
Pusing!
Lekas-lekas kuselesaikan mandiku lalu keluar dari kamar mandi. Dengan mengendap-endap, aku berhasil melewati ruang perapian yang lengang itu dan membuka pintu salah satu kamar, kuintip ke dalam dan ada koperku di sana yang berarti itu kamar untukku.
Huuuh... lega. Aku masuk dan segera membuka koper, lalu mengambil baju tidurku dan lekas-lekas berpakaian.
"Sudah cukup, ya, Kejora! Jangan membuat masalah lagi!"
Kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur dengan rambut yang masih tergelung handuk.
"Sayang...," panggil Daddy beberapa menit kemudian.
"Ada apa, Daddy?"
"Makan dulu, yuk, Sayang," ajaknya.
"Kejora tidak lapar, Dad...."
"Ya tetap harus makan...."
"Malas, Dad...."
Jujur, bukan malas. Aku hanya tak mampu menampakkan wajahku di depan Daddy. Aku malu. Super duper malu.
"Kejora... kalau kamu tidak mau menuruti aturan Daddy, Daddy antar kamu pulang ke Jakarta, ya?"
Ancaman?
Bukan! Bukan ancaman. Itu bujukan halus, dan ia pintar melakukan hal itu.
__ADS_1
Ceklek!
Senyuman hangat Daddy menyambutku begitu daun pintu terbuka. Nampaknya dia baru selesai mandi, rambutnya masih basah dan ia sudah berganti dengan kaus tipis yang pas badan, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang khas seorang lelaki tulen. "Begitu dong," katanya.
"Dasar tukang paksa!" cetusku sambil berusaha mati-matian menahan senyum.
Eit dah! Cengiran Daddy semakin melebar. "Sisir rambut gih, biar cantik."
"Mau rambutku kayak gimana aku tetap cantik, Daddy...."
"Biar lebih cantik. Yang pasti lebih sopan, apalagi kita mau makan."
"Iy--" tak sempat menyahut, jari Daddy menempel di bibirku. Ya ampun... rileks, Kejora....
"Jangan protes. Jangan bawel. Sisir rambut sekarang, Daddy tunggu. Oke? Bisa turuti perintah Daddy?"
Aku mengangguk lalu berbalik, mencari sisirku di dalam koper dan segera menyisir rambutku, sementara Daddy benar-benar menungguiku di ambang pintu. No, dia tidak sekadar menunggu, tapi ia mengamatiku. Aku merasakan tatapannya yang seakan mampu menggetarkan setiap saraf-sarafku.
Dia balas mengangguk, lagi-lagi senyuman hangatnya mengembang. "Yap. Kesayangan Daddy yang cantik. Daddy suka melihat kamu seperti ini. Natural."
Eh? Apa itu maksudnya?
"Ayo." Dia memberikan lengannya dan aku...
Tak ingin mengecewakannya -- mungkin sebenarnya memang tak ingin menolak, aku pun mengaitkan tanganku dan mengikuti langkah kakinya menuju ruang makan. "Waw...!" seruku menatap hidangan di depanku yang nampak lezat meski terbilang sederhana. "Siapa yang masak, Dad?" tanyaku.
"Tukang masak," ujar Daddy seraya menarik mundur kursi untukku. "Para pekerja yang tinggal di sini makannya dari dapur bersama, dan ada tukang masaknya juga."
Aku yang sudah duduk di kursiku pun manggut-manggut menanggapi ucapan Daddy. Dan sewaktu Daddy hendak mengambil nasi, aku segera mencegahnya. "Biar Kejora, ya," kataku. Kuambilkan ia nasi dalam porsinya yang biasa, dan menambahkan beberapa lauk juga ke piringnya. Meski lahir dan tumbuh besar di kota sebesar Jakarta, Daddy terbiasa makan dengan gaya khasnya: dengan bakul nasi dan lalapannya yang ekstra.
__ADS_1
Sungguh, aku suka melihat respons Daddy yang menyunggingkan senyuman hangat. "Terima kasih, Sayang," ucapnya.
"Sama-sama, Daddy... Sayang."
Aku cekikikan, merasa geli seolah aku tak pernah menambahkan kata sayang ketika aku menyebut dirinya.
"Eh, tapi masing-masing pondok juga ada dapur pribadinya, kan, seperti yang di sini?" Aku mulai mengisi piringku dengan makanan untuk santap malamku.
Tentu saja, pondok itu persis rumah. Dan bukan rumah namanya kalau tanpa dapur. Daddy menjawab pertanyaanku dengan anggukan, kemudian ia langsung menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Dad," kataku, "nanti sebelum kita pulang ke Jakarta, aku mau ketemu Mom Rani, dong. Tolong, ya?"
Puji syukur ia mengiyakan. "Kita undang saja mereka untuk menginap di sini, kalau mereka ada waktu nanti. Bagaimana?"
Kurasa itu ide yang bagus. "Monggo, diaturi."
"Tapi nanti, ya. Daddy pingin menghabiskan waktu berdua dulu denganmu. Hanya berdua."
Eh, Daddy menaruh tangannya di atas tanganku. Aku tertegun dan bengong dibuatnya. Dan ketika aku hendak menarik tanganku, Daddy justru mengeratkan genggamannya.
Ya Tuhan... meresahkan!
"Boleh, kan?"
Oh, Oma... anakmu membuatku salah tingkah. Jangan sampai aku kejang-kejang di sini karena kelakuan puber seorang Gibran Aditama.
"Rileks, ya. Daddy hanya...."
"It's ok. Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Thanks... Sayang."
Kubalas genggaman tangannya sebagai jawaban terbaik. Everything for you, Daddy. Asalkan Daddy bahagia.