Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Perasaan Itu....


__ADS_3

Ada satu lagi momen melow yang terjadi selama masa kehamilanku. Persis pada saat usia kehamilanku memasuki trimester kedua. Sudah saatnya kami pindah ke Malang. Sebelum pergi, aku meminta Daddy untuk membawaku menemui Pak Fikri. Di sana, kami saling menanyakan kabar, tak lupa ia menanyakan kondisi kandunganku, dan aku juga membawakan makanan spesial untuknya, masakanku. Dengan tersenyum bahagia, ia mengucapkan terima kasih dan memuji kemampuanku dalam memasak makanan enak. Katanya dia suka setiap masakan yang kukirim untuknya setiap minggu.


Tetapi, tujuan utamaku bukanlah itu, melainkan untuk berpamitan.


"Emm... ada yang ingin kusampaikan."


"Oh, apa itu, Non? Ada apa?"


"Emm... anu, aku... aku akan pindah ke Malang," kataku.


"Oh," ia mendesa*, jelas terdengar nada kecewa dari suaranya.


"Ini memang sudah direncanakan sebelum kami menikah. Kami akan tinggal di Malang, dan... aku... aku ingin berpamitan, maksudku, apa... apa aku boleh pergi?"


Ya Tuhan... itu pertama kali aku menangis lagi setelah cukup lama hari-hariku diliputi kebahagiaan sejak kehamilanku. Tidak tahu kenapa, tapi aku menginginkan izin dan keikhlasan hati Pak Fikri atas kepindahanku ke luar kota, yang akan membuatku jauh darinya.

__ADS_1


"Non tidak perlu izin dari saya."


"Aku menginginkannya," kataku cepat.


"Tapi Bapak ini kan bukan siapa-siapanya Non."


"Panggil aku Nak, aku mohon?" pintaku, yang semakin aneh dan tak bisa kukontrol. "Izinkan aku pergi?"


Sepertiku, air mata Pak Fikri juga ikut menetes. "Ya, Nak," isaknya. "Pergilah. Jaga baik-baik dirimu. Bapak doakan semoga kamu selalu bahagia."


"Terima kasih," kataku. "Bapak juga jaga kesehatan, ya. Aku akan minta tolong Pak Ujang untuk sering ke sini melihat keadaan Bapak. Aku... aku pamit." Kuraih tangannya dan kuciumi dengan sepenuh perasaan.


Dan, kembali ada perasaan haru ketika ia menyentuh kepalaku. "Berbahagialah, Nak. Berbahagialah."


Aku mengangguk, dan segera mengajak Daddy beranjak dari sana. Tetapi, sewaktu aku dan Daddy hendak keluar dari ruang kunjungan itu, Pak Fikri memanggilku.

__ADS_1


"Setelah Bapak bebas dari sini, apa Bapak boleh menyusulmu ke Malang?"


Mataku terpejam, perasaanku seperti dicubit-cubit oleh rasa bersalah, getir namun ada sedikit rasa manis. "Boleh. Tentu saja boleh. Aku tunggu."


Tak tahan lagi, air mataku mengalir deras dan aku segera pergi dari sana.


"Tidak ada yang salah, kan, dari semua yang kukatakan?"


Senyuman bahagia merekah di wajah Daddy. "Tidak ada," katanya. "Kamu tahu, secara alami, kamu sudah menunjukkan bagaimana mulianya hatimu sebagai seorang perempuan. Dan aku bangga. Aku bangga memiliki istri sepertimu. Kamu yang terbaik."


Oh Tuhan... di pelataran parkiran itu, Daddy mencium bibirku. Aku sampai kaget dan mendadak berhenti menangis. "Dad...," protesku. "Ini kan tempat umum...."


Dia gesrek!


"Biar saja," ujarnya. Dia menciumku sekali lagi. "Itu cara ampuh membuat istriku berhenti menangis. Dan lihat, sekarang kamu tersenyum. Sangat cantik."

__ADS_1


Yap. Dan dialah yang mahir melakukannya. Dia ahli dalam mengatasi hati dan perasaanku, plus, ahli membuat air mataku berhenti secepat mungkin. Dia, Gibran Aditama. Suami yang terbaik.


__ADS_2