
Ya ampun, bagaimana aku bisa... bagaimana untuk memulainya? Menyentuhnya untuk pertama kali?
Dengan kikuk, kugerakkan jemariku, memegang lingkar celananya dan melepasnya turun. Lalu....
Gemetar. Aku menyadari kecanggunganku saat pertama kali jemariku menyentuh dirinya. Sesuatu yang sudah kembali hidup dan mendamba. "Aku... aku sudah menyentuhnya. Lalu aku harus apa?"
"Nothing, aku hanya ingin kita tidak canggung lagi pada satu sama lain. Kamu bebas menyentuhku, di bagian mana pun, tanpa terkecuali, karena aku milikmu, seutuhnya."
Aku mengangguk paham, meski menurutku harusnya biarkan saja keadaan di antara kami mengalir seiring waktu, dan aku akan terbiasa dengan sendirinya. Walau, aku tahu, mungkin aku akan membutuhkan waktu yang cukup lama. "Aku akan berusaha membahagiakanmu, dan... aku akan melayanimu sebaik-baiknya. Tapi aku butuh waktu--"
"Ssst...." Bibirnya membungkamku lagi, lalu ia menggendongku, mendudukkanku di atas meja di samping ranjang. Kemudian, sambil melingkarkan lengan kirinya ke belakang tubuhku, bibirnya terbenam di leherku. Setelah itu, ia bermain-main di telinga sementara kedua tangannya berpindah, mencengkeram kuat bagian pangkal pahaku. Kusadari, dalam sekejap otot-ototku telah menegang. "Aku ingin lebih dari ini. Boleh?"
__ADS_1
"Em, apa pun."
Dengan mesra, Daddy menulusurkan bibirnya, membelai -- menuruni tubuhku, dan, ia berhenti di antara kedua tungkaiku dengan bertopang lutut di hadapanku. Entah bagaimana, aku mendapati kedua kakiku berada di atas pundaknya. Lalu...
Oh, aku suka dia mencicipi rasaku di sana, dengan kehangatan bibirnya, dan belaiannya. Sensasi geli menggelitik menyerbuku, sehingga tanpa sadar aku mencengkeram kuat rambutnya dan menahannya di antara kedua tungkaiku.
Daddy menyeringai. "Sakit, tahu!" protesnya.
"Sini," katanya, ia menggendongku di dada. "Biar kubalas kamu, ya." Dia menghempaskan tubuh kami berdua ke tempat tidur, dengan aku berada di bawah dan dia menindihku. "Katakan, kamu mau seberapa lama? Hmm? Satu jam? Dua jam? Atau selamanya, tanpa henti?"
Lagi, aku terbahak. "Kamu menakutiku, tahu! Jangan buat aku tidak bisa berjalan setelah ini."
__ADS_1
"Sayangnya aku akan melakukan itu, Sayang."
Hah! Dasar suamiku yang gesrek!
Dengan mesra, dia -- Gibran Aditama -- mengecup puncak hidungku. "Kau selalu membuatku bergairah," bisiknya. Aku menyadari bahwa ia menatap takjub keindahan tubuhku. "Keindahan yang begitu murni. Kau membuatku bertahun-tahun berpikir bagaimana cara untuk memilikimu. Membuat hubungan ini pantas dan tanpa penolakan. Tapi kenyataan bahwa akulah yang membesarkanmu, itu selalu saja membuatku takut. Takut pada penolakanmu. Kau menyiksaku selama bertahun-tahun, Kejora. Bahkan karenamu aku rela menyepi. Berharap aku bisa melupakan perasaanku padamu. Tapi nyatanya aku tidak pernah bisa. Mengingatmu yang sudah beranjak dewasa, selalu membuatku ingin pulang. Kau tahu, bayang-bayangmu menghantuiku setiap malam. Betapa aku menginginkanmu sejak lama. Aku menginginkanmu, Kejora. Aku sangat menginginkanmu."
Oh, Tuhan, kejujuran kata-katanya membuatku memerah. Dengan malu-malu, aku berbisik, "Maaf untuk semua hal yang tidak kuketahui. Tapi sekarang aku milikmu, lakukan apa pun yang bisa membuat jiwamu terbebas. Aku milikmu, Gibran Aditama."
Seketika, senyumnya mengembang dan nyaris melankolis. Dia menunduk untuk mencumbu dada, mencari-cari bagian itu dan, membuatku melengkungkan tubuh dan memekik di puncak kenikmatan.
Sungguh, ini siksaan yang begitu indah. Membuatku tak henti gemetar dalam kehangatan cintanya. Ini sungguh luar biasa. Sungguh aku bahagia....
__ADS_1