
Yeah, ini berkah yang luar biasa. Aku bahkan tidak mengidam makanan yang aneh-aneh. Apa pun kumakan asalkan tinggal makan dan mampu memenuhi rasa laparku yang datangnya tak kenal waktu. Yang aneh hanya satu, keinginanku yang tak masuk akal, aku ingin Daddy tidur tanpa baju dan aku mesti menyurukkan kepalaku ke bawah ketiaknya untuk bisa tidur nyenyak di setiap malam-malamku. Rasanya nyaman, dan menenangkan.
Paginya, ia memaksakan senyum sambil menggerak-gerakkan tangannya yang kebas atau tulang bahunya yang pegal karena ia mesti menaruh tangannya di bawah leherku atau di samping kepalanya. Tapi dia tidak pernah mengeluh. "Hanya sembilan bulan," katanya menghibur diri sendiri.
Dan kau tahu, salah satu hal lagi yang sangat membuatnya antusias, yaitu di saat kami check up kandungan. Pertama kali mendengar detak jantung janin kami, Daddy memegangi dadanya, merasakan jantungnya sendiri yang ikut berdetak hebat di dalam sana, katanya.
Well, aku menjalani momen kehamilan ini dengan sangat bahagia. Bahkan, walau Daddy masih terus memintaku untuk kontrol kesehatan jiwaku ke psikiater, aku tak pernah mempermasalahkannya. Toh, dokter sudah tidak memberiku obat anti depresi lagi setelah aku hamil. Meski di Malang aku ditangani oleh dokter yang baru, tapi kuanggap aku bertemu teman lama saat dokter itu mengunjungiku.
Tahu kenapa?
__ADS_1
Karena Daddy. Ia selalu menerapiku dengan mantra-mantra cintanya. Katanya begini, "Santai saja, Kejora. Sesantai ritme bercinta kita yang pelan-pelan saja. Nikmati, sebagaimana kita menikmati momen bercinta kita yang selalu menghangatkan cinta kita. Rasakan, rasakan hingga denyutannya yang terakhir."
Dan aku selalu terkikik mendengar kalimat-kalimatnya yang konyol dan malah menggelikan itu.
"Aku bahagia mendengar tawamu," katanya, lalu ia memelukku erat-erat dan aku bisa tertidur dengan nyenyak.
Tapi, dengan tetap berdiam diri di dalam rumah, aku bisa mengontrol kesedihanku. Aku justru menjadikan momen itu untuk kebahagiaan. Aku memilih untuk menyibukkan diriku dengan memasakkan makanan untuk Pak Fikri dan meminta tolong pada Daddy untuk mengantarkannya -- dengan selembar surat.
Terima kasih untuk ketulusan Bapak. Aku benar-benar meminta maaf dan berterima kasih setulus hati.
__ADS_1
"Dad, tolong sampaikan tentang kehamilanku, ya?" pintaku setelah mencium punggung tangannya, sebelum Daddy pergi untuk mengantarkan makanan itu ke lapas. "Aku tidak tahu kenapa, tapi aku yakin, dia pasti akan bahagia mendengarnya."
Daddy tersenyum. "Ya, Sayang. Akan kusampaikan."
Uuuuuh... rasa-rasanya aku seperti memberitahukan kepada ayahku bahwa anaknya sedang hamil dan ia akan mendapatkan seorang cucu dari putrinya ini. Ini untuk pertama kalinya aku melakukan hal ini, sesuatu yang kuharap bisa membuat Pak Fikri bahagia -- dan merasakan kebahagiaanku.
Sebelum pergi, Daddy berlutut di depan perutku, dan ia berbisik, "Ini semua berkatmu. Terima kasih, Sayang. Kau bintang terindahku selain Mommy. Daddy mencintaimu."
Ah, bahagianya aku.
__ADS_1