Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Malam Pertama


__ADS_3

Lagi, Daddy tersenyum hangat. ia bangkit dan menarikku ke dalam pelukan. Dan entahlah, tak seperti waktu itu, saat ini aku merasa malu berdiri di hadapannya hanya dengan pakaian dalam seperti ini. Aku menyadari, selain aku, dia pun gemetar saat melepas kaitan bra-ku dan menjatuhkannya ke lantai, lalu ia menurunkan *alaman terakhirku menuruni kaki. Aku tak sanggup berdiri rasanya saat Daddy berlutut menatapku -- di bagian itu. Malunya luar biasa.


"Please, aku malu," kataku -- memprotes kelakuannya yang menggelikan itu.


Dia mengulum bibir -- menahannya supaya tak tertawa karena protesku, lalu kembali berdiri. Menyadari rasa maluku, dia langsung menggendongku dan membawaku ke tempat tidur. Sambil memelukku di dada, dia menyingkirkan selimut, lalu menurunkanku ke ranjang pengantin kami. Dia mengikutiku tanpa melepaskanku, tubuhnya yang besar menutupi tubuhku sementara ia mencium bibirku.


Aku tidak yakin bagaimana Daddy melepaskan jubah mandi dari tubuhnya, tapi ia sudah melempar benda itu ke lantai. Aku mengeran* lirih, setiap saraf dan sel dalam tubuhku mendambakannya. Tangan Daddy bergerak membelai tubuhku, ia membuatku lapar dan gelisah. Dan aku menyukai rasa tubuhnya yang berotot, panas kulitnya yang *ensual yang menempel di kulitku, dan juga rasa bibirnya. Dia menciumku, panas, mendesak, rakus, dengan mulut dan lidah yang menyelinap masuk ke dalam kehangatan mulutku, menggoda dan menggelitik kedalaman hasratku.


Dan, dia membuatku mengeran* tak tertahan tatkala jiwa kanibalnya bangkit. Dia menggigi*, mengisa* kuat di leherku hingga aku refleks mencengkeram helaian rambutnya.


Rasa yang lebih nikmat kurasakan ketika ia turun ke bagian dada. Nikmat, tapi juga malu ketika ia menangkupnya, dan -- kusadari ukuranku pas dalam tangkupan telapak tangannya, lalu ia menyapu ringan puncaknya dengan ujung-ujung jemari, merasakan saat bagian itu mengeras oleh sentuhannya. Lalu, yang membuatku melenguh, dia menundukkan kepala dan mengambilnya dengan mulut, mengisa* lembut, nyaris memuja keindahan itu yang seakan memilin jantungnya keluar dari rongga dada.


"Oh, Daddy...." Dia membuatku tersengal dan mengeran* karena *sapannya yang menguat. Aku suka. Benar-benar suka. Akhirnya, untuk pertama kali ia mencicipinya hingga puas, di puncaknya, sementara aku menggelia* dan otot-otot pahaku mengencang.


Aku tahu, aku sudah sangat siap menerimanya. Dan ketika ia kembali sejajar denganku, dia menatap kedua mataku dalam-dalam seakan meminta izin, aku pun mengangguk.


"Aku mencintaimu," bisiknya, sementara tangannya menyelip ke dalam pahaku. Mengelus lembut -- membuatku tersipu karena ia pasti menyadari keadaanku yang... kau tahulah apa yang kumaksud. Aku sangat mendambakannya. Interval kakiku sudah terbuka ketika Daddy memosisikan diri di antara pahaku. Dan...


Oh, aku bergidik, menyadari saat pertama kali ia -- yang hidup dan mendamba -- menyentuh bagian sensitifku.

__ADS_1


Ya Tuhan... inilah saatnya.


Irama jantungku tak terkontrol.


Rileks, Kejora... memang sudah waktunya.


Tapi gagal! Mana bisa rileks. Malah, aku merasa semakin tegang, aku menyadari ketika Daddy mengarahkan dirinya padaku. Dia mulai masuk, perlahan... perlahan...


Dan...


Sakit. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak meringis ketika dirinya berusaha membenamkan diri lebih dalam.


Dia berhenti sesaat. "Tahanlah sebentar," pintanya. "Tahan sakitmu untukku, em?"


Sumpah demi apa pun itu rasanya sangat sakit dan sama sekali tidak se-sebentar seperti yang kuharapkan. Itu cukup lama. Cukup lama sehingga aku menangis merasakan sakitnya, dan ingin menjerit ketika akhirnya ia menekanku sekuat tenaga hingga...


"Daaaaad...!"


Ya Tuhan...!

__ADS_1


Dia berhasil... kau tahulah apa maksudku.


Dalam deraian air mata, aku hanya bisa menggigit bibirku sendiri. Perih! Sakit! Sakit sekali!


"Maaf," ucapnya, dia menghapus air mataku sementara bibirnya menyunggingkan senyuman puas.


Yeah, dirinya sekarang di dalamku, memenuhi ruangku. Aku bisa merasakan ketegangannya. Sesuatu yang asing dan *eras, yang berhasil terbenam seluruhnya.


Lalu, ia menatapku lagi dalam-dalam. "Kita lanjutkan, ya? Setelah ini tidak akan sakit lagi."


Tidak, dia bukan meminta izinku seperti tadi. Dia mulai bergerak di dalam diriku, dan benar, rasanya tak lagi sesakit tadi. Rasa nikmat kembali membuai. Dia bergerak perlahan, sangat perlahan di awalnya hingga aku bisa berusaha rileks dan menahan sisa-sisa sakitku, lalu ia bergerak lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Sehingga akhirnya, kekuatan dan kecepatannya membuatku mabuk. Aku gemetar penuh damba seakan tersesat dalam sensasi asing, menggapai, menggapai sesuatu yang menghindar hingga ada rasa asing seperti di dalam mimpiku waktu itu. Sesuatu -- yang ingin terlepas. Rasa seperti ingin meledak di dalam diriku yang menjebakku dalam keajaiban yang tak bisa kujelaskan -- yang seakan membuat dahagaku terpuaskan ketika ia mengajakku mencapai puncak bersamanya.


Sungguh, aku sangat bahagia. Ini -- seribu kali lebih nikmat dari yang pernah kurasakan di dalam mimpiku meski pada akhirnya ini membuatku kehabisan tenaga. Aku terkulai lemah dengan keringat yang bercucuran.


Dan ketika semuanya telah usai, sebelum aku kehilangan kesadaranku, aku melihat Daddy tersenyum. Dia terlihat sangat bahagia, sama bahagianya sepertiku. Dan aku bersyukur untuk seumur hidup bahwa aku telah menyerahkan diriku kepadanya di waktu yang tepat.


"Terima kasih, Kejora. Aku mencintaimu. Kau Bintang Terindah dalam hidupku."


Aku hanya bisa mengangguk. Aku bahagia untukmu, Daddy. Aku mencintaimu.

__ADS_1


Dan aku pun terkulai lemah....


__ADS_2