
"Kenapa mesti sekarang, sih?" geramku saat aku bangun pagi dan mendapati diriku dalam keadaan lengket. Buru-buru aku ke kamar mandi dan langsung mandi meski hari baru jam empat pagi.
Aku baru saja menyelesaikan mandiku ketika Daddy membuka pintu kamar mandi dan melongo melihatku yang polos sementara rambutku terbungkus handuk dengan gaya turban.
"Tumben kamu mandi jam segini?"
Aku mengedikkan bahu. "Aku sedang menstruasi," kataku.
"Hah?" nyaris tak bersuara. "Serius?"
"Em, sama sekali bukan bercanda."
"Huh! Datangnya tidak tepat waktu."
__ADS_1
Dia merengut, menutup pintu dan kembali ke tempat tidur. Lucu sekali. Daddy bersikap seperti anak ABG yang sedang ngambek berat pada pacarnya. Saat aku keluar dari kamar mandi, ia membenamkan wajahnya ke bantal.
Sulit ditahan, tawaku ingin pecah saat aku membuka laci dan mengambil keperluan wanita sementara Daddy mengawasi, seolah ingin memastikan apa benar aku sedang mengalami siklus bulananku atau hanya sekadar bercanda dengannya.
"Sabar, ya. Paling satu minggu."
"Apanya yang paling? Itu lama."
"Yang sabar, Daddy Sayang...."
Dan ini adalah momen yang menyenangkan untuk balas menjahilinya. Jadi, pada siang hari itu, aku sengaja memakai pakaian dalam sewarna kulit, katakanlah bikini ala pantai yang sangat seksi dan memperlihatkan tubuhku yang indah. Sengaja kugelung rambutku tinggi-tinggi dan bersantai di atas perahu karet yang mengapung di kolam belakang. Pura-puranya aku sedang berada di pantai dan bergaya ala bule.
Ini biasa kulakukan untuk menghabiskan waktu luangku dengan cara yang menyenangkan. Gara-gara tidak pernah diizinkan hangout ke pantai seperti teman-temanku, aku minta pada Oma untuk membelikanku perahu karet ukuran besar dan meminta padanya untuk bilang ke Daddy supaya ia memperbesar area kolam. Mungkin demi menyenangkan aku dan supaya aku tetap menjadi gadis yang penurut, yang diam saja di rumah pada hari libur, akhirnya Daddy dan Oma menuruti mauku itu. Jadi, ya sudah, tak ada pantai, kolam luas pun jadi. Toh, sama-sama mengapung di atas air, bukan? Dan Oma mengizinkanku berbikini cantik di area tertutup itu selagi Daddy tak berada di rumah.
__ADS_1
Melihatku seperti itu, Daddy merasa gemas. Dia tidak tahan untuk tidak ikut berbaring di sampingku. Dengan celana pendeknya yang ketat, ia ikut naik ke perahu dan kerjanya malah merabai-rabai tubuhku. "Kamu membuatku menderita," rengeknya seraya menjelajahi perutku.
"Masa sih?" Aku tertawa nakal dan menariknya ke dalam pelukan. "Sama menderitanya seperti enam bulan yang lalu?"
Ia mengedikkan bahu. "Lebih dari itu. Sekarang aku sudah merasakanmu, dan sekarang mesti menahannya lagi. Itu menyebalkan, tahu! Bagaimana aku bisa tahan?"
Duuuh... yang masa pubernya belum kelar. Menggemaskan sekali....
"Hanya sebentar, kok. Tidak akan membuatmu mati karena rasa penasaran."
Daddy tersenyum, dia memegang wajahku, menatapku dalam-dalam dan tanpa terduga ia langsung menindihku. Praktis aku terbahak-bahak. "Kita mesti menghabiskan waktu di luar. Kamu menyiksaku kalau kita berduaan begini. Aku tak bisa menahan hasratku padamu, Kejora."
"It's ok. Terus, aku harus bagaimana?"
__ADS_1
Euwww... dia nyengir kemudian melahapku. Puas dengan bibir dan lekuk leherku, Daddy menyelinapkan tangannya ke belakang punggungku dan melepaskan pengait bra-ku. Kemudian ia berbisik mesra, "Please, tolong aktifkan tanganmu, Kejora."
Waduh?