Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Viral


__ADS_3

"Ra, Dinda ingin bertemu kita."


Tiara menyeretku ke arah toilet, menjauh dari ruang BK yang di mana nenek-nenek kami sedang bertemu dengan Bu Fatma di dalam ruangan itu. Dinda sudah ada di sana, di dalam toilet wanita, rautnya seperti dipahat dari batu, serupa dengan Tiara. Dia berhasil menyunggingkan senyum kilat ketika tatapannya beradu denganku, tapi senyum itu sirna secepat munculnya tadi.


"Ada apa, Din?" tanya Tiara, menanyakan pertanyaan yang ada di benakku.


Dinda menyunggingkan senyum setengah yang tadi diperlihatkannya kepadaku. "Entah apa kalian sudah melihat ini, tapi gue pikir penting bagi kalian berdua untuk melihatnya."


Dia merogoh ke saku rok abu-abunya lalu mengeluarkan kertas terlipat. Penasaran, aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya, namun dia menahannya sesaat, menatapku lekat dengan mata hitam gelapnya.


"Menurut gue tidak usah. Abaikan saja."


Betapa aneh ucapannya. Kalau menurutnya aku sebaiknya mengabaikannya, mengapa dia meminta Tiara membawaku ke toilet untuk menunjukkannya kepadaku? Aku mengambil kertas itu darinya lalu membuka lipatan dan melihat cetakan dari artikel majalah dinding itu. Setelah mengamati lebih dekat, kusadari, dengan kengerian hebat, foto Daddy menciumku berada di tengah-tengahnya.

__ADS_1


......CINTA YANG TAK SEMESTINYA......


Mereka bilang jodoh ada di luar sana untuk semua orang. Tapi bagaimana kalau ia adalah orang terdekat kita? Dan bagaimana kalau sosok itu adalah orang tua yang membesarkan kita?


Seperti banyak wanita, aku percaya cinta sejati. Tapi, aku tak mungkin jatuh cinta pada ayahku sendiri, sekalipun dia bukan ayah kandungku.


Kejora Aditama melakukan itu. Setelah diadopsi dan dibesarkan, dia menjerat ayah angkatnya dalam cinta yang tak masuk akal. Bagaimana mungkin lelaki dewasa itu bisa jatuh cinta pada gadis belia yang dibesarkannya dengan tangannya sendiri? Ini akan menimbulkan komentar-komentar yang lucu di kalangan anak muda.


Orang-orang yang berjiwa romantis mungkin akan berdebat bahwa Ms. Aditama hanya mengikuti kata hatinya dan semua sah dalam cinta. Tapi aku yakin yang dia lakukan membawa pesan yang buruk dan berbahaya bagi para wanita yang ingin memiliki anak adopsi, terutama bagi kaum ayah.


Aku tidak sanggup bernapas. Mataku bolak balik memindai artikel yang menjelek-jelekkan ini, seakan-akan akhirnya ini akan membuat tulisannya pudar. Hinaan menumpuk pada kata-kata umpatan sementara penilaian seseorang yang menulis ini -- mungkin Sandra -- yang mengutuk hidupku berteriak kepadaku dari tiap barisnya. Desir dingin yang membuat mual mencengkeram perutku dan kepalaku terasa berputar-putar sementara kupegangi kertas itu dengan tanganku yang gemetar.


"Ini keterlaluan!" semburku.

__ADS_1


Dinda dan Tiara mengamatiku tak berdaya, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran. "Gue turut menyesal," kata Dinda. "Tapi ini... juga disebarkan secara online." Dinda menyodorkan ponselnya kepadaku -- di bagian kolom komentar hinaan para haters dengan komentarnya yang julid nyelekit yang membuat luka hatiku kian bertambah parah.


Parah sekali mereka. Ada yang berkomentar bahwa aku anak yang saat kecilnya diasuh, setelah besar malah diasah. Kecil dic*bok, setelah besar malah diobok. Kecilnya ditimang-timang, setelah besar dic*pang-c*pang. Kecilnya imut, setelah besar diem*t. Ada pula yang berkomentar bahwa aku anak yang dibesarkan dengan cinta untuk diajak bercinta. Dan, ada pula yang berkomentar tentang kesamaanku, kecil dan besar: selalu diajak main kuda-kudaan. Kemudian ada sebuah pertanyaan: Itu cinta atau balas budi? Memangnya di dunia ini tidak ada lagi wanita dewasa yang pantas dijadikan kekasih? Stoknya masih banyak, Oom!


"Ini akan mempermalukan Daddy." Aku gemetar saat kekuatan penuh akibat tulisan ini menerpaku seperti tanah longsor. Kupejamkan mata sementara air mata mulai membanjir.


Tidak ingin memikirkan ini lebih jauh, benakku beralih memikirkan pengendalian kerusakan. Aku perlu berhenti panik dan berusaha berpikir jernih. Tentu saja, mungkin aku akan menghadapi banyak masalah dengan orang-orang yang mengenalku dan obrolan tak terelakkan yang akan seperti neraka. Aku dapat membayangkan seberapa buruknya ini.


"Gue tahu," kata Dinda. "Tapi setidaknya dengan lu tahu lebih awal, lu bisa menyiapkan mental. Tapi gue yakin, lu gadis yang tangguh. Ada kita berdua di sini."


Tiara mengelus punggungku. "Lu mesti kuat. Jangan biarkan berita murahan ini mengganggu ujian lu nanti. Abaikan saja semua orang. Lu datang ke sekolah minggu depan cuma untuk ujian. Selebihnya tidak perlu dipikirkan. Oke?"


Yeah, aku mengangguk. Aku tahu ini akan memalukan. Mau bagaimana lagi? Artikel murahan ini sudah terlanjur viral. Tapi Daddy pasti akan baik-baik saja. Toh, Daddy bukan publik figur juga bukan pejabat negara. Aku yakin dia tidak akan peduli pada pemberitaan apa pun tentang kami. Sama sepertiku yang hanya memikirkannya, pasti yang akan menjadi beban pikirannya juga tentang aku. Selagi aku baik-baik saja, Daddy juga pasti akan baik-baik saja.

__ADS_1


Percaya itu, Kejora. Semuanya akan baik-baik saja. Kau gadis yang tangguh.


__ADS_2