Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Melawan Rasa Takut


__ADS_3

Sial!


Riko tidak ada di rumahnya. Pagar rumahnya tergembok dan sepeda motor Riko tidak kelihatan di pekarangan rumahnya. Dan ternyata, kata tetangga, Tante Sila pun sudah lama tidak pulang. Sebagai gantinya kami ke rumah Pak Amir, ketua RT setempat. Tetapi, Daddy meminta Kanaya, anak Pak Amir untuk menemaniku mengobrol di dalam rumah mereka, sementara ia dan Pak Amir mengobrol di teras. Aku tidak tahu dan tidak mendengar sedikit pun pembicaraan mereka. Tapi sudahlah, pikirku. Apa pun itu, itu pasti yang terbaik untukku.


Sepulang dari rumah Pak Amir, kami langsung ke supermarket. Kami membeli bahan makanan untuk beberapa hari, secukupnya sampai hari terakhir kami di Jakarta. Dan setelahnya, Daddy mengajakku ke bioskop untuk membuatku kembali ceria. Tentu saja dilengkapi dengan sesi berbagi popcorn dan bercumbu mesra di bagian-bagian adegan film yang memancing hasrat -- layaknya pasangan lain, tapi bedanya kami pasangan yang sudah sah sebagai pasangan suami-istri. Sekarang kusadari betapa bodohnya aku yang dulu karena memberikan Daddy kesempatan mencumbuku sebelum kami menikah. Yeah... merasa bodoh, tapi akunya juga terkikik-kikik dalam hati.


"Cium aku," bisikku saat adegan ciuman di layar baru saja berakhir.


Daddy tersenyum nakal. "Yakin?" tanyanya.


"Yeah, give me. Hot kiss."


Uuuh... tanpa menoleh kanan kiri Daddy langsung menyapukan bibirnya, dia bahkan menyedot bibirku ke dalam mulutnya. Lalu, dengan isengnya aku mencengkeram pangkal pahanya.


"Kejora... jangan nakal...."


"Kenapa?" kami berbisik-bisik.


"Aku bisa menarikmu keluar dan memaksamu bercinta di mobil."


"Oh, aku tidak akan terpaksa, Daddy. Dengan senang hati aku bersedia."


"Ya Tuhan... kau sangat gila, Kejora...." Dia balas mencengkeram pangkal pahaku.


Iyuuuuuh... aku jadi terkikik-kikik. Yang lebih jahil lagi pada adegan berikutnya, aku sengaja mendesa* di telinganya. Kejahilanku sampai membuat Daddy mengelus lehernya, dia meremang. Kalau saja ini negara bebas, dia pasti sudah menindihku di situ dan membuat diri kami polos dalam sekejap, kemudian bercinta dengan penuh gairah.

__ADS_1


"Awas saja nanti sampai di rumah. Aku tidak akan memberimu ampun."


Huuuuuuh... semakin kuembuskan napasku dilehernya. "Aku tak sabar ingin segera pulang."


"Oh, rupanya-rupanya gadis kecil ini menantangku."


"Mmm-hmm, buktikan saja. Gairahmu tak pernah padam, bukan?"


"Yeah, tidak pernah. Dan kamu tahu, tantanganmu membuatku ingin menghabiskan waktu berjam-jam untuk bercinta denganmu."


"Baiklah," kataku. "Kita habiskan dulu filmnya, dan setelah itu kita segera pulang. Daddy boleh pakai suplemennya kalau mau. Mau berjam-jam, kan?"


Hah! Dia menggeleng-gelengkan kepala karena kegilaanku. Tapi kali ini aku serius, aku tak masalah jika dia mengajakku bercinta gila-gilaan. Asal jedahnya lama, bukan?


Yap, romantika bercinta yang indah. Yang bukan sekadar dalam mimpi. Bukan fantasi. Bukan sesuatu yang menguap begitu saja seperti adegan di dalam film, yang selesai dan penonton bubar begitu bagian credit bergulir dan lampu dinyalakan.


"Oh, yes," sahutku super semangat.


"Baiklah, kita pulang...," Daddy turut berseru.


Kusambut tangan Daddy dan beranjak dari tempat duduk kami.


"Wow!" aku berdecak, melirik ke belakang saat kami berjalan keluar dari bioskop dan melewati seorang gadis sangat vulgar yang terang-terangan menelan lidah kekasihnya.


Lalu, berikutnya kami berjalan melewati pasangan lain yang tampak hampir telanjang di depan publik. Yang cewek menoleh ke arahku dan menatapku tajam. "Apa sih? Nggak pernah melihat orang pacaran?"

__ADS_1


Aku mengabaikannya, terus berjalan. Tapi aku tak bisa menahan tawaku.


"Sudah, sudah. Jangan berlebihan tawanya," tegur Daddy.


"Iya, iya. Aku hanya teringat kita sebelum menikah. Nakal."


"Yeah, dan itu membuatku takut punya anak perempuan. Sebaik-baiknya kamu, kamu juga nakal."


"Em, aku tahu. Dan itu gara-gara kamu. Aku nakal karena rayuanmu, kan? See, punya anak laki-laki juga bikin takut--"


Seseorang menabrakku.


"Sori," kata orang itu. Aku mengenali suaranya.


Aku memutar tubuh. "Riko?"


Dia langsung bergegas, berlari tanpa menoleh, tapi lebih tampak seperti orang terburu-buru bukan karena takut kami mengejarnya. Dia menimbulkan kesan "sesantai" itu terhadap kami.


Pemuda itu memakai topi, jaket, dan masker. Tapi aku tetap mengenalinya lewat suaranya. Dan... gelang tali di tangannya.


"Kamu yakin itu Riko?" Daddy bertanya.


"Ya." Tapi aku menggeleng. "Entahlah. Lupakan saja."


"Well, asal kamu tenang. Aku juga tidak mungkin mengejarnya dan meninggalkanmu sendiri di sini."

__ADS_1


Benar. Seandainya yang menabrakku tadi benar-benar pemuda itu, terserah. Toh, dia cemen, dia hanya berani menerorku dengan cara-cara menjijikkan. Aku tidak boleh takut, ada Daddy bersamaku.


"Ayo, kita pulang. Kita punya agenda yang lebih menarik untuk dilakukan."


__ADS_2