Kejora. Tahan... tutup saja telingamu.


"Kejora, please... buka pintu. Atau Ibu bakal mendengar suaraku dan dia ke sini."


Lah, memangnya kenapa? Malah bagus, dengan begitu Daddy lebih tidak mungkin lagi masuk ke sini.


》 Baiklah jika kamu ingin menyiksaku.


Beberapa menit kemudian terdengar suara ceburan dari halaman belakang. Aku pun perlahan membuka jendela belakang kamarku, dan mendapati Daddy berenang tengah malam begini.


Ya ampun, dia menyiksa dirinya sendiri. Dia bisa sakit kalau seperti itu.


Tapi aku mesti berkeras. Jangan mengecewakan Oma. Dia membesarkanmu bukan untuk membuatnya kecewa dan mencoreng rasa bangganya terhadap anak lelaki kebanggaannya. Jangan menjadi jalan*, Kejora.


Well, seperti dugaanku, kegelisahan Daddy sepanjang malam membuatnya tidak bisa tidur. Sedangkan aku, aku memilih tidur dengan bantuan obat tidur. Yeah, daripada aku gelisah sepanjang malam dan -- dengan kemungkinan pertahanan diriku akan runtuh dan aku akan menyelinap masuk ke kamarnya.


Tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi.


Keesokan paginya, sewaktu aku bangun pagi untuk ke dapur, kudengar Bi Sum sedang bicara dengan Oma. Sepertinya Oma bertanya pada Bi Sum, dan Bi Sum mengatakan bahwa Daddy sedang lari pagi.


"Oma mau sarapan apa hari ini?" tanyaku pura-pura tidak mendengar obrolan mereka.


Dia menunjukkan sebaskom kecil kacang hijau yang sudah ia rendam semalaman. "Buatkan bubur kacang ijo, ya."


"Baiklah. Apa pun untuk Oma."


"Terima kasih, Sayang."


"Sama-sama. Emm... itu, Oma mau masak apa?"


"Mau masak rendang," sahutnya. Ia sedang mengeluarkan daging beku dari dalam freezer.


"Kenapa masaknya sekarang? Tumben pagi-pagi sudah masak untuk makan siang?" tanyaku.


Oma menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu berpaling kepadaku sambil tersenyum. "Untuk Daddy-mu. Kalau kamu punya banyak waktu dan tidak mesti ke sekolah, Oma akan menyuruhmu yang memasakkan ini untuknya."


"Oh, memangnya keburu, ya? Dagingnya saja masih beku begitu."


Alis Oma bertaut. "Memangnya kenapa? Daddy-mu kan berangkatnya agak siang, penerbangan jam sepuluh."


Di saat itulah hatiku semakin sakit. Dia tidak akan berangkat bersamaan dengan jam aku berangkat sekolah seperti waktu itu. Sementara, saat aku pulang sekolah nanti dia sudah tidak akan ada lagi di rumah.


"Kerjakan pekerjaanmu. Kacang hijau itu tidak akan memasak dirinya sendiri," kata Oma, suaranya menarikku dari keterpakuan.


Aku mengangguk, pura-pura tersenyum dan seakan semuanya baik-baik saja. Aku hanya harus memastikan bubur kacang buatanku memiliki rasa yang seharusnya. Ia tak boleh hambar atau rasa aneh apa pun saat orang-orang mencicipinya.


Konsentrasi, Kejora!


Masakanku selesai dalam beberapa puluh menit, lengkap dengan santan kental yang mesti dituangkan di atas buburnya nanti.


"Sudah selesai, Oma," kataku. "Aku mau mandi dan siap-siap sekolah."


Sekolah, adalah kata yang menyiksa saat ini. Aku mesti pergi ke sekolah sementara aku tahu -- itu detik-detik yang akan membawa Daddy jauh dariku. Dan tiba-tiba aku menyesali keputusanku semalam. Seandainya aku memberikan dia waktu semalaman bersamaku, mungkin rasanya tak akan sesakit ini -- tak akan sesakit seperti yang kurasakan saat ini.


Aku menghela napas dalam-dalam seraya menaiki tangga. Waktu aku sudah berada di depan kamarku dan memegang kenop pintu, aku berhenti sesaat -- menoleh ke pintu kamar Daddy. Ingin rasanya masuk ke sana dan menunggunya datang. Tapi...


Stop, Kejora. Sadarlah!


Aku mesti mandi dan bersiap-siap ke sekolah.


"Yah, sekolah. Tiga bulan lagi saja untuk sampai ke ujian. Lalu satu bulan fokus ujian. Dan setelahnya aku akan terbebas dari aktivitas belajar. Sisanya tinggal menunggu kelulusan."


Kugeleng-gelengkan kepalaku untuk membuyarkan pikiran-pikiran gilaku tentang pria dewasa itu, lalu membuka pintu kamar, dan... menguncinya.


"Hai."


Aku terkesiap. "Dad?"


Dia berdiri di belakang pintu kamarku.

__ADS_1


"Dad, tadi... bukannya tadi Daddy lari pagi?"


Ah, pertanyaan apa itu? Jelas-jelas tubuhnya masih basah oleh keringat, kausnya masih lembab, dan... otot-ototnya masih menyembul menghiasi tubuhnya.


"Apa aku boleh di sini?"


Aku menggeleng dalam keraguan.


"Yakin?" Dia maju, aku mundur.


"Aku yakin."


"Sungguh?" Lengannya melingkar di pinggangku.


"Em, aku rasa begitu. Aku... aku ingin Daddy...."


"Katakan kalau hatimu ingin aku pergi," dia bicara dua senti di depan wajahku.


Aku hanya bisa mengangguk.


"Katakan, Kejora," sekarang ia bicara di telingaku.


Kupalingkan wajahku darinya. "Em, aku... aku ingin...."


"Please... aku tahu, kamu juga ingin aku ada di sini. Iya, kan?"


Daddy... kalau kau terus-terusan bicara di telingaku, aku pasti....


Aku menggeleng.


"Baiklah," katanya, dia menjauhkan dirinya dariku, menatapku sesaat dan mengatakan, "Maafkan aku. Dan... sampai jumpa lagi." Ia pun berbalik.


Tidak. Aku tidak ingin perpisahan yang seperti ini.


"Daddy...," panggilku.


Dia berhenti melangkah, dan aku langsung menghambur memeluknya.


"Please, aku tidak ingin perpisahan yang seperti ini. Aku tidak ingin melepasmu dengan kemurungan. Tolong, Dad?"


Dia melepaskan tanganku dari tubuhnya, lalu memutar dan menangkup wajahku. "Beri aku waktu sebentar, ya? Sebentar saja."


Aku mengangguk, dan persis di saat itulah dia menciumku. Perlahan, perlahan, amat perlahan. Kemudian tangannya melingkari tubuhku, dia melangkah maju -- membuat kakiku ikut melangkah -- mundur ke arah tempat tidur. Dan kami jatuh bertindihan.


"Kejora, katakan kalau kamu milikku."


"Aku menginginkan kenangan manis bersamamu."


Aku mengerti, dan aku mengangguk. Tapi...


"Bisa... emm... jangan buka pakaianku, ya?"


"Hanya pakaian luar. Boleh, ya?"


"Jangan...."


"Kamu milikku, kan?"


Lagi, aku hanya bisa mengangguk. Aku memang miliknya, sejak aku terlahir di dunia ini.


"Kejora?"


"Baiklah."


"Aku ingin satu hal lagi."


"Apa?"


"Balas aku. Berikan respons terbaik."


"Tapi, Daddy...."


"Kamu milikku. Beri aku perlakuan yang sama."


"Em, aku... aku akan coba. Kamu tahu, kan, kalau aku sama sekali tidak berpengalaman?"


Sialan! Dia tersenyum super lebar dan membuatku malu dengan ucapanku itu.


Tetapi aku mencoba -- mencoba membalas ciumannya, mecoba meluma* bibirnya, mencoba menikmati lidahnya dan memberikan lidahku padanya. Dan... aku mencoba membebaskan tanganku untuk menyentuhnya.


Lalu...


"Kejora, jangan marah," bisiknya.


Agak samar karena rasa gugup menguasaiku akibat bisikannya. Yang kuingat, ia menegakkan bahu dan bertopang dengan kedua lutut, lalu ia melepaskan kausnya, setelah itu ia menarik paksa piyamaku hingga kancing-kancingku terlepas. Kemudian, ia menindihku, sambil membungkam mulutku dengan bibirnya, entah bagaimana dia berhasil melepaskan celanaku. Yang kuingat berikutnya dia mengajakku bergelut. Kami perang bibir, dan dialah pemenangnya. Tubuhku merah-merah semua karena gigitan dan *sapannya yang dahsyat yang mustahil kubalas. Dia puas untuk hal itu. Aku pun merasakan hal yang sama. Setiap gigitan dan *sapannya menegangkan saraf dan menyemburkan hormon-hormon bahagia bagi jiwaku yang terlanjur haus akan sentuhannya. Dan, aku juga sudah cukup puas dengan kulit kami yang bisa saling menempel lagi, dan keringat kami yang bersatu lagi. Dan... dia menginginkan penutupan.


"Sayang, balik sebentar," pintanya lembut.

__ADS_1


"Mau apa lagi? Memangnya belum selesai?"


"Sebentar saja. Aku mau cicip sedikit."


"Aku bukan makanan, Daddy...."


"Tapi kamu milikku. Kamu milikku," tekannya padaku.


Oh, otaknya sudah terlalu gesrek karena tubuhku.


"Balik badan sebentar, please?"


"Iya, oke."


"Bagus. Gadisku yang penurut."


"Nah." Aku berbalik. "Merahilah sesukamu."


"Akan kulakukan," bisiknya.


"Eh? Daddy! No, Dad!"


Dia gila! Dia melepaskan pengait bra-ku.


"Ssst... jangan berontak. Kamu bisa memancingku untuk melakukan hal yang lebih gila."


Hmm... aku pasrah. Mengecewakannya aku tidak mau, meneriakinya apalagi.


Biarkan saja, Kejora! Kau, tubuhmu, bahkan hidupmu, semua milik Gibran Aditama.


Mataku terpejam. Kehangatan telapak tangannya menjalari punggungku. Gemetar rasanya. Ditambah lagi, ia menggigit lagi di sana, mengisa* lagi di sana. Lalu...


Dia menindihku, dan kali ini keseluruhan kulitku bersentuhan dengannya. "Hangat?" tanyanya.


"Ya. Hangat, dan aku suka."


"Takut?"


"Em, sedikit. Tapi aku percaya padamu."


"Seberapa percaya?"


"Dad!" pekikku pelan.


Dia menyusupkan kedua tangannya ke depan, menangkup dadaku. "Hanya sedikit penasaran," katanya.


Sialan! Aku tahu isi otaknya. Pasti dia merasa ukuran dadaku pas dalam genggaman telapak tangannya yang lebar itu.


"Sudah, ya? Nanti kamu terpancing untuk...."


Dia menurut, lalu menarik kembali tangannya, dan sebagai gantinya ia mengisa* persis di belakang leherku.


Ya ampun, seberapa parah tubuhku sekarang? Bagaimana nanti setelah dia menikahiku? Bakal ringsek habis aku dibuatnya.


"Terima kasih," katanya.


Sekarang, dia merebahkan tubuhnya di sampingku. Kujulurkan tanganku meraih selimut dan menyelubungkannya ke tubuhku, menutupi dada dan pahaku. Aku pun berbalik untuk berbaring menelentang.


"Sudah puas?"


"Untuk sekarang ya. Belum seratus persen, sih."


"Nanti, setelah kita menikah, kamu bisa melihat keseluruhan tubuhku, dan merasakanku seutuhnya."


Dia tersenyum. "Ya," katanya. "Keseluruhan tubuhmu. Tubuh yang membuatku tergila-gila."


"Ssst... jangan dibahas."


"Baiklah."


"Apa aku boleh mandi sekarang?"


"Mau ditemani?"


"Daddy... jangan terlalu nakal...."


Dia terkekeh. "Iya, iya. Pergilah mandi."


"Emm... aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Kamu tahu kamu tidak akan sampai... kamu mengerti maksudku, kan? Tapi kenapa kamu suka dengan ini? Bukannya malah menyakitkan karena tidak tersalur sepenuhnya? Kenapa?"


Dia menggeleng. "Pergilah mandi. Aku akan mengantarmu ke sekolah." Satu ciuman mendarat di keningku, dan ia pun berlalu.


Kau membuatku penasaran, Gibran Aditama.

__ADS_1


__ADS_2