Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Yang Tak Kumengerti


__ADS_3

Saat aku terbangun keesokan paginya, di tengah subuh yang masih pekat, aku menyadari aku tengah bersandar di bahu Daddy. Bahu ternyaman yang sedari kecil kurasakan. Tapi aku bukan lagi Kejora kecil. Otakku mengatakan bahwa aku mesti menarik diri, aku tak boleh tidur bersandar padanya. Tapi hatiku mengatakan lain. Aku nyaman bersandar di bahunya. Sangat nyaman. Hingga aku enggan menegakkan bahu. Aku terus memejamkan mataku. Lalu...


Hangat kurasakan, embusan napasnya menyapu wajah, begitu dekat. Aku seakan menemukan lagi dirinya, sosok yang selalu memberiku kehangatan dari dinginnya kegelapan. Dan dengan lembut, kurasakan ia membelai wajahku. "I love you, Kejora."


Oh, Dad. Aku bahagia sekali. "I love you more, Daddy."


Sempat kulirik, ia tersenyum malu. "Eh? Kamu sudah bangun, Sayang?"


"Em, tapi nggak mau bangun, ding. Bahu Daddy nyaman. Kejora jadi ingat masa-masa Kejora kecil dulu. Kejora yang manja. Itu masa-masa terindah. Yang penuh kenangan. Bukan seperti belakangan ini, terasa ada jarak."


Ada hati yang merasa tertonjok. Daddy pun menghela napas dengan berat. "Kata siapa? Itu cuma perasaanmu, Sayang. Kamu harus maklum, Daddy sibuk. Daddy kerja juga untuk Tuan Putri dan Kanjeng Ratu, kan?"


No, Dad. Daddy bisa mengingkari. Tapi aku cukup mengerti tentang jurang yang membentang itu. "Kejora sudah besar, Dad. Kejora--"


"Sudah... jangan dibahas...."


"Hmm...."


"Yang penting sekarang Daddy ada di sini, ya kan?"

__ADS_1


Aku tersenyum hambar. Aku tahu ini pembahasan tidak nyaman, tapi tidak nyaman juga bila tidak dibicarakan. Ada ganjalan yang mesti kubuat lega dan terasa plong, aku pun menghela napas dalam-dalam. "Jangan ada jarak lagi, ya? Please... aku tidak mau ada jarak lagi di antara kita. Aku selalu butuh Daddy di sisiku."


"Kamu melarang Daddy bekerja? Hmm?"


Guyon....


"Dad... Daddy tu ngerti maksud Kejora. Jangan pura-pura begitu."


Samar terdengar, suara tawa kecil keluar dari bibirnya. "Ehm, iya, iya. Mulai sekarang Daddy akan lebih perhatian padamu, oke? Daddy janji."


Aku menegakkan bahu, dan bertanya, "Bagaimana nanti setelah Daddy menikah? Apa Daddy akan melupakan aku?"


Ah, ada sedikit rasa lega yang membuatku refleks meraih dan menggenggam tangannya. Lagi-lagi ia tertegun, tapi akhirnya dia bersedia membalas genggaman tanganku. "Jujur, aku sangat takut kehilangan, Daddy. Aku takut tempatku terganti oleh orang lain. Apalagi nanti setelah Daddy punya anak. Aku takut nanti kasih sayang Daddy--"


"Sudah, jangan memikirkan soal itu. Daddy pasti akan tetap menyayangimu. Daddy janji."


"Apa yang bisa menjamin kalau Daddy akan tetap menyayangiku? Aku bukan anak kandung Daddy. Posisiku pasti--"


"Satu tahun itu masih lama, Kejora. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Untuk apa kamu menakutkan sesuatu yang masih menjadi rahasia Tuhan? Iya, kan?"

__ADS_1


Yeah, aku tahu. Tapi justru sesuatu yang belum kita ketahui -- itulah yang menakutkan. Aku pun kembali bersandar di bahunya. "Andainya bisa, aku juga tidak ingin hal ini mengusik hatiku. Tapi...."


"Ya sudah, Daddy menikahi kamu saja kalau begitu. Mau?"


Hah?


Refleks, bahuku kembali tegak. Dan di saat bersamaan tatapan kami terkunci. Detik berselang, ia menyunggingkan senyum. "Hidup jangan terlalu ditanggapi dengan serius. Kamu masih muda. Nikmati saja masa mudamu. Belajar yang rajin, supaya pintar dan lulus dengan nilai yang bagus. Oke?"


"Em." Aku mengangguk, lalu menunduk. Dan sejenak kemudian kembali melorot di sandaran kursi.


Dia hanya bercanda. Kenapa juga aku jadi deg-degan? Ayolah, Kejora... rileks, rileks, rileks. Jangan geer...


"Ingat, ya. Kalau kamu bahas-bahas keparnoan-mu itu lagi, ketakutan kamu kehilangan kasih sayang Daddy, kita tidak usah cari jodoh untuk Daddy. Daddy menikahnya dengan kamu saja. Kamu tidak akan kehilangan Daddy. Daddy dapat istri. Oma dapat menantu. Terus kita kasih Oma cucu. Nah, kita buat segalanya jadi mudah. Mudah, kan?"


Ya ampun, Dad. Daddy masih bercanda? Daddy membuat hatiku jadi jumpalitan, tahu...! Aku berdeham. "Ya sudah, Daddy yang bilang ke Oma, ya. Minta restu, bilang pada Oma kalau kita mau menikah. Berani, tidak?"


Ini gila! Bercanda yang paling gila! Dan -- yang tak seharusnya.


Daddy melirikku sesaat, lalu tersenyum. "Baiklah, siapa takut. Wait and see, suatu saat Daddy akan bilang ke Oma. Nah, sekarang kamu fokus sekolah saja dulu. Oke? Dan mari kita nikmati liburan ini dengan hati yang plong. Be happy, Sayang. Aku ingin kamu bahagia."

__ADS_1


Ih, apa sih? Dia bercanda atau serius? Kenapa sulit bagiku untuk membedakannya? Oh Tuhan... rileks, Kejora. Rileks...


__ADS_2