
Terperangah -- kurasa itu kata yang cocok untuk menggambarkan reaksi temannya Daddy saat pertama kali ia melihatku. Kami bertemu di stasiun saat ia hendak menyerahkan kunci mobilnya yang akan kami rental. Mungkin saking terperangahnya, ia hampir menjatuhkan kunci itu sebelum Daddy menyambutnya.
"Kejora?" gumamnya kala itu.
Aku yang saat itu belum mengerti apa-apa hanya kebingungan melihat reaksinya yang spontan. Aku menoleh ke Daddy dan menyampaikan pertanyaan tanpa kata, dan ia mengerti itu.
"Ini anaknya almarhumah, Hend," katanya.
"Ya ampun, Gibran. Duplikat nyata ini mah."
"Yap. Ayo Kejora, kenalkan dirimu pada Oom Hendri."
Aku mengangguk, lalu menjulurkan jabat tangan. "Aku Kejora, Oom."
Oom Hendri pun membalas jabat tanganku seraya menyebutkan namanya. Setelah itu ia memberikan lagi kunci mobilnya kepada Daddy.
"Kamu mau kuantar?"
"Tidak usah," sahut Oom Hendri. "Aku ikut mobil anakku. Dia menunggu di depan."
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita sama-sama ke parkiran. Kejora, bawa kopermu, Sayang."
Aku mengangguk, meraih tangkai koperku dan mulai berjalan mengikuti Daddy dan temannya yang berjalan di depanku. Mereka bicara sangat pelan hingga aku tidak bisa mendengar apa yang mereka obrolkan. Tepatnya, aku butuh konsentrasi penuh kalau ingin mendengarkan obrolan mereka di tengah hingar kebisingan dan keriuhan suasana di stasiun pagi itu. Dan aku tidak bisa melakukan itu. Konsentrasiku mesti kukerahkan pada langkah kakiku dan pada koper yang mesti kutarik.
Kami dan Oom Hendri berpisah di parkiran. Di sana, Oom Hendri sempat memperkenalkan putrinya kepada kami, Nadya Kirana. Kudengar, Oom Hendri dan Daddy sempat merencanakan janji temu sebelum kami pulang ke Jakarta nanti. Setelah obrolan singkat di parkiran itu, Daddy membuka pintu belakang mobil dan memasukkan kopernya, lalu koperku. Di saat itulah aku bertanya pada Daddy, "Kenapa Oom Hendri sebegitu terperangahnya sewaktu pertama kali melihatku tadi? Memangnya seberapa mirip aku dan ibuku?"
Daddy menatapku -- sangat dalam. "Seratus persen, Sayang," katanya yang terdengar lirih. Lalu ia menutup pintu belakang mobil, menarikku lebih dekat hingga aku bisa melihat wajahku di pantulan kaca di depanku. "Seperti itulah wajah ibumu. Sama persis."
Aku tertegun, dan seakan mematung di sana sampai Daddy menjentikkan jari di depan wajahku. "Ayo, Sayang. Masuk. Kita cari restoran dulu."
Entah bagaimana, seakan melakukan sesuatu di bawah pengaruh hipnotis -- mungkin seperti itu rasanya dihipnotis, aku melangkahkan kaki mengikuti Daddy dan masuk ke mobil setelah ia membukakan pintu di bagian penumpang untukku.
"Sayang, pasang sabuk pengaman."
"Em? Apa, Dad? Pengaman?"
"Sabuk pengaman, Sayang...."
"Oh, iya. Sori. Kejora...."
"Konsentrasi!"
Aku mengangguk. "Iya, maaf." Ya ampun, malunya sampai nyebut-nyebut pengaman. Ih, Kejora... kau gila!
"Kita cari restoran, ya. Numpang mandi dulu, setelah itu kita sarapan."
Dan semuanya seperti yang direncanakan Daddy. Setelah mandi, aku masuk ke restoran di mana Daddy sudah menungguku di sana. Dia juga sudah memesankan susu hangat dan sandwich untukku. Sedangkan ia memesan kopi hitam dan seporsi nasi goreng.
__ADS_1
"Nasi gorengnya enak, lo, Sayang. Coba cicipi ini."
Ya ampun, aku sering melihat adegan seperti ini di dalam film. Bahkan, aku pernah mengkhayal, kalau nanti aku sudah diizinkan punya pacar, aku kepingin diperlakukan seromantis ini oleh pacarku. Disuapi dengan sendok yang sama yang ia pakai tanpa rasa jijik sedikit pun. Tapi ini Daddy.
Duh... Kejora... redam irama jantungmu. Daddy sering menyuapimu, sedari kecil malah.
Hatiku bergejolak, seakan ada suara di kepalaku: Tapi dia tidak pernah menyuapimu setelah kau dewasa. Ini spesial, bukan?
Faktanya, aku sudah membuka mulutku dan mengunyah nasi goreng yang ia suapkan untukku.
"Enak, kan?"
"Em, sangat. Rasanya pas."
"A' lagi."
Argh! Kenapa, sih, aku ini? Ayolah... jangan baper, Kejora....
Perpisahan setengah tahun yang lalu membuat jarak seakan terbentang lebar di antara kami. Dan sekarang setelah pertemuan yang baru saja terjadi, semuanya malah menjadi terlalu aneh. Aku seakan bukan menemukan sosok ayahku dari dalam dirinya. Apa karena usiaku yang beranjak dewasa hingga otakku berpikir dan hatiku merasakan -- hal yang menjurus ke soal asmara?
Tapi dia Daddy-mu, Ra... lelaki yang membesarkanmu sebagai ayah.
"Kamu kenapa? Tidak suka sandwich-nya?"
"Oh, bukan. Sandwich-nya enak, kok. Daddy mau coba?"
"Boleh. Sini, suapi Daddy." Dia meraih tanganku, mendekatkan ke mulutnya lalu menggigit sandwich itu persis di bekas gigitanku.
Kuhela napas dalam-dalam. Rasanya aku sudah berkeringat, padahal aku baru saja selesai mandi.
"Rileks, jangan salah tingkah begitu."
Euw! Aku bertambah bingung mesti bagaimana menghadapinya yang mulai menegurku terang-terangan. Aku mengulum senyum. "Siapa yang salah tingkah?"
"O ya? Gelagatmu seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta, tahu! Kamu nervous, kan?"
Jleb!
Kugelengkan kepalaku kuat-kuat -- menampik apa yang sebenarnya dibenarkan oleh hatiku. "Siapa yang nervous? Daddy jangan geer."
"Yakin? Coba tatap mata Daddy?"
"Hah?" Aku terbelalak.
"Kejora?"
Pandanganku tertunduk. "Daddy jangan begitu, ih...! Bercandanya keterlaluan...."
__ADS_1
"Oke, oke. Sekarang lanjutkan sarapanmu." Dia tersenyum. Maniiiiis sekali. Jantungku berdegup-degup kencang melihatnya.
Aku mesti mengalihkan pandanganku. Untungnya, televisi di restoran itu menyala. Seorang gadis muda -- vokalis berwajah cantik dan berhijab yang waktu itu digosipkan sebagai pelakor tengah menghiasi layar kaca. Ia dicap sebagai perusak rumah tangga teman satu band-nya dan menyebabkan seorang istri menjadi janda.
"Pesona gadis muda," celetuk Daddy.
Entahlah, apa dia mengomentari acara gosip selebritis itu atau ia sedang mengomentari aku -- pesonaku? Hah! Percaya diri sekali, sih, aku.
"Jadilah wanita yang berharga. Ada banyak pria single, bahkan ada banyak duda seperti Daddy. Kenapa mesti menaksir suami orang?"
Aku tersenyum. "Apa itu maksudnya? Menasihati Kejora? Hmm?"
"Ya, anggap saja begitu."
"Trims. Kejora tidak akan seperti itu, kok."
"Kamu pernah pacaran?"
Eh? Aku tertegun. Bukan, bukan karena aku pernah pacaran. Tapi ini karena pertama kali ia bertanya padaku tentang pacar. Pasti akan berbeda jika yang bertanya itu hanya seorang teman. Tapi ini ayahku. Mungkin kau juga akan bereaksi sepertiku jika orang tuamu bertanya hal yang sama kepadamu. Bisa jadi.
Kugelengkan kepalaku dengan santai. "Tidak pernah. Kan Daddy melarang Kejora pacaran. Kejora anak yang baik. Kejora patuh pada semua perkataan Daddy. Sumpah."
"Kalau ada yang mengajakmu pacaran, kamu mau?"
"Tidak akan. Kejora memegang teguh kepercayaan Daddy."
"Kalau Daddy...?" Tidak ada kata-kata lagi yang keluar. Tapi matanya menatapku dengan lekat.
Aku jadi salah tingkah dan bertanya-tanya, apa maksud Daddy? Kalau apa? Kalau dia mau jadi pacarku? Eh, jadi konslet lagi kan otakku. Euw!
"Kalau Daddy yang punya pacar boleh?"
"Eh, Daddy...? Daddy punya pacar?"
"Apa kamu rela? Jawab jujur."
Terapi hati! Aku mau jawab iya, tapi hatiku melesak. Mau jawab tidak, itu tidak wajar. Lalu aku hanya bisa mengangguk.
"Jawab jujur dan tatap mata Daddy, please?"
Tidak bisa. Aku tidak rela. Sungguh aku tidak rela.
"Oke. Daddy tahu jawabannya."
"Katanya tahun depan. Kok Daddy malah...." Aku menangis. Cemburu. Sakit hati. Melesak, dan apa pun itu.
"Daddy hanya bertanya. Kenapa kamu malah menangis? Tidak rela? Iya? Atau kamu cemburu? Bilang saja, Sayang. Jangan sok kuat di depan Daddy."
__ADS_1
Santai sekali ia bicara. Dia tidak tahu bagaimana keadaan hatiku di dalam sini. Ya Tuhan... kuhapus air mataku, dan aku masih enggan mengakuinya. "Aku hanya belum siap berbagi kasih sayang Daddy dengan orang lain. Hanya itu."
Munafik!